Primordially pure ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

0
64

Primordially pure ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Buddha nature is pure and free from all kinds of compounded phenomena, right from the beginning.

The ultimate true nature is always devoid of anything compounded, so it is said that defilements, karma, and their full ripening are like a cloud, etc. (Uttaratantra Shastra, Stanza 158)

Therefore, buddhanature is free from the three kinds of emotions: desire, aggression, and jealousy. It is free from the emotions of karmic formation, such as virtuous actions and non-virtuous actions. And it is free from the result of emotion, the five aggregates. Therefore, the emotions are like clouds.

The defilements are said to be like clouds, karma is likened to the experience in dreams, and the full ripening of karma and defilements—the aggregates—are likened to conjurations. (Uttaratantra Shastra, Stanza 159)

The nature of beings is primordially pure; that’s why we call it buddhanature. Although emotions are seemingly apparent and seemingly stubborn, seemingly like a second nature, they are never a second nature. They are like clouds—they are adventitious, and not a true part of you. This point is quite important. In Buddhism we always come to the conclusion that these emotions and defilements are temporary. When we’re looking at a gray cloudy sky, we might call it a cloudy sky, but it’s not really a cloudy sky. The clouds are never the sky. The clouds are temporary or adventitious.

source: https://www.lionsroar.com/the-clarity-aspect/

Murni dari sananya / Murni sejak awal ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Sejak awal hakikat kebuddhaan itu murni dan terbebas dari berbagai gabungan fenomena.

Hakikat sejati kebuddhaan selalu absen dari segala unsur, karena itu sering dikatakan bahwa kekotoran batin, karma, dan pematangan penuh karma seperti awan, dll. (Uttaratantra Shastra, Stanza 158)

Karena itu, Hakikat kebuddhaan terbebas dari tiga jenis emosi: nafsu keinginan, agresi / kemarahan, dan kecemburuan. Hakikat kebuddhaan bebas dari emosi yang ditimbulkan oleh bentukan karma , seperti perbuatan baik dan perbuatan tidak baik. Dan terbebas dari hasil emosi, lima kelompok agregat. Karena itu, emosi itu seperti awan.

Kekotoran batin dikatakan seperti awan, karma disamakan dengan pengalaman dalam mimpi, dan pematangan karma dan kekotoran batin – agregat – disamakan dengan pertunjukan sulap (Uttaratantra Shastra, Stanza 159)

Sifat makhluk murni sejak awal; Itu sebabnya kami menyebutnya hakikat kebuddhaan. Meski emosi tampak jelas dan nyata, kelihatannya seperti sifat kedua dari hakikat kebuddhaan, tetapi mereka tiak akan pernah menjadi sifat kedua dari hakikat kebuddhaan. Mereka seperti awan-mereka memukau, dan bukan bagian sejati dari diri Anda. Poin ini cukup penting. Dalam Buddhisme kita selalu sampai pada kesimpulan bahwa emosi dan kekotoran batin ini bersifat sementara. Saat kita melihat langit berawan yang kelabu, kita bisa menyebutnya langit yang mendung, tapi langit yang sebenarnya tidaklah mendung. Awan tidak sama dengan langit. Awan itu bersifat sementara.

Sumber: https://www.lionsroar.com/the-clarity-aspect/