Heart of sadness ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

0
73

Heart of sadness ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Kongtrul Rinpoche suggested we pray to the guru, buddhas, and bodhisattvas and ask them to grant their blessings, “So I may give birth to the heart of sadness.”

But what is a “heart of sadness”? Imagine one night you have a dream. Although it is a good dream, deep down you know that eventually you will have to wake up and it will be over. In life, too, sooner or later, whatever the state of our relationships, or our health, our jobs and every aspect of our lives, everything, absolutely everything, will change.

And the little bell ringing in the back of your head to remind you of this inevitability is what is called the “heart of sadness.” Life, you realise, is a race against time, and you should never put off dharma practice until next year, next month, or tomorrow, because the future may never happen.

from the book Not for Happiness: A Guide to the So-Called Preliminary Practices

Hati yang sedih ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Kongtrul Rinpoche menyarankan agar kita berdoa kepada guru, para Buddha, dan Bodhisattva dan meminta mereka untuk memberikan berkahnya, “Jadi dari dalam diri saya bisa timbul hati yang sedih. “Tapi apa itu “hati yang sedih”? Bayangkan suatu malam Anda bermimpi. Meskipun itu adalah mimpi yang baik, jauh di lubuk hati Anda tahu bahwa pada akhirnya Anda harus bangun dan mimpi tersebut akan berakhir. Dalam hidup, juga, cepat atau lambat, apapun keadaan hubungan kita, kesehatan kita, pekerjaan kita dan setiap aspek kehidupan kita, segalanya, semuanya akan berubah.

Dan bel kecil berbunyi di dalam kepala Anda untuk mengingatkan Anda tentang perasaan yang tidak bisa dihindari inilah yang disebut “hati yang sedih.” Anda harus sadar sedang berpacu melawan waktu, dan Anda seharusnya tidak pernah menunda praktik dharma sampai tahun depan, bulan depan, atau besok, karena masa depan mungkin tidak akan pernah datang.

Dari buku Not for Happiness: A Guide to the So-Called Preliminary Practices