Lagu ke 14 ~ Milarepa

0
64
Milarepa
Milarepa

Lagu ke 14 ~ Milarepa

14

When Milarepa was sitting in meditation, a frightened deer dashed by, followed by a ravening hound. By the power of his loving-kindness and compassion (metta-karuna), Milarepa made them lie down, one on either side of him, and then preached to them. Then came the fierce and proud huntsman, Chirawa Gwunbo Dorje, who was enraged by the sight of the Jetsun and shot an arrow at him, but missed. Milarepa sang to him and his heart began to turn to the Dharma. Then the hunter saw that Milarepa was living an austere life and great faith arose in him. He wished then to practise Dharma after talking with his family but the Jetsun warned him that his present meritorious thought might change and he sang:

Hearken, hearken, huntsman!

Though the thunder crashes,
It is but empty sound;
Though the rainbow is richly-coloured,
It will soon fade away.
The pleasures of this world are like dream-visions;
Though one enjoys them, they are the source of sin.
Though all we see may seem to be eternal,
It will soon fall to pieces and will disappear.

Yesterday perhaps one had enough or more,
All today is gone and nothing’s left;
Last year one was alive, this year one dies.
Good food turns into poison,
And the beloved companion turns into a foe.

Harsh words and complaints requite
Good-will and gratitude.
Your sins hurt no one but yourself.
Among one hundred heads, you value most your own.
In all ten fingers, if one is cut, you feel the pain.
Among all things you value, yourself is valued most.
The time has come for you to help yourself.

Life flees fast. Soon death
Will knock upon your door.
It is foolish, therefore, one’s devotion to postpone.
What else can loving kinsmen do
But throw one into samsara?
To strive for happiness hereafter
Is more important than to seek it now.
The time has come for you to rely upon a Guru,
The time has come to practise Dharma.

(p. 284)

14

Saat Milarepa sedang duduk bermeditasi, seekor rusa ketakutan menerobos masuk, diikuti seekor anjing liar. Dengan kekuatan kebaikan dan kasih sayang-Nya (metta-karuna), Milarepa membuat mereka berbaring, di kedua sisinya, dan kemudian berkhotbah kepada mereka. Kemudian datanglah pemburu yang galak dan angkuh, Chirawa Gwunbo Dorje, yang sangat marah melihat pemandangan Jetsun dan menembakkan anak panah ke arahnya, tapi luput. Milarepa bernyanyi untuknya dan hatinya mulai beralih ke Dharma. Kemudian pemburu melihat bahwa Milarepa menjalani kehidupan yang keras dan devosi yang besar muncul di dalam dirinya. Dia kemudian berharap untuk berlatih Dharma setelah berbicara dengan keluarganya tapi Jetsun memperingatkannya bahwa pemikirannya yang sekarang mungkin akan berubah dan Beliau bernyanyi:

Dengarkanlah, wahai, pemburu!
Meski terjadi guntur,
Itu hanyalah suara kosong;
Meskipun pelangi berwarna warni,
Itu akan segera memudar.
Kesenangan dunia ini terlihat seperti mimpi;
Meskipun seseorang menikmati kesenangan duniawi, mereka adalah sumber dari perbuatan buruk.
Meskipun semua yang kita lihat mungkin tampak abadi,
Itu akan segera runtuh dan akan hilang.
Kemarin mungkin seseorang sudah merasa cukup atau lebih,
Kemungkinan hari ini semuanya jadi hilang dan tidak ada yang tersisa;
Tahun lalu seseorang mungkin masih hidup, tahun ini kemudian meninggal.
Makanan yang enak berubah menjadi racun,
Dan teman tercinta berubah menjadi musuh.
Niat baik dan rasa syukur yang seharusnya dirasakan dibalas dengan
kata – kata kasar dan keluh kesah
Perbuatan buruk Anda tidak menyakiti siapa pun selain diri sendiri.
Di antara seratus kepala, Anda paling menghargai milik Anda sendiri.
Sepuluh jari ini, jika ada yang dipotong, Anda merasakan sakitnya.
Di antara semua hal yang Anda hargai, diri Anda yang paling Anda dihargai.
Waktunya telah tiba bagi Anda untuk membantu diri Anda sendiri.
Hidup cepat berlalu. kematian akan datang dengan segera
Dan akan mengetuk pintu Anda
Oleh karena itu, adalah bodoh jika devosi seseorang (terhadap Dharma) ditunda.
Apa lagi yang bisa dilakukan oleh kerabat dekat
Selain melempar anda ke samsara?
Berusaha untuk mencapai kebahagiaan di masa yang akan datang (kedamaian sejati)
Lebih penting daripada mencarinya sekarang (kebahagiaan duniawi).
Waktunya telah tiba bagi Anda untuk mengandalkan seorang Guru,
Waktunya telah tiba untuk mempraktekkan Dharma.

(Halaman 284)