Lagu ke 11 ~ Milarepa

0
81
Milarepa
Milarepa

Lagu ke 11 ~ Milarepa

11

Travelling with his disciples, Milarepa came to Din Ri Namar where he enquired for the name of the outstanding patron. Learning that the physician Yang Nge was a devoted Buddhist, he proceeded to his house, where the physician said, “It is said that Jetsun Milarepa can use anything at hand as a metaphor for preaching. Now please use the bubbles of water in this ditch before us as a metaphor and give us a discourse.” In response, Jetsun sang a song…

The Fleeting Bubbles

I pay homage to my gracious Guru—
Pray make everyone here think of the Dharma!

As he said once, “Like bubbles is
This life, transient and fleeting—
In it no assurance can be found.”

A layman’s life is like a thief
Who sneaks into an empty house.
Know you not the folly of it?

Youth is like a summer flower—
Suddenly it fades away.
Old age is like a fire spreading
Through the fields—suddenly ’tis at your heels.
The Buddha once said, “Birth and death
Are like sunrise and sunset—
Now come, now go.”

Sickness is like a little bird
Wounded by a sling.
Know you not, health and strength
Will in time desert you?

Death is like an oil-dry lamp
(After its last flicker).
Nothing, I assure you,
In this world is permanent.

Evil Karma is like a waterfall,
Which I have never seen flow upward.
A sinful man is like a poisonous tree—
If you lean on it, you will injured be.

Transgressors are like frost-bitten peas—
Like spoiled fat, they ruin everything.
Dharma-practisers are like peasants in the field—
With caution and vigour they will be successful.

The Guru is like medicine and nectar—
Relying on him, one will win success.
Discipline is like a watchman’s tower—
Observing it, one will attain Accomplishment.

The Law of Karma is like samsara’s wheel—
Whoever breaks it will suffer a great loss.
Samsara is like a poisonous thorn
In the flesh—if not pulled out,
The poison will increase and spread.

The coming of death is like the shadow
Of a tree at sunset—
It runs fast and none can halt it.

When that time comes,
What else can help but Holy Dharma?
Though Dharma is the fount of victory.
Those who aspire to it are rare.

Scores of men are tangled in
The miseries of samsara;
Into this misfortune born,
They strive by plunder and theft for gain.

He who talks on Dharma
With elation is inspired,
But when a task is set him,
He is wrecked and lost.

Dear patrons, do not talk too much,
But practise the Holy Dharma.

(pp. 632–633)

11

Berkelana dengan murid-muridnya, Milarepa sampai di Din Ri Namar, tempat di mana penyokongnya yang luar biasa memohonnya untuk hadir disana. Mengetahui  bahwa dokter Yang Nge adalah seorang Buddhis yang setia, Beliau pun berkunjung ke rumahnya, di mana dokter tersebut berkata, “Dikatakan bahwa Jetsun Milarepa dapat menggunakan apapun sebagai metafora untuk berkhotbah. Sekarang tolong gunakan gelembung air di parit ini di depan kita sebagai metafora dan berilah khotbah kepada kami.

 “Sebagai tanggapan, Jetsun menyanyikan sebuah lagu …

Gelembung yang sekilas

Saya memberi hormat kepada Guru saya yang ramah-
Saya berdoa semoga semua orang disini memikirkan Dharma!
Seperti yang Guru pernah katakan sekali, “Hidup ini
Seperti gelembung, sementara dan sekilas-
Di dalamnya tidak ada kepastian yang bisa ditemukan. “
Kehidupan orang awam seperti pencuri
yang menyelinap masuk ke rumah kosong.
Tidak tahukah kamu bahwa itu adalah sebuah kebodohan?
Pemuda itu seperti bunga di musim panas-
Yang tiba-tiba memudar.
Usia tua seperti api yang menyebar
Awalnya membakar ladang-ladang dan tiba-tiba api sudah berada di tumitmu.
Sang Buddha pernah berkata, “Kelahiran dan kematian
Seperti matahari terbit dan terbenam-
Datang dan pergi silih berganti. “
Penyakit seperti burung kecil
Yang terluka oleh ketapel.
Tidak tahukah kamu, kesehatan dan kekuatanmu
pada waktunya akan meninggalkanmu?
Kematian itu seperti lampu minyak yang mengering
(Setelah kedipan terakhir).
Saya Jamin, Tidak ada,
Di dunia ini bersifat permanen.
Perbuatan buruk bagaikan air terjun,
Yang belum pernah saya lihat mengalir ke atas.
Seorang pria yang berbuat jahat seperti pohon beracun –
Jika Anda bersandar di sana, Anda akan terluka.
Pelanggar sila seperti kacang polong beku-
Seperti lemak yang jahat, mereka merusak segalanya.
Praktisi Dharma seperti petani di lapangan –
Dengan hati-hati dan semangat, mereka akan sukses.
Guru itu bagaikan obat-obatan dan nektar-
Mengandalkan Beliau, seseorang akan menggapai kesuksesan.
Disiplin itu bagaikan menara penjaga-
Mengamatinya, seseorang akan mencapai Pencapaian.
Hukum Karma seperti roda samsara-
Siapa pun yang melanggarnya akan mengalami kerugian besar.
Samsara seperti duri beracun
Dalam daging – jika tidak ditarik keluar,
Racun akan meningkat dan menyebar.
Kedatangan maut itu bagaikan bayangan
Dari pohon saat matahari terbenam-
Dia berjalan cepat dan tidak ada yang bisa menghentikannya.
Saat itu tiba,
Apa yang bisa membantu Anda selain Dharma yang Suci?
Meskipun Dharma adalah sumber kemenangan.
Mereka yang beraspirasi untuk melatihnya sangatlah jarang.
Banyaknya manusia yang terjerat dalam
Kesengsaraan samsara;
Di kelahiran yang malang ini,
Mereka berjuang dalam penjarahan dan pencurian untuk mendapatkan keuntungan.
Dia yang berbicara tentang Dharma
Dengan gembira terinspirasi,
Tapi saat tugas dibebankan padanya,
Dia menjadi hancur dan tersesat.
Penyokong yang tersayang, jangan bicara terlalu banyak,
Tapi praktekkan Dharma yang suci.

(Hlm. 632-633)