Insecurity ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

0
66

Insecurity ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

The cause of all these sufferings is our fundamental insecurity. We are always wondering whether we exist or not. Our ego, or rather our attachment to the idea of self, is completely insecure about its own existence. Our ego may seem strong but it is actually quite shaky. Of course, we do not ask such questions consciously, but we always have a subconscious feeling of insecurity about whether we exist.

We try to use things such as friends, money, position and power, and all the everyday things that we do, like watching television or going shopping, to somehow prove and confirm our existence. Try sitting alone in a house and doing absolutely nothing. Sooner or later your hands will reach for the remote control or the newspaper. We need to be occupied. We need to be busy. If we are not busy, we feel insecure.

But there is something very strange in all this. The ego searches constantly for distraction, and then the distraction itself becomes a problem. Instead of helping us to feel reassured, it actually increases our insecurity. We get obsessed with the distraction and it develops into another habit. Once it becomes a habit, it is difficult to get rid of. So in order to get rid of this new habit, we have to adopt yet another habit. This is how things go on and on.
source: http://www.lionsroar.com/approaching-the-guru/

 

Ketidakamanan ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Penyebab semua penderitaan adalah ketidakamanan mendasar kita. Kita selalu bertanya-tanya apakah kita ada atau tidak. Ego kita, atau lebih tepatnya kemelekatan kita pada gagasan tentang diri, sama sekali merasa tidak aman dengan keberadaannya sendiri. Ego kita mungkin tampak kuat tapi sebenarnya cukup rapuh. Tentu saja, kita tidak mengajukan pertanyaan seperti itu secara sadar, tapi tanpa sadar kita selalu memiliki perasaan akan ketidakamanan tentang apakah kita eksis.

Kita mencoba menggunakan hal-hal seperti teman, uang, posisi dan kekuatan, dan semua hal kita lakukan sehari-hari, seperti menonton televisi atau berbelanja, untuk membuktikan dan mengkonfirmasi keberadaan kita. Cobalah duduk sendiri di rumah dan tidak melakukan apa-apa. Cepat atau lambat, tangan Anda akan meraih remote control atau surat kabar. Kita perlu kerjaan. Kita harus sibuk. Jika kita tidak sibuk, kita merasa tidak aman.

 Tapi ada sesuatu yang sangat aneh dalam semua ini. Ego selalu mencari distraksi, dan kemudian distraksi itu sendiri menjadi masalah. Alih-alih membantu kita untuk merasa diyakinkan, tindakan tersebut justru meningkatkan rasa tidak aman kita. Kita terobsesi dengan distraksi dan itu berkembang menjadi kebiasaan lain. Begitu menjadi kebiasaan, sulit untuk disingkirkan. Jadi untuk menyingkirkan kebiasaan baru ini, kita harus mengadopsi kebiasaan lain. Begitulah keadaan terus berlanjut.

Sumber: http://www.lionsroar.com/approaching-the-guru/