Mind’s ultimate nature ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

0
32

Mind’s ultimate nature ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Mind’s ultimate nature, emptiness endowed with vividness,
I was told is the real Buddha.
Recognizing this should help me
Not to be stuck with thoughts of hierarchy.

Mind’s ultimate nature, its emptiness aspect,
I was told is the real Dharma.
Recognizing this should help me
Not to be stuck with thoughts of political correctness.

Mind’s ultimate nature, its vivid aspect,
I was told is the real Sangha.
Recognizing this should help me
Not to be stuck with thoughts of equal rights.

One cannot disassociate emptiness from vividness.
This inseparability I was told is the Guru.
Recognizing this should help me
Not to be stuck with depending on chauvinist lamas.

This nature of mind has never been stained by duality,
This stainlessness I was told is the deity.
Recognizing this should help me
Not to be stuck with the categories of “gender” or “culture.”

This nature of mind is spontaneously present.
That spontaneity I was told is the dakini aspect.
Recognizing this should help me
Not to be stuck with fear of being sued.

source: http://www.abuddhistlibrary.com/Buddhism/A%20-%20Tibetan%20Buddhism/Authors/Dzongsar%20Khyentse%20Rinpoche/Distortion/Siddhartha’s%20Intent%20-%20Distortion%20article%20by%20Dzongsar%20Khyent.htm

Hakikat sejati batin ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Hakikat sejati batin, kekosongan yang penuh dengan kejernihan,
Saya diberitahu bahwa itulah Buddha yang sejati.
Dengan mengenalinya akan membantu saya
Tidak terjebak dengan pemikiran yang hirarki.

Hakikat sejati batin, aspek kekosongannya,
Saya diberitahu bahwa itulah Dharma yang sejati.
Dengan mengenalinya akan membantu saya
Tidak terjebak dengan pemikiran tentang kebenaran politik.

Hakikat sejati batin, aspeknya yang jernih,
Saya diberitahu bahwa itulah Sangha yang sejati.
Dengan mengenalinya akan membantu saya
Tidak terjebak dengan pemikiran tentang persamaan hak.

Seseorang tidak dapat memisahkan kekosongan dari kejernihan.
Ketidakterpisahan inilah yang disebut Guru.
Dengan mengenalinya akan membantu saya
Tidak terjebak dan tergantung pada sosok para Lama (Bhiksu Vajrayana).

Hakikat batin ini tidak pernah ternoda oleh dualitas,
Tanpa noda inilah yang dikatakan deity / ista-dewata.
Dengan mengenalinya ini akan membantu saya
Tidak terjebak dengan kategori “jenis kelamin” atau “budaya”.

Hakikat batin ini hadir secara spontan.
Bahwa spontanitas itulah disebut aspek dakini.
Dengan mengenalinya akan membantu saya
Tidak terjebak pada ketakutan akan dituntut / diadili.

Sumber: http://www.abuddhistlibrary.com/Buddhism/A%20-%20Tibetan%20Buddhism/Authors/Dzongsar%20Khyentse%20Rinpoche/Distortion/Siddhartha’s%20Intent%20-%20Distortion%20article%20by%20Dzongsar%20Khyent. Htm