Lagu ke – 9 ~ Milarepa

0
76
Milarepa
Milarepa

Lagu ke – 9 ~ Milarepa

9

Milarepa went out one day for alms and coming to a meeting of Dharma-followers, was ridiculed. One of them, however, recognized him and said: “To inspire those attending this meeting, therefore, please now sing for us.” In response, Milarepa sang a song,

The Ocean of Samsara

Alas, is not samsara like the sea?
Drawing as much water as one pleases,
It remains the same without abating.
Are not the Three Precious Ones like Mount Sumeru,
That never can be shaken by anyone?


Are there Mongol bandits invading yogis’ cells?
Why, then, do great yogis stay in towns and villages?
Are not people craving for rebirth and Bardo? [13]
Why, then, do they cling so much to their disciples?
Are woollen clothes in the next life more expensive?
Why, then, do women make so much of them here?
Do people fear that samsara may be emptied?
Why, then, do priests and laymen hanker after children?
Are you reserving food and drink for your next life?
Why, then, do men and women not give to charity?
Is there any misery in Heaven above?
Why, then, do so few plan to go there?
Is there any joy below in Hell?

Why, then, do so many prepare to visit there?
Do you not know that all sufferings
And Lower Realms are the result of sins?
Surely you know that if you now practise virtue,
When death comes you will have peace of mind
and no regrets.

(p. 539 extract)

9

Suatu hari Milarepa pergi untuk meminta sedekah dan menghadiri pertemuan para pengikut Dharma, dan mereka mengejeknya. Salah satu dari mereka, kemudian, mengenalinya dan berkata: “Untuk menginspirasi mereka yang hadir dalam pertemuan ini, tolong bernyanyilah untuk kami.”

Sebagai tanggapan, Milarepa menyanyikan sebuah lagu,

Samudra Samsara

Sungguh kasihan, bukankah samsara seperti lautan?
Mengambil air sebanyak yang diinginkan,
Isi lautan tetaplah sama.
Bukankah Tiga Permata Berharga seperti Gunung Sumeru,
Yang tidak pernah bisa diguncang oleh siapapun?

Apakah ada bandit Mongol yang menyerang sel yogi?
Lalu, mengapa yogi besar tinggal di kota dan desa?
Bukankah orang-orang mendambakan kelahiran kembali dan Bardo? [13]
Lalu mengapa mereka begitu melekat pada murid-murid mereka?
Apakah pakaian wol di kehidupan selanjutnya lebih mahal?
Lalu, mengapa wanita membuat begitu banyak pakaian wol di sini?
Apakah orang takut bahwa samsara bisa dikosongkan?
Mengapa, kemudian, para pandita dan umat awam mendambakan anak-anak?
Apakah Anda menyiapkan makanan dan minuman untuk kehidupan Anda selanjutnya?
Lalu, mengapa pria dan wanita tidak memberi sedekah?
Apakah ada kesengsaraan di Surga diatas?
Lalu mengapa begitu sedikit rencana untuk pergi ke sana?
Apakah ada kegembiraan di bawah neraka?
Lalu mengapa banyak yang bersiap berkunjung ke sana?
Tidakkah kamu tahu bahwa semua penderitaan
Dan Alam rendah adalah hasil dari perbuatan tidak baik?
Tentunya Anda tahu bahwa jika Anda sekarang mempraktekkan perbuatan baik,
Saat kematian datang Anda akan memiliki kedamaian batin
Dan tidak menyesal.
(Hlm. 539 ekstrak)

Note:

13. Keadaan antara eksistensi antara kematian dan kelahiran kembali (Skt: antarabhava, sambhavesi), namun eksistensinya diperdebatkan di Theravada, di mana kelahiran kembali dikatakan sesegera mungkin. Pertanyaannya dipersulit oleh fakta bahwa Waktu adalah konsep relatif (paññatti) dan persepsi tergantung pada kepemilikan indera tertentu. Bardo, menurut Buddhisme Tibet, adalah keadaan batin yang sangat penting, seperti persimpangan jalan, dan kelahiran kembali seseorang beserta nasib dan keberuntungan tergantung pada keadaan bardo.