Lagu ke 13 ~ Milarepa

0
80
Milarepa
Milarepa

Lagu ke 13 ~ Milarepa

13

Rechungpa, after returning from India, had contracted the disease of pride and in various ways Milarepa tried to cure him. As his disciple required food, they went for alms but were abused by an old woman who declared that she had no food. The next morning they found her dead and Milarepa said: “Rechungpa, like this woman, every sentient being is destined to die, but seldom do people think of this fact. So they lose many opportunities to practise the Dharma. Both you and I should remember this incident and learn a lesson from it.” Whereupon, he sang…

The Song of Transiency and Delusion

When the transience of life strikes deeply into one’s heart
One’s thoughts and deeds will naturally accord with Dharma.
If repeatedly and continuously one thinks about death,
One can easily conquer the demons of laziness.
No one knows when death will descend upon him—
Just as this woman last night!

Rechungpa, do not be harsh, and listen to your Guru!
Behold, all manifestations in the outer world
Are ephemeral like a dream last night!
One feels utterly lost in sadness
When one thinks of this passing dream.
Rechungpa, have you completely wakened
From this great puzzlement?
Oh, the more I think of this,
The more I aspire to Buddha and the Dharma.

The pleasure-yearning human body is an ungrateful creditor.
Whatever good you do to it,
It always plants the seeds of pain.

This human body is a bag of filth and dirt;
Never be proud of it, Rechungpa,
But listen to my song!

When I look back at my body,
I see it as a mirage-city;
Though I may sustain it for a while,
It is doomed to extinction.
When I think of this,
My heart is filled with grief!
Rechungpa, would you not cut off samsara?
Oh, the more I think of this,
The more I think of Buddha and the Dharma!

A vicious person can never attain happiness.
Errant thoughts are the cause of all regrets,
Bad dispositions are the cause of all miseries,
Never be voracious, oh Rechungpa,
But listen to my song!

When I look back at my clinging mind,
It appears like a short-lived sparrow in the woods—
Homeless, and with nowhere to sleep;
When I think of this, my heart is filled with grief.
Rechungpa, will you let yourself indulge in ill-will?
Oh, the more I think of this,
The more I aspire to Buddha and the Dharma!

Human life is as precarious
As a single slim hair of a horse’s tail
Hanging on the verge of breaking;
It may be snuffed out at anytime
Like this old woman was last night!
Do not cling to this life, Rechungpa,
But listen to my song!

When I observe inwardly my breathings
I see they are transient, like the fog;
They may vanish any moment into nought.
When I think of this, my heart is filled with grief.
Rechungpa, do you not want to conquer
That insecurity now?
Oh, the more I think of this,
The more I aspire to Buddha and the Dharma.

To be close to wicked kinsmen only causes hatred.
The case of this old woman is a very good lesson.
Rechungpa, stop your wishful-thinking
And listen to my song!

When I look at friends and consorts
They appear as passers-by in the bazaar;
Meeting with them is only temporary,
But separation is forever!
When I think of this, my heart is filled with grief.
Rechungpa, do you not want to cast aside
All worldly associations?
Oh, the more I think of this,
The more I think of Buddha and the Dharma.

A rich man seldom enjoys
The wealth that he has earned;
This is the mockery of Karma and samsara,
Money and jewels gained through stinginess and toil
Are like this old woman’s bag of food.
Do not be covetous, Rechungpa,
But listen to my song!

When I look at the fortunes of the rich,
They appear to me like honey to the bees—
Hard work, serving only for others’ enjoyment,
Is the fruit of their labour.
When I think of this, my heart is filled with grief.
Rechungpa, do you not want to open
The treasury within your mind?
Oh, the more I think of this,
The more I aspire to Buddha and His Teachings.

(pp. 433–435)

13

Rechungpa, setelah kembali dari India, telah terjangkit penyakit kebanggaan dan dengan berbagai cara Milarepa mencoba menyembuhkannya. Karena muridnya membutuhkan makanan, mereka pergi berpindapatta namun dianiaya oleh seorang wanita tua yang menyatakan bahwa dia tidak memiliki makanan. Keesokan paginya mereka menemukan wanita tua tersebut sudah mati dan Milarepa berkata: “Rechungpa, seperti wanita ini, setiap makhluk ditakdirkan untuk mati, tapi jarang sekali orang memikirkan fakta ini. Jadi mereka kehilangan banyak kesempatan untuk mempraktekkan Dharma. Anda dan saya harus mengingat kejadian ini dan belajar dari hal ini.

“Kemudian, Milarepa bernyanyi …

Lagu Kesementaraan dan Delusi

Bila kehidupan yang sementara menyerang secara mendalam ke dalam hati seseorang
Pemikiran dan perbuatan seseorang secara alami akan sesuai dengan Dharma.
Jika berulang kali dan terus menerus seseorang memikirkan tentang kematian,
Seseorang dapat dengan mudah menaklukkan iblis dari kemalasan.
Tidak ada yang tahu kapan kematian akan menimpanya –
Sama seperti wanita ini tadi malam!

Rechungpa, jangan bersikeras, dan dengarkan gurumu!
Lihatlah, semua manifestasi di dunia luar
Semu bagaikan mimpi tadi malam!
Seseorang akan merasa benar-benar tersesat dalam kesedihan
Saat seseorang memikirkan mimpi yang lewat ini.
Rechungpa, apakah kamu benar-benar terbangun
Dari kebingungan besar ini?
Oh, semakin aku memikirkan ini,
Semakin saya beraspirasi untuk mencapai kebuddhaan dan melatih Dharma.

Tubuh manusia yang merindukan kesenangan adalah kreditor yang tidak tahu berterima kasih.
Apa pun kebaikan yang Anda lakukan terhadapnya,
Tubuh ini selalu menanam benih penderitaan.
Tubuh manusia ini bagaikan sekantong najis dan kotoran;
Jangan pernah bangga dengan itu, Rechungpa,
Tapi dengarkan laguku!

Saat aku melihat ke tubuhku,
Saya melihatnya bagaikan kota fatamorgana;
Meskipun saya dapat mempertahankannya untuk sementara waktu,
Tubuh ini pasti akan punah.
Saat memikirkan hal ini,
Hatiku penuh dengan kesedihan!
Rechungpa, Tidakkah engkau ingin memotong samsara?
Oh, semakin aku memikirkan ini,
Semakin saya memikirkan Buddha dan Dharma!

Orang jahat tidak akan pernah bisa mencapai kebahagiaan.
Pikiran yang salah adalah penyebab semua penyesalan,
Kebiasaan buruk adalah penyebab dari semua kesengsaraan,
Jangan pernah rakus, oh Rechungpa,
Tapi dengarkan laguku!

Ketika saya melihat kembali batin saya yang melekat,
Tampak seperti burung pipit berumur pendek di hutan-
Tunawisma, dan tiada tempat tidur;
Saat memikirkan ini, hatiku penuh dengan kesedihan.
Rechungpa, Apakah engkau akan membiarkan dirimu menikmatikeinginan buruk?
Oh, semakin aku memikirkan ini,
Semakin saya bercita-cita untuk mencapai kebuddhaan dan berlatih Dharma!

Kehidupan manusia itu tidak pasti
Seperti ekor rambut kuda yang ramping
Bergantung dan hampir putus;
kapan saja bisa putus
Seperti wanita tua ini tadi malam!
Jangan melekat pada kehidupan ini, Rechungpa,
Tapi dengarkan laguku!

Saat saya mengamati napas dalam diri saya
Saya melihat mereka sementara, bagaikan kabut;
Mereka bisa lenyap kapan saja.
Saat memikirkan ini, hatiku penuh dengan kesedihan.
Rechungpa, Tidakkah engkau inigin menaklukkannya
Ketidak amanan itu sekarang?
Oh, semakin aku memikirkan ini,
Semakin saya bercita-cita untuk mencapai kebuddhaan dan melatih Dharma.

Menjadi dekat dengan kerabat yang jahat hanya menyebabkan kebencian.
Kasus wanita tua ini adalah pelajaran yang sangat bagus.
Rechungpa, hentikan angan-anganmu
Dan dengarkan laguku!

Saat aku melihat teman dan pasangan
Mereka muncul bagaikan orang yang berpapasan di pasar;
Bertemu dengan mereka hanya sementara,
Tapi perpisahan itu selamanya!
Saat memikirkan ini, hatiku penuh dengan kesedihan.
Rechungpa, Tidakkah engkau ingin membuang
Semua hubungan duniawi?
Oh, semakin aku memikirkan ini,
Semakin saya memikirkan Buddha dan Dharma.

Orang kaya jarang menikmati
Kekayaan yang telah dia dapatkan;
Inilah olokan dari Karma dan samsara,
Uang dan perhiasan didapat melalui kekikiran dan kerja keras
Seperti tas makanan wanita tua ini.
Jangan serakah, Rechungpa,
Tapi dengarkan laguku!

Ketika saya melihat keberuntungan orang kaya,
Mereka tampak bagaikan lebah tertarik pada madu –
Kerja keras, melayani hanya untuk kesenangan orang lain,
Adalah hasil dari kerja keras mereka
Saat memikirkan ini, hatiku penuh dengan kesedihan.
Rechungpa, Tidakkah engkau ingin membuka
harta karun di dalam batinmu?
Oh, semakin aku memikirkan ini,
Semakin saya bercita-cita untuk mencapai kebuddhaan dan mempraktekkan Ajaran-Nya.
(Hlm. 433-435)