Dhātuvibhanga Sutta (Penjelasan tentang Unsur-Unsur) MN 140

0
8
Buddha
Buddha

Majjhima Nikāya

140. Dhātuvibhanga Sutta

Penjelasan tentang Unsur-Unsur

Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang mengembara di negeri Magadha dan akhirnya sampai di Rājagaha. Di sana Beliau mendatangi pengrajin tembikar Bhaggava dan berkata kepadanya:

“Jika tidak menyusahkanmu, Bhaggava, Aku akan bermalam satu malam di rumah kerjamu.”

“Sama sekali tidak menyusahkan bagiku, Yang Mulia, tetapi ada petapa lain yang telah berdiam di sini. Jika ia setuju, maka silahkan tinggal selama yang Engkau kehendaki, Yang Mulia.”

Pada saat itu seorang anggota keluarga bernama Pukkusāti yang telah meninggalkan keduniawian karena keyakinan pada Sang Bhagavā dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan pada saat itu ia telah mendiami rumah kerja si pengrajin tembikar. Kemudian Sang Bhagavā mendatangi Yang Mulia Pukkusāti dan berkata kepadanya: “Jika tidak menyusahkanmu, Bhikkhu, Aku akan bermalam satu malam di rumah kerja ini.”

“Rumah kerja pengrajin tembikar ini cukup luas, Sahabat. Silahkan Yang Mulia tinggal selama yang Beliau kehendaki.”

Kemudian Sang Bhagavā memasuki rumah kerja si pengrajin tembikar, mempersiapkan hamparan rumput di satu sudut, dan duduk bersila, menegakkan tubuhNya, dan menegakkan perhatian di depanNya. Kemudian Sang Bhagavā melewatkan hampir semalam suntuk dengan duduk bermeditasi, dan Yang Mulia Pukkusāti juga melewatkan hampir semalam suntuk dengan duduk bermeditasi. Kemudian Sang Bhagavā berpikir: “Orang ini berperilaku sedemikian sehingga membangkitkan keyakinan. Bagaimana jika Aku menanyainya.” Maka Beliau bertanya kepada Yang Mulia Pukkusāti:

“Di bawah siapakah engkau meninggalkan keduniawian, Bhikkhu? Siapakah gurumu? Dhamma siapakah yang engkau anut?”

“Sahabat, ada Petapa Gotama, putera Sakya yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya. Sekarang berita baik sehubungan dengan Gotama yang Terberkahi itu telah menyebar sebagai berikut: ‘Bahwa Sang Bhagavā sempurna, telah tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingnya bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan, terberkahi.’ Aku meninggalkan keduniawian di bawah Sang Bhagavā itu; Sang Bhagavā adalah guruku; aku menganut Dhamma dari Sang Bhagavā itu.”

“Tetapi, Bhikkhu, di manakah Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna itu menetap sekarang?”

“Ada, Sahabat, sebuah kota di negeri utara bernama Sāvatthī. Sang Bhagavā, yang sempurna dan tercerahkan sempurna itu menetap di sana sekarang.”

“Tetapi, Bhikkhu, pernahkah engkau bertemu Sang Bhagavā itu sebelumnya? Apakah engkau mengenaliNya jika engkau bertemu denganNya?”

“Tidak, Sahabat, aku belum pernah bertemu Sang Bhagavā itu sebelumnya, juga tidak akan mengenaliNya jika aku bertemu denganNya.”

Kemudian Sang Bhagavā berpikir: “Orang ini telah meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah di bawahKu. Bagaimana jika aku mengajarkan Dhamma kepadanya.” Maka Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Pukkusāti sebagai berikut: “Bhikkhu, Aku akan mengajarkan Dhamma kepadamu. Dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”—“Baik, Sahabat,” Yang Mulia Pukkusāti menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Bhikkhu, manusia ini terdiri dari enam unsur, enam landasan kontak, dan delapan belas jenis eksplorasi pikiran, dan ia memiliki empat landasan. Arus pasang penganggapan tidak menyapu seseorang yang berdiri di atas landasan-landasan ini, dan ketika arus pasang penganggapan tidak lagi menyapunya maka ia disebut seorang bijaksana damai. Seseorang seharusnya tidak melalaikan kebijaksanaan, seharusnya melestarikan kebenaran, seharusnya melatih pelepasan, dan seharusnya berlatih demi kedamaian. Ini adalah ringkasan penjelasan enam unsur.

“‘Bhikkhu, manusia ini terdiri dari enam unsur.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan? Ada unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur udara, unsur ruang, dan unsur kesadaran. Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘ Bhikkhu, manusia ini terdiri dari enam unsur.’

“‘Bhikkhu, manusia ini terdiri dari enam landasan kontak.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan? Ada landasan kontak-mata, landasan kontak-telinga, landasan kontak-hidung, landasan kontak-lidah, landasan kontak-badan, landasan kontak-pikiran. Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘ Bhikkhu, manusia ini terdiri dari enam landasan kontak.’

“‘Bhikkhu, manusia ini terdiri dari delapan belas jenis eksplorasi pikiran.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan? Ketika melihat bentuk dengan mata, seseorang mengeksplorasi bentuk yang menghasilkan kegembiraan, ia mengeksplorasi bentuk yang menghasilkan kesedihan, ia mengeksplorasi bentuk yang menghasilkan keseimbangan. Ketika mendengar suara dengan telinga … Ketika mencium bau-bauan dengan hidung … Ketika mengecap rasa kecapan dengan lidah … Ketika menyentuh objek sentuhan dengan badan … Ketika mengenali objek pikiran dengan pikiran, suatu bentuk dengan mata, seseorang mengeksplorasi bentuk yang menghasilkan kegembiraan, ia k-badan, landasan koseseorang mengeksplorasi objek pikiran yang menghasilkan kegembiraan, ia mengeksplorasi objek pikiran yang menghasilkan kesedihan, ia mengeksplorasi objek pikiran yang menghasilkan keseimbangan. Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘ Bhikkhu, manusia ini terdiri dari delapan belas jenis eksplorasi pikiran.’

“‘Bhikkhu, manusia ini memiliki empat landasan.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan? Ada landasan kebijaksanaan, landasan kebenaran, landasan pelepasan, dan landasan kedamaian. Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘ Bhikkhu, manusia ini memiliki empat landasan.’

“‘Seseorang seharusnya tidak melalaikan kebijaksanaan, seharusnya melestarikan kebenaran, seharusnya melatih pelepasan, dan seharusnya berlatih demi kedamaian.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Bagaimanakah, Bhikkhu, seseorang tidak melalaikan kebijaksanaan? Ada enam unsur ini: unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur udara, unsur ruang, dan unsur kesadaran.

“Apakah, Bhikkhu, unsur tanah? Unsur tanah dapat berupa internal maupun eksternal. Apakah unsur tanah internal? Apapun yang internal, bagian dari diri sendiri, padat, keras, dan dilekati; yaitu rambut-kepala, bulu-badan, kuku, gigi, kulit, daging, urat, tulang, sumsum, ginjal, jantung, hati, sekat rongga dada, limpa, paru-paru, usus, selaput pengikat organ dalam tubuh, isi perut, tinja, atau apapun lainnya yang internal, bagian dari diri sendiri, padat, keras, dan dilekati: ini disebut unsur tanah internal. Sekarang baik unsur tanah internal maupun unsur tanah eksternal adalah unsur tanah. Dan itu harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Ketika seseorang melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar, ia menjadi kecewa dengan unsur tanah dan menjadikan pikirannya bosan terhadap unsur tanah.

“Apakah, Bhikkhu, unsur air? Unsur air dapat berupa internal maupun eksternal. Apakah unsur air internal? Apapun yang internal, bagian dari diri sendiri, air, basah, dan dilekati; yaitu cairan empedu, dahak, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, minyak, ludah, ingus, cairan sendi, air kencing, atau apapun lainnya yang internal, bagian dari diri sendiri, air, basah, dan dilekati: ini disebut unsur air internal. Sekarang baik unsur air internal maupun unsur air eksternal adalah unsur air. Dan itu harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Ketika seseorang melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar, ia menjadi kecewa dengan unsur air dan menjadikan pikirannya bosan terhadap unsur air.

“Apakah, Bhikkhu, unsur api? Unsur api dapat berupa internal maupun eksternal. Apakah unsur api internal? Apapun yang internal, bagian dari diri sendiri, api, panas, dan dilekati; yaitu yang dengannya seseorang menjadi hangat, menua, dan terhabiskan, dan yang dengannya apa yang dimakan, diminum, dikonsumsi, dan dikecap sepenuhnya dicerna, atau apapun lainnya yang internal, bagian dari diri sendiri, api, panas, dan dilekati: ini disebut unsur api internal. Sekarang baik unsur api internal maupun unsur api eksternal adalah unsur api. Dan itu harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Ketika seseorang melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar, ia menjadi kecewa dengan unsur api dan menjadikan pikirannya bosan terhadap unsur api.

“Apakah, Bhikkhu, unsur udara? Unsur udara dapat berupa internal maupun eksternal. Apakah unsur udara internal? Apapun yang internal, bagian dari diri sendiri, udara, berangin, dan dilekati; yaitu udara yang naik ke atas, udara yang turun ke bawah, udara dalam perut, udara dalam usus, udara yang mengalir melalui bagian-bagian tubuh, nafas masuk, nafas keluar, atau apapun lainnya yang internal, bagian dari diri sendiri, udara, berangin, dan dilekati: ini disebut unsur udara internal. Sekarang baik unsur udara internal maupun unsur udara eksternal adalah unsur udara. Dan itu harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Ketika seseorang melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar, ia menjadi kecewa dengan unsur udara dan menjadikan pikirannya bosan terhadap unsur udara.

“Apakah, Bhikkhu, unsur ruang? Unsur ruang dapat berupa internal maupun eksternal. Apakah unsur ruang internal? Apapun yang internal, bagian dari diri sendiri, ruang, berongga, dan dilekati, yaitu, lubang telinga, lubang hidung, pintu mulut, dan celah di mana apa yang dimakan, diminum, dikonsumsi, dan dikecap tertelan, dan di mana benda-benda itu terkumpul, dan di mana benda-benda itu keluar dari bawah, atau apapun lainnya yang internal, bagian dari diri sendiri, ruang, berongga, dan dilekati: ini disebut unsur ruang internal. Sekarang baik unsur ruang internal maupun unsur ruang eksternal adalah unsur ruang. Dan itu harus dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar sebagai berikut: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’ Ketika seseorang melihatnya sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan benar, ia menjadi kecewa dengan unsur ruang dan menjadikan pikirannya bosan terhadap unsur ruang.

“Maka di sana hanya tersisa kesadaran, yang murni dan cerah. Apakah yang dikenali seseorang pada kesadaran itu? Ia mengenali: ‘Ini adalah menyenangkan’; ia mengenali: ‘Ini adalah menyakitkan’; ia mengenali: ‘Ini adalah bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan.’ Dengan bergantung pada suatu kontak yang dirasakan sebagai menyenangkan maka muncul perasaan menyenangkan. Ketika seseorang merasakan suatu perasaan menyenangkan, ia memahami: ‘Aku merasakan perasaan menyenangkan.’ Ia memahami: ‘Dengan lenyapnya kontak yang sama ini yang dirasakan sebagai menyenangkan, maka perasaan yang bersesuaian itu—perasaan menyenangkan yang muncul dengan bergantung pada kontak yang dirasakan sebagai menyenangkan—juga lenyap dan sirna.’ Dengan bergantung pada suatu kontak yang dirasakan sebagai menyakitkan maka muncul perasaan menyakitkan. Ketika seseorang merasakan suatu perasaan menyakitkan, ia memahami: ‘Aku merasakan perasaan menyakitkan.’ Ia memahami: ‘Dengan lenyapnya kontak yang sama ini yang dirasakan sebagai menyakitkan, maka perasaan yang bersesuaian itu—perasaan menyakitkan yang muncul dengan bergantung pada kontak yang dirasakan sebagai menyakitkan—juga lenyap dan sirna.’ Dengan bergantung pada suatu kontak yang dirasakan sebagai bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan maka muncul perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan. Ketika seseorang merasakan suatu perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, ia memahami: ‘Aku merasakan perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan.’ Ia memahami: ‘Dengan lenyapnya kontak yang sama ini yang dirasakan sebagai bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, maka perasaan yang bersesuaian itu—perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan—yang muncul dengan bergantung pada kontak yang dirasakan sebagai bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan—juga lenyap dan sirna.’ Bhikkhu, seperti halnya dari kontak dan gesekan kedua batang kayu-api maka panas dan api dihasilkan, dan dengan terpisahnya dan terlepasnya kedua kayu-api ini maka panas yang dihasilkan itu juga lenyap dan sirna; demikian pula, dengan bergantung pada kontak yang dirasakan sebagai menyenangkan … yang dirasakan sebagai menyakitkan … yang dirasakan sebagai bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan maka muncul perasaan bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan … Ia memahami: ‘Dengan lenyapnya kontak yang sama ini yang dirasakan sebagai bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, maka perasaan yang bersesuaian itu … juga lenyap dan sirna.’

“Kemudian di sana hanya tersisa keseimbangan, yang murni dan cerah, lunak, lentur, dan bersinar. Misalkan, Bhikkhu, seorang pengrajin emas yang terampil atau muridnya mempersiapkan sebuah tungku, memanaskan wadah, mengambil sejumlah emas dengan penjepit, dan memasukkannya ke dalam wadah. Dari waktu ke waktu ia meniupnya, dari waktu ke waktu ia memercikkan air ke atasnya, dan dari waktu ke waktu ia hanya melihatnya. Emas itu akan menjadi murni, lebih murni, dan sangat murni, tanpa cacat, bebas dari kotoran-kotoran logam, lunak, lentur, dan bersinar. Kemudian jenis perhiasan apapun yang ingin ia buat dari emas itu, apakah rantai emas atau anting-anting, atau kalung, atau kalung-bunga emas, maka keinginannya akan terpenuhi. Demikian pula, Bhikkhu, kemudian di sana hanya tersisa keseimbangan, yang murni dan cerah, lunak, lentur, dan bersinar.

“Ia memahami sebagai berikut: ‘Jika aku mengarahkan keseimbangan ini, yang murni dan cerah, pada landasan ruang tanpa batas dan mengembangkan pikiranku sesuai itu, maka keseimbanganku ini, dengan didukung oleh landasan itu, dengan melekat pada landasan itu, akan menetap di sana untuk waktu yang lama. Jika aku mengarahkan keseimbangan ini, yang murni dan cerah, pada landasan kesadaran tanpa batas … … pada landasan kekosongan … pada landasan bukan-persepsi juga bukan bukan-persepsi, maka keseimbanganku ini, dengan didukung oleh landasan itu, dengan melekat pada landasan itu, akan menetap di sana untuk waktu yang lama.’

“Ia memahami sebagai berikut: ‘Jika aku mengarahkan keseimbangan ini, yang murni dan cerah, pada landasan ruang tanpa batas dan mengembangkan pikiranku sesuai itu, maka ini adalah terkondisi. Jika aku mengarahkan keseimbangan ini, yang murni dan cerah, pada landasan kesadaran tanpa batas … pada landasan kekosongan … pada landasan bukan-persepsi juga bukan bukan-persepsi dan mengembangkan pikiranku sesuai itu, maka ini adalah terkondisi.’ Ia tidak membentuk kondisi apapun atau menghasilkan kehendak apapun yang condong mengarah baik pada penjelmaan ataupun pada tanpa-penjelmaan. Karena ia tidak membentuk kondisi apapun atau menghasilkan kehendak apapun yang condong mengarah baik pada penjelmaan ataupun pada tanpa-penjelmaan, maka ia tidak melekat pada apapun di dunia ini. Ketika ia tidak melekat, ia tidak bergejolak. Ketika ia tidak bergejolak, ia secara pribadi mencapai Nibbāna. Ia memahami sebagai berikut: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’

“Jika ia merasakan suatu perasaan yang menyenangkan, ia memahami: ‘Ini tidak kekal; tidak ada yang bisa digenggam padanya; tidak ada kesenangan di dalamnya.’ Jika ia merasakan suatu perasaan yang menyakitkan, ia memahami: ‘Ini tidak kekal; tidak ada yang bisa digenggam padanya; tidak ada kesenangan di dalamnya.’ Jika ia merasakan perasaan yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, ia memahami: ‘Ini tidak kekal; tidak ada yang bisa digenggam padanya; tidak ada kesenangan di dalamnya.’

“Jika ia merasakan suatu perasaan yang menyenangkan, ia merasakannya tanpa terikat; jika ia merasakan suatu perasaan yang menyakitkan, ia merasakannya tanpa terikat; jika ia merasakan perasaan yang bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, ia merasakannya tanpa terikat. Ketika ia merasakan perasaan yang berujung pada berhentinya jasmani, ia memahami: ‘Aku merasakan perasaan yang berujung pada berhentinya jasmani.’ Ketika ia merasakan perasaan yang berujung pada berhentinya kehidupan, ia memahami: ‘Aku merasakan perasaan yang berujung pada berhentinya kehidupan.’ Ia memahami: ‘Ketika hancurnya jasmani, dengan berakhirnya kehidupan, semua yang dirasakan, karena tidak disenangi, akan menjadi dingin di sini.’ Bhikkhu, seperti halnya lampu minyak yang membakar dengan bergantung pada minyak dan sumbu, dan ketika minyak dan sumbunya habis, jika lampu itu tidak mendapatkan bahan bakar lagi, maka lampu itu akan padam karena kekurangan bahan bakar; demikian pula, ketika ia merasakan perasaan yang berujung pada berhentinya jasmani … perasaan yang berujung pada berhentinya kehidupan, ia memahami: ‘Aku merasakan perasaan yang berujung pada berhentinya kehidupan.’ Ia memahami: ‘Ketika hancurnya jasmani, dengan berakhirnya kehidupan, semua yang dirasakan, karena tidak disenangi, akan menjadi dingin di sini.’

“Oleh karena itu seorang bhikkhu yang memiliki kebijaksanaan ini memiliki landasan kebijaksanaan tertinggi. Karena ini, Bhikkhu, adalah kebijaksanaan mulia tertinggi, yaitu, pengetahuan hancurnya segala penderitaan.

“Kebebasannya, karena didirikan di atas kebenaran, adalah tidak tergoyahkan. Karena itu adalah salah, Bhikkhu, yang memiliki sifat menipu, dan itu adalah benar, yang memiliki sifat tidak menipu—Nibbāna. Oleh karena itu seorang bhikkhu yang memiliki kebenaran ini memiliki landasan kebenaran yang tertinggi. Karena ini, Bhikkhu, adalah kebenaran mulia tertinggi, yaitu, Nibbāna, yang memiliki sifat tidak menipu.

“Sebelumnya, ketika ia bodoh, ia menjalani dan menerima perolehan; sekarang ia telah meninggalkannya, memotongnya di akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya sehingga tidak mungkin muncul kembali di masa depan. Oleh karena itu seorang bhikkhu yang memiliki pelepasan ini memiliki landasan pelepasan yang tertinggi. Karena ini, Bhikkhu, adalah pelepasan mulia yang tertinggi, yaitu, pelepasan segala perolehan.

“Sebelumnya, ketika ia bodoh, ia mengalami ketamakan, keinginan, dan nafsu; sekarang ia telah meninggalkannya, memotongnya di akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya sehingga tidak mungkin muncul kembali di masa depan. Sebelumnya, ketika ia bodoh, ia mengalami kemarahan, permusuhan, dan kebencian; sekarang ia telah meninggalkannya, memotongnya di akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya sehingga tidak mungkin muncul kembali di masa depan. Sebelumnya, ketika ia bodoh, ia mengalami ketidak-tahuan dan delusi; sekarang ia telah meninggalkannya, memotongnya di akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya sehingga tidak mungkin muncul kembali di masa depan. Oleh karena itu seorang bhikkhu yang memiliki kedamaian ini memiliki landasan kedamaian yang tertinggi. Karena ini, Bhikkhu, adalah kedamaian mulia yang tertinggi, yaitu, damainya nafsu, kebencian, dan delusi.

“Adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘ Seseorang seharusnya tidak melalaikan kebijaksanaan, seharusnya melestarikan kebenaran, seharusnya melatih pelepasan, dan seharusnya berlatih demi kedamaian.’

“‘Arus pasang penganggapan tidak menyapu seseorang yang berdiri di atas landasan-landasan ini, dan ketika arus pasang penganggapan tidak lagi menyapunya maka ia disebut seorang bijaksana damai.’ Demikianlah dikatakan. Dan sehubungan dengan apakah hal ini dikatakan?

“Bhikkhu, ‘aku’ adalah anggapan; ‘aku adalah ini’ adalah anggapan; ‘aku akan menjadi’ adalah anggapan; ‘aku tidak akan menjadi’ adalah anggapan; ‘aku akan memiliki bentuk’ adalah anggapan; ‘aku akan tidak memiliki bentuk’ adalah anggapan; ‘aku akan memiliki persepsi’ adalah anggapan; ‘aku akan tidak memiliki persepsi’ adalah anggapan; ‘aku akan bukan memiliki juga bukan tidak memiliki persepsi’ adalah anggapan. Anggapan adalah penyakit, anggapan adalah tumor, anggapan adalah anak panah. Dengan mengatasi segala anggapan, Bhikkhu, maka seseorang disebut seorang bijaksana damai. Dan sang bijaksana damai itu tidak dilahirkan, tidak menua, tidak mati; ia tidak tergoyahkan dan tidak merindukan. Karena tidak ada apapun padanya yang dengannya ia dapat terlahir. Karena tidak terlahir, bagaimana mungkin ia dapat menjadi tua? Karena tidak menjadi tua, bagaimana mungkin ia mati? Karena tidak mati, bagaimana mungkin ia dapat tergoyahkan? Karena tidak tergoyahkan, mengapa ia harus merindukan?

“Maka adalah sehubungan dengan hal ini maka dikatakan: ‘ Arus pasang penganggapan tidak menyapu seseorang yang berdiri di atas landasan-landasan ini, dan ketika arus pasang penganggapan tidak lagi menyapunya maka ia disebut seorang bijaksana damai.’ Bhikkhu, ingatlah penjelasan singkat tentang enam unsur ini.”

Pada saat itu Yang Mulia Pukkusāti berpikir: “Sungguh, Sang Guru telah mendatangiku! Yang Sempurna telah mendatangiku! Yang Tercerahkan Sempurna telah mendatangiku!” Kemudian ia bangkit dari duduknya dan merapikan jubahnya di salah satu bahunya, dan bersujud dengan kepalanya di kaki Sang Bhagavā, ia berkata: “Yang Mulia, suatu pelanggaran menguasaiku, karena bagaikan seorang dungu, bingung dan bodoh, aku menyapa Sang Bhagavā sebagai ‘Sahabat.’ Yang Mulia, sudilah Sang Bhagavā memaafkan pelanggaranku yang terlihat demikian demi pengendalian di masa depan.”

“Tentu saja, Bhikkhu, suatu pelanggaran menguasaimu, karena bagaikan seorang dungu, bingung dan bodoh, engkau menyapaKu sebagai ‘Sahabat.’ Tetapi karena engkau melihat pelanggaranmu demikian dan melakukan perbaikan sesuai Dhamma, maka kami memaafkan engkau. Karena adalah kemajuan dalam Disiplin Para Mulia ketika seseorang melihat pelanggarannya demikian, melakukan perbaikan sesuai Dhamma, dan menjalani pengendalian di masa depan.”

“Yang Mulia, aku ingin menerima penahbisan penuh di bawah Sang Bhagavā.”

“Tetapi apakah mangkuk dan jubahmu sudah lengkap, Bhikkhu?”

“Yang Mulia, mangkuk dan jubahku masih belum lengkap.”

“Bhikkhu, Para Tathāgata tidak memberikan penahbisan penuh kepada siapapun yang mangkuk dan jubahnya belum lengkap.”

Kemudian Yang Mulia Pukkusāti, dengan merasa senang dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya, dan setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, dengan Beliau tetap berada di sisi kanannya, ia pergi untuk mencari mangkuk dan jubah. Kemudian, sewaktu Yang Mulia Pukkusāti sedang mencari mangkuk dan jubahnya, seekor sapi yang berkeliaran membunuhnya.

Kemudian sejumlah bhikkhu mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, mereka duduk di satu sisi dan memberitahu Beliau: “Yang Mulia, anggota keluarga Pukkusāti, yang telah menerima instruksi singkat dari Sang Bhagavā, telah meninggal dunia. Di manakah alam tujuan kelahirannya? Bagaimanakah perjalanannya di masa depan?”

“Para bhikkhu, anggota keluarga Pukkusāti adalah seorang bijaksana. Ia berlatih sesuai Dhamma dan tidak menyusahkanKu dalam menginterpretasikan Dhamma. Dengan hancurnya lima belenggu yang lebih rendah, anggota keluarga Pukkusāti telah muncul kembali secara spontan di Alam Murni dan akan mencapai Nibbāna akhir di sana tanpa pernah kembali dari alam itu.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

Diambil dari: https://legacy.suttacentral.net/id/mn140

Majjhima Nikāya 140

The Exposition of the Elements

Thus have I heard. On one occasion the Blessed One was wandering in the Magadhan country and eventually arrived at Rājagaha. There he went to the potter Bhaggava and said to him:

“If it is not inconvenient for you, Bhaggava, I will stay one night in your workshop.”

“It is not inconvenient for me, venerable sir, but there is a homeless one already staying there. If he agrees, then stay as long as you like, venerable sir.”

Now there was a clansman named Pukkusāti who had gone forth from the home life into homelessness out of faith in the Blessed One, and on that occasion he was already staying in the potter’s workshop. Then the Blessed One went to the venerable Pukkusāti and said to him: “If it is not inconvenient for you, bhikkhu, I will stay one night in the workshop.”

“The potter’s workshop is large enough, friend. Let the venerable one stay as long as he likes.”

Then the Blessed One entered the potter’s workshop, prepared a spread of grass at one end, and sat down, folding his legs crosswise, setting his body erect, and establishing mindfulness in front of him. Then the Blessed One spent most of the night seated in meditation, and the venerable Pukkusāti also spent most of the night seated in meditation. Then the Blessed One thought: “This clansman conducts himself in a way that inspires confidence. Suppose I were to question him.” So he asked the venerable Pukkusāti:

“Under whom have you gone forth, bhikkhu? Who is your teacher? Whose Dhamma do you profess?”

“Friend, there is the recluse Gotama, the son of the Sakyans who went forth from a Sakyan clan. Now a good report of that Blessed Gotama has been spread to this effect: ‘That Blessed One is accomplished, fully enlightened, perfect in true knowledge and conduct, sublime, knower of worlds, incomparable leader of persons to be tamed, teacher of gods and humans, enlightened, blessed.’ I have gone forth under that Blessed One; that Blessed One is my teacher; I profess the Dhamma of that Blessed One.”

“But, bhikkhu, where is that Blessed One, accomplished and fully enlightened, now living?”

“There is, friend, a city in the northern country named Sāvatthī. The Blessed One, accomplished and fully enlightened, is now living there.”

“But, bhikkhu, have you ever seen that Blessed One before? Would you recognise him if you saw him?”

“No, friend, I have never seen that Blessed One before, nor would I recognise him if I saw him.”

Then the Blessed One thought: “This clansman has gone forth from the home life into homelessness under me. Suppose I were to teach him the Dhamma.” So the Blessed One addressed the venerable Pukkusāti thus: “Bhikkhu, I will teach you the Dhamma. Listen and attend closely to what I shall say.”—“Yes, friend,” the venerable Pukkusāti replied. The Blessed One said this:

“Bhikkhu, this person consists of six elements, six bases of contact, and eighteen kinds of mental exploration, and he has four foundations. The tides of conceiving do not sweep over one who stands upon these foundations, and when the tides of conceiving no longer sweep over him he is called a sage at peace. One should not neglect wisdom, should preserve truth, should cultivate relinquishment, and should train for peace. This is the summary of the exposition of the six elements.

“‘Bhikkhu, this person consists of six elements.’ So it was said. And with reference to what was this said? There are the earth element, the water element, the fire element, the air element, the space element, and the consciousness element. So it was with reference to this that it was said: ‘Bhikkhu, this person consists of six elements.’

“‘Bhikkhu, this person consists of six bases of contact.’ So it was said. And with reference to what was this said? There are the base of eye-contact, the base of ear-contact, the base of nose-contact, the base of tongue-contact, the base of body-contact, and the base of mind-contact. So it was with reference to this that it was said: ‘Bhikkhu, this person consists of six bases of contact.’

“‘Bhikkhu, this person consists of eighteen kinds of mental exploration.’ So it was said. And with reference to what was this said? On seeing a form with the eye, one explores a form productive of joy, one explores a form productive of grief, one explores a form productive of equanimity. On hearing a sound with the ear… On smelling an odour with the nose…On tasting a flavour with the tongue…On touching a tangible with the body…On cognizing a mind-object with the mind, one explores a mind-object productive of joy, one explores a mind-object productive of grief, one explores a mind-object productive of equanimity. So it was with reference to this that it was said: ‘Bhikkhu, this person consists of eighteen kinds of mental exploration.’

“‘Bhikkhu, this person has four foundations.’ So it was said. And with reference to what was this said? There are the foundation of wisdom, the foundation of truth, the foundation of relinquishment, and the foundation of peace. So it was with reference to this that it was said: ‘Bhikkhu, this person has four foundations.’

“‘One should not neglect wisdom, should preserve truth, should cultivate relinquishment, and should train for peace.’ So it was said. And with reference to what was this said?

“How, bhikkhu, does one not neglect wisdom? There are these six elements: the earth element, the water element, the fire element, the air element, the space element, and the consciousness element.

“What, bhikkhu, is the earth element? The earth element may be either internal or external. What is the internal earth element? Whatever internally, belonging to oneself, is solid, solidified, and clung-to, that is, head-hairs, body-hairs, nails, teeth, skin, flesh, sinews, bones, bone-marrow, kidneys, heart, liver, diaphragm, spleen, lungs, intestines, mesentery, contents of the stomach, feces, or whatever else internally, belonging to oneself, is solid, solidified, and clung-to: this is called the internal earth element. Now both the internal earth element and the external earth element are simply earth element. And that should be seen as it actually is with proper wisdom thus: ‘This is not mine, this I am not, this is not my self.’ When one sees it thus as it actually is with proper wisdom, one becomes disenchanted with the earth element and makes the mind dispassionate towards the earth element.

“What, bhikkhu, is the water element? The water element may be either internal or external. What is the internal water element? Whatever internally, belonging to oneself, is water, watery, and clung-to, that is, bile, phlegm, pus, blood, sweat, fat, tears, grease, spittle, snot, oil-of-the-joints, urine, or whatever else internally, belonging to oneself, is water, watery, and clung-to: this is called the internal water element. Now both the internal water element and the external water element are simply water element. And that should be seen as it actually is with proper wisdom thus: ‘This is not mine, this I am not, this is not my self.’ When one sees it thus as it actually is with proper wisdom, one becomes disenchanted with the water element and makes the mind dispassionate towards the water element.

“What, bhikkhu, is the fire element? The fire element may be either internal or external. What is the internal fire element? Whatever internally, belonging to oneself, is fire, fiery, and clung-to, that is, that by which one is warmed, ages, and is consumed, and that by which what is eaten, drunk, consumed, and tasted gets completely digested, or whatever else internally, belonging to oneself, is fire, fiery, and clung-to: this is called the internal fire element. Now both the internal fire element and the external fire element are simply fire element. And that should be seen as it actually is with proper wisdom thus: ‘This is not mine, this I am not, this is not my self.’ When one sees it thus as it actually is with proper wisdom, one becomes disenchanted with the fire element and makes the mind dispassionate towards the fire element.

“What, bhikkhu, is the air element? The air element may be either internal or external. What is the internal air element? Whatever internally, belonging to oneself, is air, airy, and clung-to, that is, up-going winds, down-going winds, winds in the belly, winds in the bowels, winds that course through the limbs, in-breath and out-breath, or whatever else internally, belonging to oneself, is air, airy, and clung-to: this is called the internal air element. Now both the internal air element and the external air element are simply air element. And that should be seen as it actually is with proper wisdom thus: ‘This is not mine, this I am not, this is not my self.’ When one sees it thus as it actually is with proper wisdom, one becomes disenchanted with the air element and makes the mind dispassionate towards the air element.

“What, bhikkhu, is the space element? The space element may be either internal or external. What is the internal space element? Whatever internally, belonging to oneself, is space, spatial, and clung-to, that is, the holes of the ears, the nostrils, the door of the mouth, and that aperture whereby what is eaten, drunk, consumed, and tasted gets swallowed, and where it collects, and whereby it is excreted from below, or whatever else internally, belonging to oneself, is space, spatial, and clung-to: this is called the internal space element. Now both the internal space element and the external space element are simply space element. And that should be seen as it actually is with proper wisdom thus: ‘This is not mine, this I am not, this is not my self.’ When one sees it thus as it actually is with proper wisdom, one becomes disenchanted with the space element and makes the mind dispassionate towards the space element.

“Then there remains only consciousness, purified and bright. What does one cognize with that consciousness? One cognizes: ‘This is pleasant’; one cognizes: ‘This is painful’; one cognizes: ‘This is neither-painful-nor-pleasant.’ In dependence on a contact to be felt as pleasant there arises a pleasant feeling. When one feels a pleasant feeling, one understands: ‘I feel a pleasant feeling.’ One understands: ‘With the cessation of that same contact to be felt as pleasant, its corresponding feeling—the pleasant feeling that arose in dependence on that contact to be felt as pleasant—ceases and subsides.’ In dependence on a contact to be felt as painful there arises a painful feeling. When one feels a painful feeling, one understands: ‘I feel a painful feeling.’ One understands: ‘With the cessation of that same contact to be felt as painful, its corresponding feeling—the painful feeling that arose in dependence on that contact to be felt as painful—ceases and subsides.’ In dependence on a contact to be felt as neither-painful-nor-pleasant there arises a neither-painful-nor-pleasant feeling. When one feels a neither-painful-nor-pleasant feeling, one understands: ‘I feel a neither-painful-nor-pleasant feeling.’ One understands: ‘With the cessation of that same contact to be felt as neither-painful-nor-pleasant, its corresponding feeling—the neither-painful-nor-pleasant feeling that arose in dependence on that contact to be felt as neither-painful-nor-pleasant—ceases and subsides.’ Bhikkhu, just as from the contact and friction of two fire-sticks heat is generated and fire is produced, and with the separation and disjunction of those two fire-sticks the corresponding heat ceases and subsides; so too, in dependence on a contact to be felt as pleasant…to be felt as painful…to be felt as neither-painful-nor-pleasant there arises a neither-painful-nor-pleasant feeling… One understands: ‘With the cessation of that same contact to be felt as neither-painful-nor-pleasant, its corresponding feeling…ceases and subsides.’

“Then there remains only equanimity, purified and bright, malleable, wieldy, and radiant. Suppose, bhikkhu, a skilled goldsmith or his apprentice were to prepare a furnace, heat up the crucible, take some gold with tongs, and put it into the crucible. From time to time he would blow on it, from time to time he would sprinkle water over it, and from time to time he would just look on. That gold would become refined, well refined, completely refined, faultless, rid of dross, malleable, wieldy, and radiant. Then whatever kind of ornament he wished to make from it, whether a golden chain or earrings or a necklace or a golden garland, it would serve his purpose. So too, bhikkhu, then there remains only equanimity, purified and bright, malleable, wieldy, and radiant.

“He understands thus: ‘If I were to direct this equanimity, so purified and bright, to the base of infinite space and to develop my mind accordingly, then this equanimity of mine, supported by that base, clinging to it, would remain for a very long time. If I were to direct this equanimity, so purified and bright, to the base of infinite consciousness……to the base of nothingness…to the base of neither-perception-nor-non-perception and to develop my mind accordingly, then this equanimity of mine, supported by that base, clinging to it, would remain for a very long time.’

“He understands thus: ‘If I were to direct this equanimity, so purified and bright, to the base of infinite space and to develop my mind accordingly, this would be conditioned. If I were to direct this equanimity, so purified and bright, to the base of infinite consciousness…to the base of nothingness…to the base of neither-perception-nor-non-perception and to develop my mind accordingly, this would be conditioned.’ He does not form any condition or generate any volition tending towards either being or non-being. Since he does not form any condition or generate any volition tending towards either being or non-being, he does not cling to anything in this world. When he does not cling, he is not agitated. When he is not agitated, he personally attains Nibbāna. He understands thus: ‘Birth is destroyed, the holy life has been lived, what had to be done has been done, there is no more coming to any state of being.’

“If he feels a pleasant feeling, he understands: ‘It is impermanent; there is no holding to it; there is no delight in it.’ If he feels a painful feeling, he understands: ‘It is impermanent; there is no holding to it; there is no delight in it.’ If he feels a neither-painful-nor-pleasant feeling, he understands: ‘It is impermanent; there is no holding to it; there is no delight in it.’

“If he feels a pleasant feeling, he feels it detached; if he feels a painful feeling, he feels it detached; if he feels a neither-painful-nor-pleasant feeling, he feels it detached. When he feels a feeling terminating with the body, he understands: ‘I feel a feeling terminating with the body.’ When he feels a feeling terminating with life, he understands: ‘I feel a feeling terminating with life.’ He understands: ‘On the dissolution of the body, with the ending of life, all that is felt, not being delighted in, will become cool right here.’ Bhikkhu, just as an oil-lamp burns in dependence on oil and a wick, and when the oil and wick are used up, if it does not get any more fuel, it is extinguished from lack of fuel; so too when he feels a feeling terminating with the body…a feeling terminating with life, he understands: ‘I feel a feeling terminating with life.’ He understands: ‘On the dissolution of the body, with the ending of life, all that is felt, not being delighted in, will become cool right here.’

“Therefore a bhikkhu possessing this wisdom possesses the supreme foundation of wisdom. For this, bhikkhu, is the supreme noble wisdom, namely, the knowledge of the destruction of all suffering.

“His deliverance, being founded upon truth, is unshakeable. For that is false, bhikkhu, which has a deceptive nature, and that is true which has an undeceptive nature—Nibbāna. Therefore a bhikkhu possessing this truth possesses the supreme foundation of truth. For this, bhikkhu, is the supreme noble truth, namely, Nibbāna, which has an undeceptive nature.

“Formerly, when he was ignorant, he undertook and accepted acquisitions; now he has abandoned them, cut them off at the root, made them like a palm stump, done away with them so that they are no longer subject to future arising. Therefore a bhikkhu possessing this relinquishment possesses the supreme foundation of relinquishment. For this, bhikkhu, is the supreme noble relinquishment, namely, the relinquishing of all acquisitions.

“Formerly, when he was ignorant, he experienced covetousness, desire, and lust; now he has abandoned them, cut them off at the root, made them like a palm stump, done away with them so that they are no longer subject to future arising. Formerly, when he was ignorant, he experienced anger, ill will, and hate; now he has abandoned them, cut them off at the root, made them like a palm stump, done away with them so that they are no longer subject to future arising. Formerly, when he was ignorant, he experienced ignorance and delusion; now he has abandoned them, cut them off at the root, made them like a palm stump, done away with them so that they are no longer subject to future arising. Therefore a bhikkhu possessing this peace possesses the supreme foundation of peace. For this, bhikkhu, is the supreme noble peace, namely, the pacification of lust, hate, and delusion.

“So it was with reference to this that it was said: ‘One should not neglect wisdom, should preserve truth, should cultivate relinquishment, and should train for peace.’

“‘The tides of conceiving do not sweep over one who stands upon these foundations, and when the tides of conceiving no longer sweep over him he is called a sage at peace.’ So it was said. And with reference to what was this said?

“Bhikkhu, ‘I am’ is a conceiving; ‘I am this’ is a conceiving; ‘I shall be’ is a conceiving; ‘I shall not be’ is a conceiving; ‘I shall be possessed of form’ is a conceiving; ‘I shall be formless’ is a conceiving; ‘I shall be percipient’ is a conceiving; ‘I shall be non-percipient’ is a conceiving; ‘I shall be neither-percipient-nor-non-percipient’ is a conceiving. Conceiving is a disease, conceiving is a tumour, conceiving is a dart. By overcoming all conceivings, bhikkhu, one is called a sage at peace. And the sage at peace is not born, does not age, does not die; he is not shaken and does not yearn. For there is nothing present in him by which he might be born. Not being born, how could he age? Not ageing, how could he die? Not dying, how could he be shaken? Not being shaken, why should he yearn?

“So it was with reference to this that it was said: ‘The tides of conceiving do not sweep over one who stands upon these foundations, and when the tides of conceiving no longer sweep over him he is called a sage at peace.’ Bhikkhu, bear in mind this brief exposition of the six elements.”

Thereupon the venerable Pukkusāti thought: “Indeed, the Teacher has come to me! The Sublime One has come to me! The Fully Enlightened One has come to me!” Then he rose from his seat, arranged his upper robe over one shoulder, and prostrating himself with his head at the Blessed One’s feet, he said: “Venerable sir, a transgression overcame me, in that like a fool, confused and blundering, I presumed to address the Blessed One as ‘friend.’ Venerable sir, may the Blessed One forgive my transgression seen as such for the sake of restraint in the future.”

“Surely, bhikkhu, a transgression overcame you, in that like a fool, confused and blundering, you presumed to address me as ‘friend.’ But since you see your transgression as such and make amends in accordance with the Dhamma, we forgive you. For it is growth in the Noble One’s Discipline when one sees one’s transgression as such, makes amends in accordance with the Dhamma, and undertakes restraint in the future.”

“Venerable sir, I would receive the full admission under the Blessed One.”

“But are your bowl and robes complete, bhikkhu?”

“Venerable sir, my bowl and robes are not complete.”

“Bhikkhu, Tathāgatas do not give the full admission to anyone whose bowl and robes are not complete.”

Then the venerable Pukkusāti, having delighted and rejoiced in the Blessed One’s words, rose from his seat, and after paying homage to the Blessed One, keeping him on his right, he departed in order to search for a bowl and robes. Then, while the venerable Pukkusāti was searching for a bowl and robes, a stray cow killed him.

Then a number of bhikkhus went to the Blessed One, and after paying homage to him, they sat down at one side and told him: “Venerable sir, the clansman Pukkusāti, who was given brief instruction by the Blessed One, has died. What is his destination? What is his future course?”

“Bhikkhus, the clansman Pukkusāti was wise. He practised in accordance with the Dhamma and did not trouble me in the interpretation of the Dhamma. With the destruction of the five lower fetters, the clansman Pukkusāti has reappeared spontaneously in the Pure Abodes and will attain final Nibbāna there without ever returning from that world.”

That is what the Blessed One said. The bhikkhus were satisfied and delighted in the Blessed One’s words.

Source: https://legacy.suttacentral.net/en/mn140