Buddha, Sang Maha Tercerahkan di seluruh Alam Semesta

0
289

Buddha, Sang Maha Tercerahkan di seluruh Alam Semesta

Master Chen Yen

Buddha rupang dalam mazhab Tzu Chi berbeda dengan Buddha rupang pada umumnya. Sang pembuat, Tang Hui merancangnya sejak tahun 1994, hingga tahun 2001 barulah hasilnya dapat memenuhi harapan Master Cheng Yen, sebab Master mengharapkan kalau Buddha rupang ini harus mampu menampilkan “Buddha zaman moderen” yang sesuai dengan konsep “Agama Buddha Humanis” (ajaran Buddha yang aktif terjun ke berbagai aspek kehidupan).

Sekarang ini, pada setiap kantor Tzu Chi di seluruh dunia dapat dilihat adanya “Gambar Buddha menyucikan bumi dengan siraman air Dharma”: Sang Buddha berdiri di tengah alam semesta, di belakang Sang Buddha ada berlapis-lapis bayangan Buddha yang melambangkan para Buddha dari segala penjuru, semuanya dengan jalan keBuddhaan yang tiada berbeda menyiramkan embun manis pada dunia saha ini. Hati Sang Buddha merasa pilu melihat para makhluk menderita dan tidak tega melihat bumi terluka, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Sang Buddha memandang bumi dengan pandangan penuh belas kasihan, memberi pendampingan, penghiburan dan menyucikan alam manusia ini. Buddha rupang Tzu Chi melambangkan sasaran bersama insan Tzu Chi sedunia, yaitu menyucikan batin manusia.

Buddha rupang dua dimensi ini diselesaikan dalam jangka waktu tujuh tahun, sedangkan Buddha rupang tiga dimensi juga melalui proses pembuatan dan perbaikan berulang kali sampai akhirnya mendapatkan anggukan kepala dari Master, sehingga akhirnya Tzu Chi punya sebuah Buddha rupang dari kristal yang dinamakan “Buddha, Sang Maha Tercerahkan di seluruh Alam Semesta”, tranparan dan jernih tanpa noda.

Master berceramah: “Sang Buddha adalah Sang Maha Tercerahkan di seluruh alam semesta ini, selain mampu ‘menyadarkan diri sendiri’, lebih lanjut juga mampu ‘menyadarkan orang lain’. Sang Buddha bukan saja telah memahami secara jelas akan kebenaran sejati, sifat fisika, psikologi dan fisiologi semua makhluk di dalam alam semesta, terlebih lagi dapat membimbing orang-orang dengan kebenaran sejati ini, sehingga para murid pada generasi selanjutnya dapat terus menerima ajaran sang Buddha dan sampai hari ini masih saja tidak pernah terputuskan. Jadi, Sang Buddha adalah seorang manusia suci yang luar biasa, seorang manusia agung yang melampaui kebijaksanaan duniawi di alam manusia ini.”

Pada tanggal 26 Maret 2006 malam, Master tiba di Kecamatan Lin Yuan Kabupaten Kaohsiung, sebab di sini Tzu Chi memiliki sebuah depo pelestarian lingkungan yang penuh kehangatan dan keindahan, juga berfungsi sebagai tempat pendidikan misi pelestarian lingkungan. Teringat pada hari itu, para warga berkerumun mengelilingi Master, kehangatan mereka membuat wajah Master merah karena kepanasan.

Ketika menapak masuk ke ruang Dharmasala, dalam ruangan kecil ini terpampang sebuah “Gambar Buddha menyucikan bumi dengan siraman air Dharma”, sambil melihat-lihat tanpa terasa langkah kaki Master mendekat ke gambar, lalu dengan lembut mengulurkan tangan untuk menyentuh bumi yang mengasuh semua makhluk.

Agama Buddha Humanis

Master pernah mengatakan, ada orang menganggap Master mendirikan Tzu Chi untuk melakukan “pembaruan”, sebenarnya Master hanya kembali pada semangat di zaman Sang Buddha, jadi adalah sedang “kembali pada masa dulu”. Sang Buddha terlahir ke dunia demi semua makhluk, jadi agama Buddha seharusnya aktif terjun ke berbagai aspek kehidupan manusia.

Master Yinshun menggalakkan “Agama Buddha Humanis”, semangatnya berlandaskan pada naskah “Ekottara Agama Sutra”, yakni “Semua Buddha mencapai keBuddhaan di dunia ini, bukan di alam surga”. Master mendirikan Tzu Chi dengan berpegang pada ajaran Master Yinshun “Berbuat demi agama Buddha dan semua makhluk”, tanpa kenal lelah mendorong “ajaran Buddha harus dipraktekkan dalam keseharian dan Bodhisattva harus manusiawi”, Master berbuat dengan segenap kemampuan demi menyucikan batin manusia dan menciptakan masyarakat yang damai sejahtera.

Pada awal Agustus 2005, Tzu Chi mengadakan “Pelatihan Tanggap Darurat” di seluruh Taiwan, demi mendampingi semua orang, Master berkeliling Taiwan dari Selatan sampai Utara. Saat itu, Buddha rupang kristal sedang dalam tahap uji coba produksi, bertepatan pada saat itu sedang diadakan pameran foto “Mempertahankan Sekejap” yang diadakan oleh saudara sedharma Ruan Yizhong di Pusat Misi Budaya Humanis Tzu Chi.

Pada tanggal 18 hari itu, Master selain meninjau pameran foto, pada saat bersamaan juga memeriksa efek terbaru daripada Buddha rupang kristal. Buddha rupang kristal pada saat itu masih belum dibungkus dan tempat rupang masih terbuka; Master memegang Buddha rupang dengan penuh perhatian, dalam foto terlihat Master sedang menunjuk ke tempat yang sangat jauh.

Foto-foto dalam pameran foto “Mempertahankan Sekejap” telah dicetak menjadi buku, foto yang paling disukai oleh kebanyakan insan Tzu Chi adalah foto bersama daripada Master Yinshun dan Master Cheng Yen. Jasad duniawi Master Yinshun memang telah musnah, namun tubuh Dharma (Dharmakaya) Master Yinshun tetap membimbing para praktisi agama Buddha untuk selama-lamanya — “Orang umumnya belajar pada ajaran Buddha dengan melafal nama Buddha, hanya berpikir untuk nantinya terlahir kembali di alam surga, seakan-akan lebih baik meninggalkan dunia fana ini. Tetapi belajar ajaran Buddha yang sebenarnya adalah harus mengembangkan makna sebenarnya dari ajaran Buddha: pada ketika ini juga, pada dunia ini dan umat manusia yang sekarang ada. Dalam mengembangkan ajaran Buddha, jangan lupa pada tempat ini, dunia ini, juga harus disesuaikan dengan kondisi setiap orang, harus memberi manfaat pada semua makhluk. Di dunia ini tiada seorang pun yang bisa hidup sendirian, pasti ada hubungan dengan orang lain, maka dalam belajar ajaran Buddha, bukan saja harus bermanfaat bagi diri sendiri, juga harus memberi manfaat bagi banyak orang.” Tzu Chi telah memasuki tahun ke-45; ini adalah hal yang hendak diperbuat oleh Master setiap hari bersama dengan para murid di seluruh dunia.

Sebagai Seorang Murid Buddha

Membuat Buddha rupang dua dimensi menjadi tiga dimensi merupakan sebuah tantangan. Para spesialis dari berbagai bidang ikut terjun berpartisipasi dalam memilih materi Buddha rupang, selain kristal lazuri, juga ada ukiran tembaga, tanah liat, keramik dan sebagainya, setiap jenis Buddha rupang ada kelebihannya. Buddha rupang yang dilihat oleh Master di Aula Jingsi (Jingsitang) Hualien ini adalah hasil karya Huang Yangming, guru yang mengajar Bhikkhuni De Ci dalam pembuatan keramik.

Karya ini sangat cerdik sekali, bumi yang dipegang oleh bidadari bukan saja bisa berputar, juga bisa bersinar. Begitu daya listrik dihidupkan, titik-titik cahaya dalam jumlah tak terhingga akan terpancar keluar dari bumi ini, bagaikan bintang-bintang tak terhingga bertaburan di udara bebas. Ketika Master memeriksa wajah Buddha rupang, banyak cahaya kuning dari Buddha rupang terpancar pada jubah Master, satu demi satu lingkaran terbang melewati; semua orang mendercak kagum, sifat kekanak-kanakan Master juga timbul jadinya, Master terus berkata “Seperti walet kecil saja”.

Master sering memberi bimbingan kepada para murid, berkeyakinan pada ajaran Buddha dan sebagai murid Buddha, kita tidak boleh mendewa-dewakan Sang Buddha, tidak boleh memohon kepada Sang Buddha bagaikan memohon kepada para dewa. Sang Buddha adalah seorang mulia, bukan dewa; kebijaksanaan, keuletan dan keberanian Sang Buddha telah melebihi alam manusia, adalah seorang pendidik besar dengan kebijaksanaan sejati. Dalam kata pengantar ketika membabarkan “Bodhi-paksika Dharma”, Master menyampaikan: “Orang biasa yang belajar pada keteladanan Buddha juga bisa mencapai keBuddhaan, hanya saja tekadnya kurang kokoh, keuletan dan keyakinan diri juga tidak cukup. Jika bisa memiliki keyakinan diri, keuletan dan keberanian kokoh sebagaimana Buddha, setiap orang juga bisa menjadi orang mulia atau Buddha. Kita sebagai murid Buddha, jangan percaya pada ketakhayulan, kita harus memiliki kepercayaan yang bijak. Maksud dari ‘kepercayaan’ adalah memilih pikiran dan pandangan sesuai dengan kebenaran sejati dari Sang Buddha, terhadap lingkungan luar tanpa pamrih, diri sendiri juga harus bersumbangsih.”

Hari ketika Master melihat Buddha rupang adalah tanggal 18 September 2005 bertepatan dengan Hari Perayaan Tiongchiu, Dharmaloka di Aula Jingsi dipenuhi oleh seribuan anggota TIMA yang sedang mendengarkan laporan kerja dari masing-masing negara.

Di setiap pelosok dunia ada berapa banyak insan Tzu Chi yang mengikuti ajaran Master, dengan segenap kehidupan mereka menciptakan jejak cinta kasih yang menggugah hati? Semua orang ini, semua perbuatan mereka, bagaikan walet kecil yang bersinar terang, terbang ke dalam kehidupan kita dan berdiam di dalam lahan batin kita, membuat hati kita terharu dan merasa malu, juga membuat antara sesama kita saling berterima kasih, menghormati dan mengasihi, untuk itu kita insan Tzu Chi harus merubahnya menjadi kerja keras dalam mewariskan intisari ajaran Tzu Chi.

Pendidikan paling lugas dan sederhana

Master mengatakan, setiap orang memiliki sifat Buddha, juga memiliki kemampuan terpendam yang melimpah, maka kita harus terus mengembangkan kemampuan diri dan bersumbangsih dengan kekuatan sendiri. “Ketika martabat manusia terbentuk, martabat Buddha juga terbentuk”; Sang Buddha terlahir ke dunia bukan untuk mengajarkan manusia agar meninggalkan sifat-sifat manusiawi, tetapi mengajarkan kita agar dapat menghilangkan tabiat buruk dan kembali pada sifat Buddha yang jernih. Jika kita sudah mendapatkan Dharma baik dan timbul perasaan suka cita, berhati-hatilah dalam memilih Dharma yang benar dan simpankan dalam batin, disertai tekad kokoh tanpa kenal mundur dan batin tidak kenal bosan, sehingga kita dapat bersuka cita dalam Dharma setiap hari.

“Ajaran Buddha adalah ajaran yang paling lugas dan sederhana dalam kehidupan, Sang Buddha mengajarkan agar kita mengurangi keinginan dan tahu berpuas diri, menerima ketidak sepahaman dengan pikiran terbuka, mengasuh kepribadian demi menghadapi orang dan benda. Setiap kelakuan kita dalam keseharian, jika sesuai dengan prinsip kebenaran, maka tidak akan menimbulkan kerisauan, bahkan menimbulkan perasaan suka cita. Jika berada di pihak yang benar namun tidak mau mengalah, melekat pada aturan semata, tidak mau tahu perasaan orang, maka kita akan terjerumus ke jalan yang salah.”

Master berceramah, dalam belajar ajaran Buddha harus memperhatikan prinsip kebenaran, menaruh perhatian pada orang dan masalah, prinsip kebenaran dan masalah orang harus selaras. Harus mementingkan semua makhluk, tanpa memperhitungkan keuntungan atau kerugian diri sendiri, kita menempa diri dalam hubungan orang dan masalah dalam keseharian, juga memberi manfaat pada orang banyak, barulah merupakan semangat belajar ajaran Buddha yang sesungguhnya.

Buddha rupang kristal “Buddha, Sang Maha Tercerahkan di seluruh Alam Semesta” sangat tranparan, jernih tanpa cacat sedikit pun, ini merupakan tingkatan pencapaian yang diidamkan oleh insan Tzu Chi. Jika ingin menampilkan foto Buddha rupang yang sedemikan indah ini dengan jelas sekali, bukanlah hal mudah bagi seorang fotografer, sebab kristal lazuri tidak berwarna dan transparan, hanya bisa dilakukan dengan mengambil bias cahaya antara Buddha rupang dengan lingkungan sekitar, barulah bisa jelas ditampilkan. Artinya semakin gelap lingkungan sekitarnya, Buddha rupang akan semakin terang, melambangkan “semakin sulit kondisinya, semakin besar kesempatan kita untuk membangkitkan sifat Buddha”. Inilah harapan Master terhadap kita semua sebagai muridnya.

Master Yinshun juga berpesan pada insan Tzu Chi: “Berangkat dari hati welas asih, harus memberikan berbagai macam bantuan amal tanpa memikirkan kepentingan sendiri. Jika seseorang berbuat hanya demi memohon berkah pahala, ini adalah tindakan sangat egois, pemahamannya terhadap ajaran Buddha juga sangat dangkal. Bukan saja harus memberi manfaat pada orang lain, diri kita sendiri juga harus membersihkan jiwa raga, mengurangi kerisauan, giat melatih diri berdasarkan urutan sila, samadhi dan kebijaksanaan demi membangkitkan kebijaksanaan diri.” Sulit untuk terlahirkan sebagai manusia, sulit untuk berkesempatan mendengarkan Dharma, juga sulit untuk menemukan guru bijak; ketika sudah berkesempatan untuk mempraktekkan ajaran Buddha dibawah bimbingan Master, ini adalah keberkahan terbesar bagi insan Tzu Chi, mengapa kita semua tidak baik-baik mencengkam jalinan jodoh ini? Walau disebutkan kehidupan ini penuh dengan ketidak kekalan, namun sebagaimana diwejangkan oleh Master Yinshun: “Sesudah terlahir, memang akhirnya juga akan mati, namun bukan berarti kalau diri kita ini tidak ada.”
Diterjemahkan oleh Januar T Tambera.