The clarity aspect ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

0
86

The clarity aspect ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

You could say that when Nagarjuna explains the Prajnaparamita, he concentrates more on its empty aspect, whereas when Maitreya explains the same thing he concentrates more on the “-ness” aspect. This “-ness” is buddhanature. You might wonder why the Buddha taught in the sutras that all phenomena are like clouds—unstable, naturally illusory, and empty. Why is it that even though we can experience them, they are without essence, like a dream or mirage?

Why is all this taught as emptiness in the Madhyamaka teachings and the Prajnaparamita Sutras? And as Mipham Rinpoche’s commentary on the Uttaratantra Shastra asks, why in this third turning of the wheel of dharma does the Buddha say that this buddhanature exists within all sentient beings? Isn’t that a contradiction? Furthermore, since buddhanature is very difficult to understand, even for sublime beings who are on the path, why is it taught here for ordinary beings? Let’s go to Maitreya’s text:

He had taught in various places that every knowable thing is ever void, like a cloud, a dream, or an illusion. Then why did the Buddha declare the essence of buddhahood to be there in every sentient being? (Stanza 156)

First of all, there is no contradiction between the second turning of the wheel of the dharma, where the Buddha taught that everything is emptiness, and the third turning of the wheel, where the Buddha taught that all sentient beings have buddhanature. In the Prajnaparamita Sutras of the second turning, the Buddha emphasizes that nothing is truly existent. So here, when Buddha says there is buddhanature, he isn’t saying that buddhanature truly exists. Rather, he is emphasizing its clarity aspect. When we talk about the union of clarity and emptiness, it’s important that we understand both aspects, not only the emptiness aspect.

 

source: https://www.lionsroar.com/the-clarity-aspect/

 

Aspek kejernihan ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Anda bisa mengatakan bahwa ketika Nagarjuna menjelaskan Prajnaparamita, dia lebih fokus pada aspek empty / kosong, sedangkan ketika Maitreya menjelaskan hal yang sama, dia lebih fokus pada aspek “-ness”. “Ness” ini adalah buddhanature / hakikat kebuddhaan. Anda mungkin bertanya-tanya mengapa Sang Buddha mengajarkan di dalam sutra bahwa semua fenomena itu seperti awan – tidak stabil, ilusi, dan kosong. Mengapa meskipun kita bisa mengalaminya, mereka tanpa esensi, seperti mimpi atau fatamorgana?

Mengapa semua ini diajarkan sebagai kekosongan / emptiness dalam ajaran Madhyamaka dan Sutra Prajnaparamita? Dan seperti komentar Mipham Rinpoche di Uttaratantra Shastra, mengapa dalam pemutaran roda dharma yang ketiga ini, Buddha mengatakan bahwa buddhanature / hakikat kebuddhaan ini ada di dalam semua makhluk hidup? Bukankah itu sebuah kontradiksi? Lebih jauh lagi, karena buddhanature / hakikat kebuddhaan sangat sulit dipahami, bahkan bagi makhluk agung yang sedang menapaki “Jalur”, mengapa topik ini diajarkan di sini untuk makhluk biasa? Mari kita lihat ke teks Maitreya:

Dia telah mengajar di berbagai tempat bahwa setiap hal yang dapat diketahui itu adalah kosong, seperti awan, mimpi, atau ilusi. Lalu mengapa Sang Buddha menyatakan semua makhluk memiliki hakikat kebuddhaan? (Stanza 156)

Pertama-tama, tidak ada kontradiksi antara pemutaran roda dharma kedua, di mana Sang Buddha mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah kekosongan, dan pemutaran roda dharma ketiga, di mana Sang Buddha mengajarkan bahwa semua makhluk hidup memiliki hakikat kebuddhaan. Dalam Sutra Prajnaparamita pada pemutaran roda dharma kedua, Sang Buddha menekankan bahwa tidak ada hal yang punya eksistensi diri. Jadi di sini, ketika Buddha mengatakan bahwa ada buddhanature, dia tidak mengatakan bahwa buddhanature benar-benar ada. Sebaliknya, dia menekankan aspek kejernihannya. Ketika kita berbicara tentang penyatuan kejeernihan dan kekosongan, penting bagi kita untuk memahami kedua aspek tersebut, tidak hanya aspek kekosongan saja.

Sumber: https://www.lionsroar.com/the-clarity-aspect/