Dismantling the puzzle of dualism ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

0
61

Dismantling the puzzle of dualism ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

What makes the Buddhist path so special is that it looks dualistic, but it has that ability to liberate you from the bondage of dualism. It is a deliberate and conscious knot that is consciously and deliberately designed to undo itself. All the skillful means and methods of the Buddhadharma are like a thorn that we use to take out another thorn in our hand. The purpose of renunciation mind, compassion, the recitation of mantras, and contemplation on the breath is to dig out dualism. These practices will dismantle the puzzle of dualism. They speak the language of the nondual and have the flavor of the nondual. For example, compassion is definitely dualistic, but with heavy investment, it leads you to nonduality.

Of these skillful methods that appear dualistic but point in the direction of nondualism, guru yoga is supreme. In the Vajrayana, guru devotion is even more practical than practicing compassion. It’s tangible. In the end, there is no such thing as dualistic and nondualistic. Remembering all of this, we develop gratitude to the guru and appreciation of the path of Tantrayana.

from the book The Guru Drinks Bourbon?

Membongkar teka-teki dualisme ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Apa yang membuat jalan Buddhis begitu istimewa adalah tampilannya yang dualistik, namun memiliki kemampuan untuk membebaskan Anda dari belenggu dualisme. Ini adalah simpul yang secara sadar dan sengaja di design untuk melepaskan belenggu dari dirinya sendiri. Semua cara dan metode terampil dari Buddhadharma adalah seperti duri yang kita gunakan untuk mengeluarkan duri lain yang ada di tangan kita. Tujuan pikiran pelepasan, welas kasih, pembacaan mantra, dan kontemplasi pada nafas adalah untuk menggali dualisme. Praktik ini akan membongkar teka-teki dualisme. Buddhadharma memakai bahasa bahasa nondual dan memiliki cita rasa nondual. Misalnya, welas asih pasti dualistis, namun dengan investasi yang tinggi, hal itu membawa Anda ke nondualitas.

Dari semua metode terampil yang ada, yang kelihatan dualistik namun mengarah ke nondualisme, guru yoga adalah yang tertinggi. Di Vajrayana, devosi pada guru bahkan lebih praktis daripada mempraktikkan welas asih. Ini sangatlah nyata. Pada akhirnya, tidak ada yang namanya dualistik dan nondualistik. Mengingat semua ini, kami mengembangkan rasa syukur kepada guru dan rasa apresiasi terhadap jalur Tantrayana.

Dari buku The Guru Drinks Bourbon?