Paṭṭhāna – Hetupaccayo (1. Kondisi akar) – Buddha

0
8
Buddha Sakyamuni
  1. Hetupaccayo (Kondisi akar)

Hetū berart 6 akar yaitu : lobha, dosa, moha, alobha, adosa dan amoha. Lobha, dosa, moha adalah akar yang tidak bajik dan alobha, adosa, dan amoha adalah akar yang bajik.

 

Lobha adalah sifat alami yang berlawanan dari hasrat keinginan yang berarti kedermawanan atau suka beramal. Itulah mengapa rektor kami  Sayadaw Dr. Nandamālā mengatakan bahwa Alobha seharusnya diterjemahkan sebagai anti dari hasrat keinginan. adalah sifat alami dari hasrat keinginan. Alobha

 

Dosa  adalah sifat alami dari kebencian atau ketakutan. Sedangkan Adosa bukan hanya ketidak-bencian tetapi juga merupakan sifat alami yang berlawanan dari kebencian. Itulah mengapa ia harus diterjemahkan sebagai anti- kebencian yang berart metā (cinta kasih).

 

Moha adalah khayalan/ilusi ataupun keragu-raguan. Sedang Amoha adalah anti-ilusi yang berarti paññā (kebijaksanaan).

 

Hetū  adalah sebab yang membuat akibat sangat kuat dimana ia mendukung untuk mempertahankan akibatnya. Ini adalah kondisi yang memperkuat efek/akibatnya. Ketika anda melihat sebuah objek yang sangat disenangi, hasrat keinginan muncul di dalam batin. Hasrat keinginan inilah yang disebut sebagai lobha di dalam Abhidhamma. Ketika anda melihat objek yang sangat tidak disukai, kebencian muncul di dalam batin. Ini disebut sebagai dosa di dalam Abhidhamma. Ketika anda memikirkan sesuatu yang anda tidak tahu secara jelas, anda tidak tahu bagaimana harus memutuskan, maka keragu-raguan muncul di dalam batin anda. Ini disebut moha di dalam Abhidhamma.

 

Sebagai contoh, jika anda marah, coba cek ke dalam batin, apa yang sedang anda pikirkan? Anda akan berpikir tentang kebencian atau pikiran yang tidak puas. Semakin anda pikirkan, semakin kebencian muncul. Bagaimana Paṭṭhāna berhubungan dalam hal ini? Ketika dosa muncul di dalam batin, dosa (kebencian) itu menjadi akar. Sama sepert akar dari sebuah pohon yang mendukung untuk berkembangnya dahan-dahan, dedaunan, bunga-bunga dan buah-buah, begitu pula dosa  mendukung untuk tumbuhnya pikiran-pikiran membenci.

 

Ini dibabarkan dalam Paṭṭhāna pāḷi sebagai berikut :

Hetū sampayuttakānaṃ dhammānaṃ taṃsamuṭṭhānānañca rūpānaṃ hetupaccayena paccayo.

 

Artnya : ke-6 akar menyebabkan munculnya citta (kesadaran) dan cetasika (faktor-faktor mental) yang bersekutu dengannya serta cittajarūpa (materi/rupa yang dihasilkan oleh kesadaran) melalui kondisi akar.

 

  1. Hetū berart 6 akar : lobha, dosa, moha, alobha, adosa dan amoha. Tiga akar pertama termasuk akar yang tidak bajik (akusala) dan tga akar yang lain termasuk ke dalam akar yang bajik (kusala).

 

  1. Hetu sampayutakānaṃ dhammānaṃ adalah citta dan cetasika yang bersekutu dengan akar tersebut. Jika kita mengatakan citta dan cetasika dalam bahasa yang umum, maka kombinasi dari keduanya dapat diartkan sebagai “pikiran.” Berlandaskan pada dosa, maka pikiran-pikiran membenci akan muncul terus-menerus sampai dosa berhent. Dosa memperkuat pikiran membenci.

 

 

  1. Taṃsamuṭṭhānānañca rūpānaṃ adalah rūpa (materi) yang dihasilkan oleh pikiran membenci. Jika akar dosa muncul pada seseorang, maka pikiran-pikiran membenci akan muncul. Kemudian ia akan berbicara dengan kasar di mana ini adalah rūpa (materi) yang dihasilkan oleh pikiran yang dipenuhi oleh dosa. Ia juga akan berjalan dengan kasar dan bersuara, ia menunjukkan tanda-tanda dari ketidakpuasannya secara kasar. Tindakan jasmani secara kasar juga merupakan rūpa yang dihasilkan oleh pikiran membenci (citta & cetasika yang bersekutu dengan dosa). Ucapan dan tindakan yang kasar ini tidak akan berhent sampai dosa berhent. Mereka adalah rūpa (materi) yang dihasilkan oleh pikiran membenci. Akar dosa mengakibatkan munculnya pikiran membenci (citta dan cetasika yang bersekutu dengan dosa) dan cittajarūpa (ucapan kasar dan tindakan jasmani yang kasar).

 

Jadi Buddha membabarkan bahwa dosa sebagai hetu, akar atau sebab. Sepert sebuah pohon yang terus berkembang selama ia masih mempunyai akar. Begitu pula pikiran membenci, ucapan kasar dan tindakan jasmani yang kasar akan terus muncul selama seseorang masih mempunyai dosa.

 

Lobha, dosa, moha, alobha, adosa, atau amoha adalah sebab yang memperkuat citta dan cetasika yang bersekutu dengannya dan cittajarūpa yang dihasilkan oleh citta tersebut. Dengan kata lain, hetu adalah sebab yang mendukung untuk memperkuat akibat sama sepert akar utama dari sebatang pohon yang mendukung untuk memperkuat tumbuh dan berkembangnya pohon tersebut. Ketika dosa telah hilang, maka pikiran yang bersekutu dengan dosa (pikiran-pikiran membenci), ucapan kasar dan tindakan jasmani yang kasar juga akan hilang. Ketika dosa  telah hilang, maka seseorang biasanya akan berkata : saya minta maaf, sungguh maaf, dan sebagainya.

 

Bagaimana dengan akar lobha? Ketika lobha muncul di dalam batin, maka ia mengakibatkan munculnya pikiran-pikiran serakah (lobha), ucapan yang  lobha dan tindakan  lobha. Ucapan dan tindakan yang menunjukkan  lobha ini adalah cittajarūpa yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran  lobha. Apakah anda tahu apa itu cittajarūpa? Ia diartkan sebagai materialitas yang dihasilkan oleh kesadaran atau biasa disebut sebagai  rūpa yang dihasilkan oleh citta.

 

Jadi, ucapan lobha dan tindakan  lobha adalah cittajarūpa. Lobha, pikiran-pikiran  lobha dan cittajarūpa muncul bersama dan  lobha mendukung untuk memperkuat sekutunya (citta dan cetasika/pikiran  lobha).

 

Begitu juga dalam kasus moha, ketika moha muncul di dalam batin, maka pikiran-pikiran moha, ucapan moha dan tindakan moha muncul. Pikiran moha adalah pikiran yang dipenuhi keraguan dalam semua hal; ucapan moha adalah ucapan yang tidak masuk akal; tindakan moha adalah tindakan yang tidak  teratur/kacau/sembarangan.

 

Setelah menjelaskan ke-3 akar yang tidak bajik (akusala hetu), sekarang mari kita melanjutkan pada 3 akar yang bajik (kusala hetu).

Ketika alobha muncul di dalam batin, maka pikiran-pikiran yang dermawan muncul, ini adalah pikiran yang bajik (citta dan cetasika yang bersekutu dengan akar alobha). Kemudian cittajarūpa muncul yaitu kita akan berbicara untuk memberi, kita mencoba untuk memberi melalui tindakan jasmani.

Ketika akar adosa muncul di dalam batin, maka pikiran-pikiran yang welas asih muncul. Ini juga merupakan pikiran yang bajik di mana pikiran kita ingin membantiu orang lain. Kemudian cittajarūpa juga muncul yaitu kita berbicara dengan ramah dan kita membantiu orang lain dengan tindakan jasmani.

Ketika akar amoha muncul di dalam batin, maka pikiran- pikiran yang bijaksana muncul di dalam batin. Ini juga pikiran yang bajik. Kita berpikir dengan benar.Kemudian cittajarūpa juga muncul yaitu kita berbicara yang masuk akal dan melakukan tindakan jasmani yang membuat nyaman dan menyenangkan.

Sekarang saya telah menjelaskan semua 6 akar dari hetupaccaya. Setap akar mempunyai sifat alami yang berbeda. Hetupaccaya selalu muncul dalam batin kita setap hari. Kadang hetupaccaya yang bajik muncul, dan kadang hetupaccaya yang tidak bajik muncul di dalam batin. Dengan belajar Paṭṭhāna, kita dapat mengetahui hetupaccaya yang mana yang lebih sering muncul di dalam batin dalam keseharian kita. Kita juga dapat mengert bahwa hidup kita berhubungan dengan sebab-sebab dan akibat-akibat.

 

Kehidupan kita dihasilkan oleh sebab-sebab. Maka kita tidak seharusnya menciptakan sebab-sebab yang buruk. Jika kita melakukan sebab yang buruk, maka akibat yang buruk akan datang. Bagaimanapun, setiap orang tentunya hanya menginginkan akibat/hasil yang baik dan kebahagiaan. Tidak ada seorangpun yang menginginkan penderitaan. Walaupun kita ingin berbahagia, jika kita tidak membuat sebab yang membawa pada kebahagiaan, kita tidak akan mendapatkannya. Contohnya, jika kita menginginkan bibit untuk menjadi tanaman, kita tidak dapat hanya memintanya untuk menjadi tanaman tanpa melakukan apapun.

 

Kita harus melakukan sebab yang menyebabkannya menjadi tanaman. Kita harus menanam bibit tersebut di tanah dan menyiraminya. Ketika bibit bertemu dengan tanah dan air, maka ia akan menjadi tanaman. Masih banyak lagi yang harus dilakukan terhadap tanaman tersebut. Kita harus menjaganya dari serangga serta memberinya pupuk, air dan meletakkannya di tempat yang mendapat sinar matahari yang cukup. Jika kita telah menyelesaikan semua sebab-sebab untuk menumbuhkan tanaman tersebut, maka tanaman tersebut akan menghasikan buah-buahan dan bunga-bunga yang bermekaran.

 

Begitu pula ketika kita mengerti Paṭṭhāna, kita harus memilih kondisi-kondisi yang membawa pada kebahagiaan dan keberuntungan. Kita harus menghilangkan kondisi yang membawa pada penderitaan-penderitaan. Jika kita mengumpulkan kondisi- kondisi yang baik, maka ia akan memberi akibat-akibat yang baik pula. Jadi, Paṭṭhāna berart hubungan dari kondisi-kondisi.

 

Dalam Paṭṭhāna, ada 2 komponen utama yaitu :

  • paccaya ( sebab )
  • paccayuppanna ( akibat )

 

Sebab dan akibat adalah saling berhubungan satu sama lain. Ketika akar lobha muncul, moha juga termasuk. Walaupun bersekutu dengan moha, tetapi lobha tetap memimpin dan memperkuat efeknya dengan menghasilkan pikiran lobha, ucapan lobha dan tindakan lobha.

Ketika akar dosa muncul, moha juga termasuk. Tetapi hanya dosa yang memimpin dan memperkuat akibatnya dengan menghasilkan pikiran dosa, ucapan dosa dan tindakan dosa. Jadi, kapanpun akar yang tidak bajik (akusala) muncul, maka akar moha juga muncul.

Ketika akar moha muncul, maka ia akan muncul sendiri, akar moha sendiri akan memperkuat akibatnya dengan menghasilkan pikiran moha, ucapan moha dan tindakan moha.

Dengan kata lain, akar adalah sebab yang mendukung untuk memperkuat akibat sepert akar utama pohon yang mendukung untuk memperkuat dan menumbuhkembangkan pohon tersebut. Sebenarnya, di dalam hetu paccaya,paccaya (sebab-sebab) yang lain juga termasuk. Tetapi jika saya menjelaskannya sekarang, anda mungkin sulit untuk mengert.

Setidaknya sekarang anda telah mengert apa itu hetu paccaya secara umum. Dibandingkan dengan orang lain yang tidak pernah mengetahui tentang Paṭṭhāna, anda sepert seseorang yang telah melihat lautan melalui pinggir pantiai sedang orang-orang lain tidak pernah melihat lautan. Anda seharusnya berbahagia dan puas. Paṭṭhāna tidak hanya berhubungan dengan manusia tetapi berhubungan dengan semua makhluk yang hidup atau benda mat. Paṭṭhāna adalah Dhamma yang Universal, Kebenaran Universal dan Hukum Alam yang Universal. Ia melingkupi semua aspek.

 

Paṭṭhāna dalam kehidupan sehari-hari

Disusun oleh : Sayalay Santagavesī dan Sayalay Ñāṇikā

Penerbit :  Vihara Dhammadayada