Emptiness ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

0
149

Emptiness ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Although Siddhartha realized emptiness, emptiness was not manufactured by Siddhartha or anyone else. Emptiness is not the result of his revelation, nor was it developed as a theory to help people be happy.

Whether or not Siddhartha taught it, emptiness has always been emptiness, although paradoxically we can’t even really say that emptiness has always been, because it is beyond time and has no form. Nor should emptiness be interpreted as negation of existence — that is, we can’t say that this relative world doesn’t exist either — because in order to negate something, you have to acknowledge that there is something to negate in the first place.

Emptiness doesn’t cancel out our daily experience. Siddhartha never said that something spectacular, better, purer, or more divine exists in place of what we perceive. He wasn’t an anarchist refuting the appearance or function of worldly existence, either. He didn’t say that there is no appearance of a rainbow or that there is no cup of tea.
We can enjoy our experience, but just because we can experience something doesn’t mean that it truly exists. Siddhartha simply suggested that we examine our experience and consider that it could be just a temporary illusion, like a daydream.

from the book What Makes You Not a Buddhist

Kekosongan ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Meskipun Siddhartha merealisasi kekosongan, kekosongan tidak dihasilkan oleh Siddhartha atau siapapun juga. Kekosongan bukanlah hasil dari penyikapannya, dan juga bukanlah dikembangkan menjadi teori untuk membantu orang menjadi bahagia.

Apakah Siddhartha mengajarinya atau tidak, kekosongan selalu merupakan kekosongan, walaupun secara paradoks kita bahkan tidak dapat benar-benar bisa membahas tentang kekosongan, karena kekosongan melampaui waktu dan bentuk. Kekosongan juga tidak boleh ditafsirkan sebagai negasi keberadaan / eksistensi – dan, kita tidak dapat mengatakan bahwa dunia relatif ini juga tidak ada – karena untuk meniadakan sesuatu, pertama – tama Anda harus mengakui bahwa ada sesuatu yang harus dinegasikan.

Kekosongan tidak meniadakan pengalaman kita sehari-hari. Siddhartha tidak pernah mengatakan bahwa ada sesuatu yang spektakuler, lebih baik, lebih murni, atau lebih ilahi yang bisa kita cerap. Dia bukanlah seorang anarkis yang menolak penampakan atau fungsi eksistensi duniawi. Dia tidak mengatakan bahwa tidak ada penampakan pelangi atau bahwa tidak ada secangkir teh.

Kita tetap bisa menikmati pengalaman kita, tapi hanya karena kita bisa mengalami sesuatu, itu tidak berarti pengalaman itu benar-benar ada. Siddhartha hanya menyarankan agar kita memeriksa pengalaman kita dan menganggap bahwa itu hanya ilusi sementara, seperti sebuah lamunan.

Dari buku What Makes You Not a Buddhist