The quintessence of bodhichitta ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

0
119

The quintessence of bodhichitta ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

If we are missing nonduality, our every act will lead to disappointment. How far do you go if you are a therapist trying to help an alcoholic or drug addict? If this person has somehow decided to become a drug addict for the next five thousand lifetimes, you, as a bodhisattva, must have the determination to be reborn wherever they are going to be reborn. You might, for instance, aspire to be reborn at the right time and place to be nearby him or her. Say for example, you are a bodhisattva and have been trying to help this drug addict for over two thousand lifetimes. Now, somewhere in an obscure place, their 2,042nd rebirth is going to happen. Although you need to appear for only half a day, in order to do that you actually have to be reborn there. It is almost a waste of a complete whole life, to be reborn there just to do something that will take only half an hour, or half a day, but as a bodhisattva you must do it. That is what we call the strength and quality of relative compassion.

Now we come to the real quintessence of bodhichitta. Why does a bodhisattva have this degree of compassion? Why don’t they give up? What is the real basis of their confidence? The bodhisattva realizes that the notion of “drug addict,” “problem,” “healing,” and “being healed” are all in their own mind. The bodhisattva knows that none of this exists “out there” somewhere, externally and truly. Based on this wisdom, the bodhisattva can develop compassion.

This understanding can really help. My own experience is like being a firefly in front of the sun. Even so, when I try to help people and things don’t work according to plan, I say to myself, “How can I get frustrated?” In the first place, I myself have set up a certain goal based on my own interpretation. In helping a person, I imagine that he or she should reach a certain level, but this is my own idea. After becoming obsessed with the idea of success, when the person is not there, I might lose hope and confidence in this person. Sometimes we do realize that it is all our own projection, but most of the time we don’t. Instead, we think: “This is how it should be. This is real success!” We don’t realize that it is all our own interpretation. This is where we go blind. When you are helping, if you know that your so-called “help,” “success,” and “failure” are all in your own mind, you won’t get worn out. Because you realize that it is all your mind’s doing, you won’t get tired. This is a very general and somewhat coarse example of ultimate bodhichitta. If you have this understanding, you have a complete picture of bodhichitta.

To reiterate, ultimate bodhichitta is an understanding of emptiness. Only when this is included is there a complete picture of bodhichitta. When we talk about bodhichitta, usually we make reference to something simple, such as a kind, compassionate heart, but that’s not all. This is something many people have. It does not necessarily make you a bodhisattva. Of course this is not to deny that there are very kind and compassionate people. There are people who may even sacrifice their lives for others, but still they may not be bodhisattvas. In fact, they are in danger of acting out their obsession and could end up being victimized by their goal-oriented mind. Being too obsessed with a goal can produce a lot of side effects, such as thinking, “This is how it should work!” With this approach, a bodhisattva can lose hope and determination when things do not work out; they may even stop being a bodhisattva. Having said this, a bodhisattva should not just do things aimlessly.

from the book Entrance To The Great Perfection: A Guide To The Dzogchen Preliminary Practices

 

Intisari bodhichitta ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Jika kita tidak paham nondualitas, setiap tindakan kita akan menyebabkan kekecewaan. Seberapa jauh Anda bisa bertahan jika Anda seorang terapis yang mencoba membantu pecandu alkohol atau pecandu narkoba? Jika orang tersebut telah memutuskan untuk menjadi pecandu narkoba sebanyak lima ribu kehidupan yang akan datang, Anda, sebagai bodhisattva, harus memiliki tekad untuk dilahirkan kembali di manapun mereka akan dilahirkan kembali. Anda mungkin, misalnya, beraspirasi untuk dilahirkan kembali pada waktu dan tempat yang tepat untuk berada di dekatnya. Katakanlah misalnya, Anda adalah seorang Bodhisattva dan telah mencoba untuk membantu pecandu narkoba ini selama lebih dari dua ribu kehidupan yang lalu. Sekarang, di suatu tempat di tempat yang tidak jelas, Orang tersebut akan terlahir kembali di kehidupan yang ke 2.042 . Meskipun Anda perlu tampil hanya setengah hari, untuk melakukan itu Anda benar-benar harus dilahirkan kembali di sana. Ini hampir seperti menyia-nyiakan seluruh hidup anda, hanya untuk dilahirkan kembali di sana untuk melakukan sesuatu yang akan memakan waktu hanya setengah jam, atau setengah hari, tapi sebagai bodhisattva Anda harus melakukannya. Itulah yang kita sebut kekuatan dan kualitas welas asih relatif.

Sekarang kita sampai pada intisari bodhicitta yang nyata. Mengapa bodhisattva memiliki tingkat welas asih ini? Kenapa mereka tidak menyerah? Apa dasar kepercayaan diri mereka yang sebenarnya? Bodhisattva menyadari bahwa gagasan “pecandu narkoba,” “masalah,” “penyembuhan,” dan “disembuhkan” semuanya ada dalam batin mereka sendiri. Bodhisattva tahu bahwa  tidak ada yang benar – benar  eksis di “di luar sana” di suatu tempat, secara eksternal dan nyata. Berdasarkan kebijaksanaan ini, bodhisattva bisa mengembangkan welas asih.

Pemahaman ini bisa sangat membantu. Pengalaman saya sendiri seperti kunang-kunang di depan matahari. Meski begitu, ketika saya mencoba membantu orang dan segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, saya berkata kepada diri sendiri, “Bagaimana saya bisa merasa frustrasi?” Pertama, saya sendiri telah menetapkan sebuah tujuan tertentu berdasarkan interpretasi saya sendiri. Dalam membantu seseorang, saya membayangkan bahwa dia harus mencapai tingkat tertentu, tapi ini adalah ide saya sendiri. Setelah terobsesi pada hasil sukses dalam membantu orang tersebut, ternyata orang tersebut tidak berhasil melakukannya, saya mungkin kehilangan harapan dan kepercayaan diri pada orang ini. Terkadang kita menyadari bahwa itu semua adalah proyeksi batin kita sendiri, namun seringkali kita tidak melakukannya. Sebagai gantinya, kita berpikir: “Beginilah seharusnya. Ini adalah kesuksesan nyata! “Kita tidak menyadari bahwa itu semua adalah interpretasi kita sendiri. Di sinilah kita menjadi buta. Bila Anda membantu, jika Anda tahu bahwa apa yang Anda sebut “bantuan”, “kesuksesan,” dan “kegagalan” semuanya ada dalam batin Anda sendiri, Anda tidak akan lelah. Karena Anda menyadari bahwa itu semua adalah hasil batin anda sendiri, Anda tidak akan lelah. Ini adalah contoh bodhicitta yang sangat umum dan agak kasar. Jika Anda memiliki pemahaman ini, Anda memiliki gambaran yang lengkap tentang bodhichitta.

Sekali lagi, bodhicitta ultimit adalah pemahaman tentang kekosongan. Jika ada pemahaman kekosongan, barulah termasuk gambaran bodhicitta yang lengkap. Saat kita membicarakan bodhicitta, biasanya kita mengacu pada sesuatu yang sederhana, seperti hati yang baik hati, tapi bukan itu saja. Ini adalah sesuatu yang dimiliki banyak orang. Hati yang baik tidak serta merta menjadikanmu Bodhisattva. Tentu saja ini bukan untuk menyangkal bahwa memang ada orang yang sangat baik hati dan penyayang. Ada orang yang bahkan mungkin mengorbankan nyawa mereka untuk orang lain, tapi tetap saja mereka mungkin bukan bodhisattva. Sebenarnya, mereka dalam bahaya mewujudkan obsesi mereka dan akhirnya bisa menjadi korban dari pemikiran mereka yang berorientasi pada tujuan. Terlalu terobsesi dengan suatu tujuan dapat menghasilkan banyak efek samping, seperti berpikir, “Beginilah cara kerjanya!” Dengan pendekatan ini, bodhisattva bisa kehilangan harapan dan tekad saat segala sesuatu tidak berjalan baik; Mereka bahkan mungkin berhenti menjadi bodhisattva. Setelah menjelaskan pemahaman tentang Bodhicitta, Seorang bodhisattva seharusnya tidak melakukan sesuatu tanpa tujuan.

Dari buku Entrance To The Great Perfection: A Guide To The Dzogchen Preliminary Practices