This is not a sure thing ~ Ajahn Chah

0
51
Ajahn Chah

This is not a sure thing ~ Ajahn Chah

Actually in my own practice I didn’t have a teacher to give as much teachings as all of you get from me. I didn’t have many teachers. I ordained in an ordinary village temple and lived in village temples for quite a few years. In my mind I conceived the desire to practice, I wanted to be proficient, I wanted to train. There wasn’t anybody giving any teaching in those monasteries but the inspiration to practice arose. I traveled and I looked around. I had ears so I listened, I had eyes so I looked. Whatever I heard people say, I’d tell myself, ‘Not sure.’ Whatever I saw, I told myself, ‘Not sure,’ or when the tongue contacted sweet, sour, salty, pleasant or unpleasant flavors, or feelings of comfort or pain arose in the body, I’d tell myself, ‘This is not a sure thing’! And so I lived with dhamma.
quoted in the book Forest Recollections: Wandering Monks in Twentieth-Century Thailand

 

Ini bukan hal yang pasti ~ Ajahn Chah

Sebenarnya dalam praktek saya sendiri, saya tidak memiliki seorang guru yang memberikan banyak ajaran seperti yang Anda dapatkan dari saya. Saya tidak punya banyak guru. Saya ditahbiskan di sebuah kuil desa biasa dan tinggal di kuil desa selama beberapa tahun. Dalam batin saya, saya berkeinginan untuk berlatih, saya ingin menjadi mahir, saya ingin melatih. Tidak ada orang yang memberikan pengajaran di biara-biara itu tapi inspirasi untuk berlatih itu muncul. Saya berkelana dan melihat sekeliling. Saya punya telinga jadi saya mendengarkan, saya punya mata jadi saya melihat. Apa pun yang saya dengar dari orang lain, saya berkata pada diri sendiri, ‘Tidak yakin.’ Apapun yang saya lihat, saya berkata pada diri sendiri, ‘Tidak yakin,’ atau ketika lidah menghubungi rasa manis, asam, asin, menyenangkan atau tidak enak, atau perasaan nyaman Atau rasa sakit muncul di tubuh, saya katakan pada diri sendiri, ‘Ini bukan hal yang pasti’! Jadi itulah cara saya hidup dengan dhamma.

Dikutip dalam buku Forest Recollections: Wanderering Monks in Twentieth-Century Thailand