Lagu ke – 7 ~ Milarepa

0
96
Milarepa
Milarepa

Lagu ke – 7 ~ Milarepa

7

Milarepa once said to Shindormo, his patroness: “But if you have a precious human body and have been born at a time and place in which the Buddhist religion prevails, it is very foolish indeed not to practise the Dharma.” Milarepa thus sang:

At the feet of the Translator Marpa, I prostrate myself,
And sing to you, my faithful patrons.

How stupid it is to sin [10] with recklessness
While the pure Dharma spreads all about you.
How foolish to spend your lifetime without meaning,
When a precious human body is so rare a gift.

How ridiculous to cling to prison-like cities
and remain there.
How laughable to fight and quarrel
with your wives and relatives,
Who do but visit you.
How senseless to cherish sweet and tender words
Which are but empty echoes in a dream.
How silly to disregard one’s life by fighting foes
Who are but frail flowers.

How foolish it is when dying
to torment oneself with thoughts of family,
Which bind one to Maya’s [11] mansion.
How stupid to stint on property and money,
Which are a debt on loan from others.
How ridiculous it is to beautify and deck the body,
Which is a vessel full of filth.
How silly to strain each nerve for wealth and goods,
And neglect the nectar of the inner teachings!

In a crowd of fools, the clear and sensible
Should practise the Dharma, as do I.

(pp. 33–34)

7

Milarepa pernah berkata kepada Shindormo, penyokongnya: “Jika Anda memiliki tubuh manusia yang berharga dan telah lahir pada suatu waktu dan tempat di mana agama Buddha masih tersedia, sangatlah bodoh jika tidak mempraktekkan Dharma.”

Milarepa bernyanyi:

Di kaki Sang Penerjemah Marpa, aku sujud,
Dan bernyanyi untuk Anda, penyokong setia saya.
Betapa bodohnya dan cerobohnya kita menciptakan karma buruk
Ketika Dharma murni telah tersedia di sekeliling Anda.
Betapa bodoh menghabiskan hidupmu tanpa makna,
Ketika kita mendapatkan anugerah terlahir dalam tubuh manusia yang sangat berharga dan sangat langka.
Betapa konyolnya melekat pada kota yang bagaikan penjara
Dan tetap berada di sana
Betapa menggelikan untuk bertarung dan bertengkar
Dengan istri dan saudara Anda,
yang hanya merupakan tamu yang mengunjungimu?
Betapa tidak masuk akal menghargai kata-kata yang manis dan lembut
Itu hanyalah bagaikan gema kosong dalam mimpi.
Betapa bodohnya untuk menghabiskan hidup untuk berkelahi dengan
Yang juga rapuh bagaikan sifat bunga.
Betapa bodohnya saat sekarat
Untuk menyiksa diri dengan pemikiran tentang keluarga,
Yang mengikat seseorang terhadapa rumah [11] yang semu.
Betapa bodohnya seseorang pelit akan harta benda dan uang,
Yang merupakan hutang pinjaman dari orang lain.
Betapa menggelikannya untuk mempercantik dan menghiasi tubuh,
Yang merupakan wadah yang penuh kotoran.
Betapa bodohnya berusaha keras demi kekayaan dan barang,
Dan mengabaikan nektar ajaran batin!
Di kerumunan orang bodoh, Orqang yang Bijak dan masuk akal
Harus mempraktekkan Dharma, seperti halnya saya.
(Hlm. 33-34)

Note:

11.    Delusi; Hakikat ilusi samsara