Our mind letting go ~ Ajahn Chah

0
84

Our mind letting go ~ Ajahn Chah

If we look according to reality, without trying to sugar things over, we’ll see that it’s really pitiful and wearisome. Dispassion will arise. This feeling of ‘disinterest’ is not that we feel aversion for the world or anything; it’s simply our mind clearing up, our mind letting go. We see things as not substantial or dependable, but that all things are naturally established just as they are. However we want them to be, they just go their own way regardless. Whether we laugh or cry, they simply are the way they are. Things which are unstable are unstable; things which are not beautiful are not beautiful.

So the Buddha said that when we experience sights, sounds, tastes, smells, bodily feelings or mental states, we should release them. When the ear hears sounds, let them go. When the nose smells an odour, let it go…just leave it at the nose! When bodily feelings arise, let go of the like or dislike that follow, let them go back to their birth-place. The same for mental states. All these things, just let them go their way. This is knowing. Whether it’s happiness or unhappiness, it’s all the same. This is called meditation.
source: http://www.ajahnchah.org/book/Peace_Beyond1.php

 

Batin melepaskan ~ Ajahn Chah

Jika kita melihat sesuai kenyataan, tanpa mencoba menambah gula di kenyataan tersebut, kita akan melihat bahwa kenyataan tersebut sangat menyedihkan dan melelahkan. Mentalitas pelepasan akan muncul. Perasaan ‘tidak tertarik’ ini bukanlah bahwa kita merasa tidak menyukai dunia atau apapun; Itu hanya batin kita menjadi jelas, batin kita melepaskan kemelekatan. Kita melihat hal-hal yang tidak substansial atau dapat diandalkan, dan semua hal secara alami terbentuk seperti apa adanya. Namun kita ingin mereka tetap seperti yang kita mau, tetapi bagaimanapun juga semua hal pergi dengan cara mereka sendiri. Entah kita tertawa atau menangis, mereka memang seperti apa adanya mereka. Hal-hal yang tidak stabil tidak stabil; Hal yang tidak cantik tidak indah.

 Jadi Sang Buddha mengatakan bahwa ketika kita mengalami penglihatan, suara, selera, bau, perasaan tubuh atau keadaan mental, kita harus melepaskannya. Saat telinga mendengar suara, lepaskanlah. Bila hidung mencium bau harum, lepaskanlah … tinggalkan saja di hidung! Saat perasaan jasmani muncul, lepaskan perasaan suka atau tidak suka yang mengikutinya, biarkan mereka kembali ke tempat asalnya. Perlakukanlah sama untuk keadaan mental. Semua hal yang terjadi, biarkan saja terjadi sebagaimana apa adanya mereka. Inilah “mengetahui”. Entah itu kebahagiaan atau ketidakbahagiaan, semuanya sama saja. Ini disebut meditasi.

 

Sumber: http://www.ajahnchah.org/book/Peace_Beyond1.php