Saddharma Pundarika Sutra (Terjemahan Indonesia) Bab III

0
222
Lotus Sutra

Saddharma Pundarika Sutra (Terjemahan Indonesia) Bab III

Lotus Sutra

BAB III – PERUMPAMAAN
Sumber: “The Lotus Sutra” By Soothill And Kern
Diterjemahkan oleh Giriputra Soemarsono dan Drs.Oka Diputhera
Terbitan: Departemen Agama Republik Indonesia

Pada waktu itu Sariputra, dengan penuh kegembiraan, berdiri. Dengan kedua tangan dirapatkan, memandang Sang Buddha sambil menyatakan isi hatinya :
“Mendengar Dharma dari Yang Dipuja Dunia, dengan penuh kehikmatan, kami telah mengalami apa yang belum pernah kami alami sebelumnya. Sejak dahulu, bila kami mendengar Dharma dari Sang Buddha dan menyaksikan para Bodhisatva yang diramalkan akan menjadi Buddha, kami sebelumnya selalu merasa cemas kehilangan pengetahuan mutakhir dari Sang Tathagata
Oh, Yang Dipuja Dunia, bila kami tinggal sendiri dalam hutan, bila kami duduk atau berjalan-jalan, kami selalu dihinggapi pikiran begini :
“Kami bersama-sama telah berkecimpung dalam Dharma, tetapi mengapa Sang Tathagata membina, menyelamatkan kami dengan Hinayana ? Ini mungkin salah kami sendiri, bukan salah Yang Dipuja Dunia. Mengapa ? karena bila kami mendengar uraian Beliau mengenai pencapaian penerangan sejati, seharusnya kami dibebaskan dengan Mahayana. Karena kami tak menangkap cara yang demikian halus dalam menguraikan sesuatu yang mendalam; pertama mendengarkan Buddha Dharma saja, kami hanya semata-mata percaya, merenungkannya dan menhayatinya.
Yang Dipuja Dunia; sesudah memikirkan hal itu siang malam, kami selalu dirundung kemasgulan. Tetapi kini, setelah kami mendengar dari Sang Buddha, Dharma yang belum pernah kami dengar, keraguan dan kemasgulan kami menjadi musnah. Kami menjadi tenang baik lahir maupun batin; kami telah bahagia dan tenteram.
Hari ini kami mengetahui dengan sungguh-sungguh bahwa kami sebenarnya adalah putera Buddha; lahir dari mulut Sang Buddha, berkembang dari DharmaNya dan mendapatkan tempat dalam Buddha Dharma.”
Pada waktu itu Sariputra, kembali mengungkapkan isi hatinya dengan syair :
Setelah Aku mendengarkan Dharma Agung
Yang sebelumnya belum pernah ku peroleh
Hatiku menjadi gembira dan berbahagia
Segenap keraguan hatiku menjadi musnah
Sejak dahulu kuterima ajaran Sang Buddha
Dan sekarang kuterima ajaran tentang Mahayana
Yang mampu menyelamatkan semua mahluk dari derita
Sebagai misi dari Sang Buddha yang sangat mulia
Aku sekarang telah bersih dari cacat dan noda
Setelah mendengarkan Dharmamu, keresahanku lenyap
Meskipun Aku berada dalam hutan dipergunungan
Duduk bersemadhi dibawah pepohonan yang rindang
Kurenungkan terus masalah yang penting ini
Dan akhirnya Aku mengeluh menyesali diri sendiri
Mengapa aku telah menipu diriku sendiri ?
Bukankah kami putera Buddha?
Yang telah mengerti Dharma sempurna
Namun kini Aku tak mampu lagi
Mencapai jalan yang sejati itu
Ketiga puluh dua tanda kemuliaan
Kesepuluh kesaktian dan delapan kebebasan
Sebenarnya seluruhnya tersimpul dalam satu ajaran
Namun tak mampu aku mencapainya
Kedelapan puluh tanda keluhuran
Kedelapan belas sifat yang khusus
Berkah dan pahala yang demikian
Semuanya telah kulewatkan
Sebelumnya aku seorang diri berkelana
Menyaksikan Sang Buddha dalam Pesamuan Agung ini
Yang kemashurannya berkumandang ke semesta alam
Berkahnya melimpah ruah kepada semua mahluk
Kini kupikir telah hilang kesempatanku ini
Dan aku telah menipu diriku sendiri
Siang dan malam kurenungkan selalu semuanya ini
Ingin aku menanyakan kepada Yang Dipuja Dunia
Telah hilangkah gerangan kesempatanku ini ?
Pernah kusaksikan Yang Dipuja Dunia
Memuji dan menyanjung para Bodhisatva
Hal ini telah kurenungkan siang dan malam
Tetapi, kini………………
Kudengar suara Sang Buddha menyiarkan Dharma
Dharmanya yang tiada cela, tiada terduga dalamnya
Yang dapat menuntunnya mencapai kebijaksanaan
Semula aku memang dihinggapi pandangan salah
Sebagai guru dari pertapa-pertapa yang mustajil
Yang Dipuja Dunia mengerti apa yang tersirat dihatiku
Lalu Beliau memusnahkan kemurtadanku selama ini
Dan mulai mengajarkan kepadaku Jalan ke Nirvana
Kini telah bebas dari ilmu sampingan dan tahyul
Telah dapat menyelami hakekat dari ajaran Sunyata
Kemudian kepada diriku sendiri ku katakan ;
“Kini Aku telah mencapai moksha.”
Tetapi kini kusadari kembali
Bahwa yang kucapai bukan moksha sesungguhnya
Bilamana seorang mencapai tingkat Buddha
Maka dimilikinya ketiga puluh dua tanda
Yang Dipuja oleh para dewa, manusia, yaksa
Naga dan mahluk-mahluk hidup lainnya
Lalu kini dapat kusadari
Bahwa moksha itu berarti lenyap seluruhnya
Tidak ada yang tertinggal walaupun sedikit
Didalam Pesamuan Agung Sang Buddha menyatakan
Bahwa Aku akan menjadi Buddha dikemudian hari
Mendengar Dharma dari Sang Buddha yang demikian
Segenap keraguan dan sesal hatiku menjadi lenyap
Waktu pertama kali mendengar uraian Sang Buddha
Dalam hati timbul kekhawatiran dan keragu-raguan
Mungkin maralah yang menjelma menjadi Buddha
Mengacau dan menyesatkan pikiranku
Namun………..
Setelah Sang Buddha menyakinkanku
Dengan berbagai kiasan dan alasan
Hatiku menjadi lapang kembali
Jala kemasgulan yang mencengkamku telah putus
Sang Buddha menyatakan para Buddha dimasa silam
Yang jumlahnya tiada terbatas dengan tenang kebijaksana
Menguraikan Dharma ini………..
Demikian pula halnya dengan para Buddha yang sekarang
Dan yang akan datang yang tidak ternilai jumlahnya
Yang Dipuja oleh Dunia sekarang ini
Setelah lahir dan meninggalkan rumah
Telah menemukan sang jalan, memutar roda dharma
Mengkhotbahkan dharmanya dengan bijaksana
Yang Dipuja oleh Dunia menguraikan Kesunyataan
Mara tidak akan memiliki ajaran Kesunyataan itu
Sehingga sekarang aku yakin seyakin-yakinnya
Bahwa mara tidak akan menjelma menjadi Buddha
Karena terjerumus kedalam lembah keraguan
Semula aku mengira bahwa itu adalah perbuatan Mara
Tetapi setelah mendengar Sang Buddha menjelaskan Dharma
Dengan suarannya yang lemah lembut, halus dan mendalam
Hatiku menjadi bahagia penuh rasa senang dan gembira
Dan segala sesal dan ragu telah lenyap untuk selamanya
Aku telah tenang dalam menghayati kebijaksanaan sejati
Kini aku yakin, akan menjadi Buddha
Dipuja oleh para dewa dan umat manusia
Memutar roda kebenaran mengajar para Bodhisatva.”
Kemudian Sang Buddha bersabda kepada Sariputra ;
“Kini Ku-nyatakan pada Pesamuan Agung para dewa, manusia, pertapa, brahmana dan lain-lainnya.
Sejak dahulu kala, dihadapan duapuluh ribu keti para Buddha, untuk kepentingan Jalan Yang Sempurna, Ku-ajarkan berturut-turut kepada kalian, selama kalian siang malam mengikuti dan menerima AjaranKu. Dengan bimbinganKu yang bijaksana kalian telah dilahirkan dalam DharmaKu
Sariputra, sejak dahulu kala Ku-harap kemantapanmu terhadap Jalan Buddha. Namun kini telah kaulupakan semua itu dan demikian kau anggap dirimu telah mencapai kemokshaan.
Kini sekali lagi, Ku harap kau ingat kembali jalan yang semula pernah kau tetapkan untuk kau ikuti. Sekarang Ku uraikan kembali bagi segenap sravaka, Sutra Mahayana ini yang disebut Sutra Bunga Teratai, dengan sutra mana para Bodhisatva diberi bimbingan dan sutra ini selalu diamat-amati dan dipertahankan.
Sariputra, dalam dunia yang akan datang, setelah kalpa-kalpa tak terhitung jumlahnya; setelah kau mengabdi ribuan keti para Buddha dan mempertahankan ajaran sejati serta menyelesaikan jalan para Bodhisatva; kau sendiri akan menjadi Buddha dengan nama Padmaprabha Tathagata, terpuja, bijaksana, sempurna, memahami dunia, pemimpin tanpa banding, pembina, guru bagi dewa dan manusia. Yang mendapat Penerangan, Yang Dipuja Didunia. Alamnya akan disebut Viraga; yang tanahnya datar dan lurus, murni dan permai, aman dan makmur, didiami oleh penduduk surga buminya dari ratna manikam. Memiliki delapan jalan bersimpangan, dibatasi dengan tali kencana. Pada setiap jalan berdiri sejajar pepohonan indah sarat dengan buah dan bunga. Tathagata Padmaprabha pun akan mengajar dan membina segenap mahluk hidup dengan Tri-Yana.
Sariputra, bila Buddha itu tampil, meskipun duduk dalam masa kejahatan, ia akan mengajarkan Dharma Tri-Yana karena janjinya semula. Kalpa itu akan disebut Maha Ratna Pratimandita. Mengapa disebut Maha Ratna Pratimandita ? karena pada alam itu para Bodhisatva dianggap permata mulia. Jumlah para Bodhisatva ini tak terbatas, tak terhingga, tak terkhayalkan, diluar perhitungan dan perbandingan, tak tertangkap bagi orang yang tak memiliki kebijaksanaan Buddha. Bilamana mereka berjalan, kakinya menginjak padma-ratna. Para Bodhisatva itu bukannya untuk pertama kali dalam keadaan demikian karena semua mereka itu telah memperkembangkan akar kebajikan lama sekali, selalu melakukan tindak utama dibawah bimbingan beratus-ratus keti para Buddha, selalu disanjung-sanjung oleh para Buddha, selalu menghayati kebijaksanaan Buddha, menyempurnakan kekuatan batin, menyelami sepenuhnya jalan dan segenap dharma, jujur dan murni dalam watak, tegas dalam kemauan dan pikiran. Bodhisatva-bodhisatva demikian ini memenuhi alam tersebut.
Sariputra, hidup Buddha Padmaprabha akan berlangsung dua belas kalpa, tak terhitung waktunya sebagai seorang putera raja sewaktu belum menjadi Buddha. Dan hidup para penghuni alam ini akan berlangsung delapan kalpa.
Tathagata Padmaprabha dalam masa dua belas kalpa itu akan meramalkan keadaan mendatang bagi Bodhisatva Dhritiparipurna yang akan mencapai Penerangan Sejati dan menjelaskan kepada para bhiksu: “Bodhisatva Dhritiparipurna diwaktu mendatang akan menjadi Buddha dengan nama Tathagata Padma Vrishabhavikrama; arhan, samyaksambuddha, alamnya sesuai dengan waktunya pula.
Sariputra, setelah Buddha Padmaprabha lenyap, hukum Dharma akan berlangsung di dunia selama tiga puluh dua kalpa dan kemudian akan berlangsung Hukum Semu, yang juga tiga puluh dua kalpa lamanya.
Pada waktu itu Yang Dipuja Dunia mengulang uraiannya dengan bentuk syair:
Oh, Sariputra, ketahuilah olehmu
Bahwa dimasa mendatang kau akan jadi Buddha
Dengan gelar kesucianmu Padmaprabha
Yang dipuja seluruh mahluk karena kebijaksanaanmu
Kau akan menyelamatkan mahluk-mahluk banyak sekali
Dan memuja para Buddha beribu-ribu jumlahnya
Menyempurnakan perilaku para Bodhisatva
Meningkatkan jasa pahalanya dan kesepuluh kemampuannya
Nanti akan datang kalpa Maha Ratna Pratimandita
Dengan dunianya disebut Viraga, murni tanpa noda
Beralaskan batu permata dengan jalan-jalannya
Dipagari dengan pagar tali emas dikitari pepohonan
Dari tujuh jenis pepohonan mulia yang selalu berkembang
Dunia atau Viraga dihuni oleh para Bodhisatva
Yang tegas dalam kehendak dan pikirannya
Yang memiliki kekuatan gaib dan kesempurnaan
Seluruh ilmu kini telah dimiliki lengkap
Dibawah bimbingan para Buddha
Para Bodhisatva telah belajar jalan kebodhisatvaan
Dibawah pimpinan para Buddha yang akan ditasbiskan
Menjadi Buddha Padmaprabha
Buddha Padmaprabha sewaktu menjadi putra raja
Telah melepaskan kedudukannya meninggalkan keduniawian
Dan akhirnya meninggalkan istananya akan mencapai keBuddhaan
Buddha Padmaprabha akan hidup di dunia ini
Selama dua belas kalpa dengan penghuni dunianya
Akan hidup selama delapan kalpa
Setelah Buddha tersebut mencapai moksha
Dharma sejati akan memerintah dunia
Tiga puluh dua kalpa lamanya
Relik dari Buddha Padmaprabha tersiar kemana-mana
Dipuja oleh para dewa dan umat manusia dimana-mana
Demikian pula tingkah lakunya Sang Buddha Padmaprabha
Demikianlah prilaku dan tingkah perbuatannya
Yang sangat berbudi, tenang dan hikmat dipuja
Yang maha sempurna yang tiada bandingannya
Itulah nyata adalah dirimu sendiri
Karena itu bergembira dan senangkanlah hatimu
Pada waktu itu ke-empat golongan; bhiksu-bhiksuni, upasaka-upasika, beserta para dewa, naga, yaksa, gandharwa, asura, garuda, kimnara, mahoraga dan lain-lainnya; seluruh pesamuan agung, melihat bahwa Sariputra dihadapan Sang Buddha menerima ketentuannya akan mencapai Penerangan Sejati; bersama-sama turut bergembira, melepas jubah masing-masing, mempersembahkannya kepada Sang Buddha sebagai penghormatan sedang Sakra putra dewata mempersembahkan perhiasan-perhiasan kedewataan, menaburi-Nya dengan bunga Mandarava dan sebagainya. Jubah-jubah beterbangan dilangit mengitari mereka sedang beribu-ribu macam suara bunyi-bunyian dewata bergema di udara. Dalam hujan bunga-bunga, para mahluk dewata menyatakan ;
“Roda Dharma Sempurna telah diputar oleh Sang Buddha pertama kali dalam Taman Rusa di Benares, dan kini diputar lagi untuk kedua kalinya.”
Kemudian, semua mahluk dewata, mengulang pernyataan ini dengan syair :
Di Benares dulu telah kau uraikan ajaran
Dengan terperinci kau uraikan ajaran
Tentang Empat Kesunyataan Mulia
Dan tentang timbul lenyapnya skhanda
Kini sekali lagi kau putar roda Dharma
Dharma yang luar biasa dalam sempurnanya
Yang hanya sedikit yang dapat mengertinya
Dahulu kami pernah mendengar
Yang Dipuja Dunia telah berkhotbah
Namun belum pernah kami mendengar
Dharma sejati yang mendalam sempurna
Seperti Yang Dipuja Dunia uraikan sekarang
Yang kami telah ikuti dengan gembira
Yang terpuja kini telah meramalkan
Bahwa Sariputra akan menjadi Buddha
Yang Dipuja oleh seluruh alam semesta
Jalan Buddha mengatasi semua pengertian
Yang diuraikan dengan bijaksana dan tepat
Semoga karma baik kami, dalam dunia ini
Maupun karma baik kami dimasa yang lampau
Semoga menjadi pahala yang mempertemukan kami
Dengan Sang Buddha, membawanya ke Jalan Buddha
Selanjutnya Sariputra menghadap Sang Buddha :
“Yang Dipuja Dunia; kini kami tak ada lagi keraguan dan penyesalan. Dihadapan Sang Buddha kami peroleh kepastian akan mencapai Penerangan Sejati.
Tetapi ke dua ratus orang yang telah menguasai dirinya, yang sejak lama menghayati ke-empat tingkat kerohanian dan selalu dibimbing oleh Sang Buddha, lalu berkata :
“Dharma-Ku mampu memberi kebebasan dari kelahiran, kelapukan, sakit dan mati serta mencapai Nirvana pada akhirnya.”
Tiap orang dari mereka, para Saiksya maupun yang telah selesai Saiksyanya telah pula bebas daripada anggapan keliru tentang “Aku” dn terhadap “Ada” maupun “Tak Ada” dan menganggap dirinya telah mencapai Nirvana.
Tetapi sekarang, dihadapan Sang Buddha, mendengar apa yang belum pernah didengarnya semula, mereka semua menjadi bimbang dan cemas. Karena itu, Yang Dipuja Dunia, silahkan memberi penjelasan kepada ke-empat golongan, agar mereka terhindar dari kebimbangan dan penyesalan.
Lalu Sang Buddha bersabda :
“Wahai, Sariputra, bukankah telah Ku-terangkan sebelumnya, bahwa para Buddha, para Yang Dipuja Dunia, dengan bermacam-macam alasan, kiasan dan istilah telah menguraikan Dharma secara bijaksana, itu semua untuk mencapai Penerangan Sejati. Semua ajaran ini ditujukan untuk meningkatkan para Bodhisatva.
Wahai Sariputra, baiklah Ku-terangakan arti ini lebih jelas dengan sebuah kiasan. Ketahuilah orang-orang pandai mencapai pengertian melalui kiasan.
Sariputra !, bayangkan dalam sebuah kerajaan, dikota atau di dusun ada seorang kepala keluarga yang ternama. Orang itu sudah tua renta tetapi hidupnya berkecukupan, memiliki banyak ladang, rumah, budak, dan pembantu.
Rumahnya luas dan besar, pintunya hanya sebuah, didiami oleh seratus, dua ratus atau lima ratus orang penghuni. Serambi-serambi dan ruangan-ruangannya telah usang dan rusak, dinding-dindingnya melengkung, dasar-dasar tiangnya rapuh, penyangga atapnya rapuh dan sangat membahayakan.
Dari tiap sisi, dalam waktu bersamaan, sekonyong-konyong api berkobar dan rumah itu menyala-nyala. Bayangkan anak-anak orang itu, sepuluh, dua puluh atau tiga puluh orang ada didalam. Kepala keluarga yang melihat api menjilat dimana-mana, sangat terkejut dan berpikir :
“Meskipun aku dapat keluar dengan aman dari rumah terbakar ini, anak-anakku sedang asyik bermain-main didalam, dengan permainannya tanpa cemas, tak mengerti, dan takut. Meskipun api yang dapat mengakibatkan sakit dan derita mengepung mereka, tetapi mereka tak memikirkannya, tidak takut dan tidak berniat lari.”
Sariputra, orang tua tadi merenungkan begini :
“Saya kuat dalam badan dan tenaga dapatkah aku membawa mereka keluar dengan usungan bunga, bangku, atau meja ?
Ia berpikir lagi : “Rumah ini pintunya hanya sebuah pun sempit dan kecil, anak-anakku masih muda, tak tahu apa-apa selain bermain-main, mungkin mereka akan terbakar. Harus kujelaskan kepada mereka bahaya ini, memperingatkan mereka bahwa rumah ini terbakar dan mereka harus cepat-cepat keluar, agar tidak terbakar atau hangus kena api.”
Merenungkan demikian, sesuai dengan pikirannya, ia berseru : “Keluarlah cepat-cepat, kalian semua !” Meskipun Sang Ayah, karena sayangnya membujuk-bujuk dan menegur dengan kata-kata lembut, namu anak-anak yang sedang asyik bermain-main itu segan untuk percaya dan tetap tak menghiraukannya, tak takut dan tak niat lari, lebih lagi mereka tak mengerti api, tak mengerti apa artinya rumah terbakar, tak mengerti apa yang dimaksud dengan mendapat cedera, mereka tetap berlarian kesana kemari, bermain-main kadang-kadang mereka memandang ayah mereka.
Kemudian Ayah anak-anak itu berpikir : “Rumah ini sedang menyala dalam kebakaran besar. Bila aku dan anak-anakku tidak segera keluar, kami niscaya akan terbakar pula. Baiklah kuusahakan cara yang bijaksana agar anak-anakku terhindar dari bencana.”
Mengetahui kesukaan anak terhadap bermacam-macam permainan yang menarik perhatian mereka, ayah mereka lalu berkata : “Barang-barang yang kalian gemari untuk mainan, begitu mahal dan bagus, sekarang ada padaku. Bila kalian tidak segera untuk mendapatkannya, kalian akan menyesal kemudian. Lihatlah bermacam-macam kereta domba, kereta rusa dan kereta lembu ada tersedia diluar pintu untuk kalian pakai bermain-main. Kalian semua harus segera keluar dari rumah terbakar ini, akan kuberikan mana yang kalian sukai.”
Demikianlah, setelah anak-anak itu mendengar adanya permainan yang menarik seperti yang disebutkan oleh ayah mereka, yang sesuai dengan keinginan mereka masing-masing, semua menjadi bersemangat, sambil dorong-mendorong, dan dahulu-mendahului, mereka dengan bersusah payah akhirnya berhasil keluar dari rumah terbakar itu.
Si ayah yang melihat bahwa anak-anaknya selamat semua di halaman, duduk dipinggir lapangan, tak lagi bingung, hatinya tenteram dan gembira sekali.
Anak-anak datang kepadanya : “Ayah, manakah baran mainan yang indah itu seperti ayah janjikan tadi, kereta domba, kereta rusa, kereta lembu.”
Sariputra, sang ayah kemudian memberikan kepada tiap anak sebuah kereta besar, indah dan menarik, dihiasi dengan barang-barang berharga, diberi tempat duduk dan sandaran, digantungi genta-genta pada keempat sisinya; semua diliputi tabir yang dihiasi dengan barang-barang mahal dan bagus pula yang disambung dengan tali-temali penuh batu permata; digantungi bunga rampai; diatas tikar yang indah; dibubuhi bantalan merah; kereta itu ditarik oleh lembu yang putih bersih, tampan dan kuat, yang berjalan dengan langkah tetap secepat angin; ada pula pembantu dan pengiring menjaganya.
Mengapa sang ayah berbuat demikian ? karena ia sangat kaya dan harta benda serta lumbungnya melimpah-limpah.
Orang tua itu berpikir demikian : “Kekayaanku tak terbatas, tak pantas kuberi anak-anakku kendaraan kecil yang kurang berharga. Anak-anakku ini, aku sayangi tanpa perbedaan. Aku memiliki kereta-kereta besar, tak terbatas jumlahnya; mampu kuberikan kepada semua orang; dan sisanya tak akan berkurang apalagi hanya kuberikan kepada anak-anakku saja.”
Sementara anak-anak itu masing-masing telah mengendarai kereta besar, mendapatkan sesuatu yang belum pernah mereka miliki dan belum pernah diharapkan sebelumnya.
Sariputra, bagaimana pendapatmu. Apakah ayah yang memberikan kepada anak-anaknya kereta besar, bagu dan mewah yang sama itu, terlibat dalam ketidak-benaran ?”
Sariputra menjawab : “Tidak, Yang Dipuja Dunia; sang ayah itu hanya mengusahakan agar anak-anaknya terhindar dari bencana kebakaran dan menyelamatkan hidup mereka; ia tidak melakukan ketidak-benaran. Bagaimana ? dengan cara demikian ia menyelamatkan jiwa mereka dan mereka bahkan memperoleh barang mainan; bijaksana sekali tindakannya untuk menyelamatkan anak-anak mereka dari rumah terbakar itu.
Yang Dipuja Dunia, bilamana ia tak memberikan kereta yang kecil sekalipun, maka ia tidak akan melakukan kebenaran. Mengapa ? karena sejak mula ayah itu menetapkan maksudnya : “Dengan cara yang bijaksana kuhendaki anak-anakku selamat.” Dengan dasar inilah ia tidak melakukan tindakan yang tidak benar. Lebih-lebih mengingat, bahwa kekayaannya tak terbatas; ayah yang menghendaki kesejahteraan anak-anaknya itu, telah memberikan kepada mereka kereta besar yang sama.”
Sang Buddha menyahut : “Benar, benar sekali; demikianlah seperti apa yang kaukatakan, Sariputra.
Demikian pula halnya dengan Tathagata, karena ia adalah ayah bagi semua dunia; yang telah bebas daripada takut, putus asa, cemas, kurang pengertian dan kegelapan; telah sempurna dalam pengetahuan, kekuatan batin, dan tanpa takut; memiliki kesaktian dan kebijaksanaan; telah mendapatkan kesempurnaan yang paripurna; yang bermurah hati dan berwelas asih; tak kenal jenuh; selalu mencari apa yang baik dan menguntungkan segenap mahluk.
Beliau dilahirkan dalam Triloka yaitu rumah tua yang terbakar untuk menyelamatkan segenap mahluk hidup daripada kebakaran lahir, umur tua, sakit, mati, cemas, derita, kedunguan, kegelapan, ketiga racun (kilesa) dan mengajarkan kepada mereka bagaimana memperoleh Penerangan Sejati.
Beliau melihat bagaimana segenap mahluk hidup, terjepit oleh nyala api kelahiran, umur tua, sakit, cemas, dan susah, serta menderita bermacam-macam penyesalan disebabkan oleh lima macam keinginan dan ketamakan; bagaimana mereka itu karena kelekatan kepada keinginan serta pengejarannya, sekarang mengalami derita dan kemudian akan menderita dalam neraka ataupun sebagai binatang atau mahluk halus.
Sekalipun mereka dilahirkan dalam surga maupun di antara manusia, mereka tertimpa bermacam-macam penderitaan seperti kemiskinan, kecemasan, terpisah dari yang dicintai, berkumpul dengan yang dibenci. Tenggelam dalam perkara-perkara ini, segenap mahluk hidup gembira dan bersenang-senang; tidak sadar, tidak mengerti, tidak ingat, tidak takut dan tidak bosan; mereka tak ada pikiran untuk mencari kebebasan, melainkan dalam rumah terbakar berlari-larian kian kemari. Meskipun akan mendapat penderitaan besar, mereka tidak menjadi cemas karenanya.
Sariputra, Buddha yang melihat itu semua, berpikir begini : “Aku adalah ayah dari segenap mahluk dan haruslah Ku-renggut mereka dari derita serta memberikan mereka berkah daripada kebijaksanaan Buddha yang kekal dan tanpa batas, sebagai barang permainan.”
Sariputra, Sang Tathagata merenungkan begini : “Jika hanya Ku-pergunakan kekuatan batin dan kebijaksanaan, menyampingkan tiap cara yang tepat dan demi kepentingan segenap mahluk hanya mengandalkan kebijaksanaan, kekuatan dan ketidak-takutan Tathagata, maka para mahluk hidup tak akan tertolong. Mengapa ? Selama mahluk-mahluk ini belum terlepas daripada lahir, umur tua, sakit, cemas dan derita; melainkan masih terbakar dalam rumah berkobar dalam Triloka, bagaimana mereka akan mengerti kebijaksanaan Buddha ?”
Sariputra, seperti pula sang ayah itu, meskipun kuat dalam badan dan tenaga, hanya dengan kebijaksanaan yang tepat, tegas menyelamatkan anak-anaknya dari malapetaka dalam rumah terbakar itu dan kemudian memberikan kepada mereka masing-masing kereta besar yang terbuat dari bahan-bahan mahal; begitu pula Sang Tathagata, meskipun memiliki tenaga dan ketidak-takutan; hal-hal ini tidak dipergunakan; hanya dengan kebijaksanaan yang tepat Beliau memindahkan segenap mahluk hidup dari rumah terbakar Triloka; menguraikan ke-tiga kendaraan, yaitu : Kereta Sravaka, Kereta Pratyekabuddha dan Kereta Buddha.
Kata Beliau kepada mereka : “Kalian semua; jangan bersenang-senang berdiam dalam rumah terbakar Triloka; jangan mengejar-ngejar bentuk, suara, bau, cita rasa. Dengan mengejarnya, kalian terikat kepadanya maka kalian akan terbakar olehnya. Bebaskan dirimu dari Triloka dan dapatkan ketiga kendaraan: Kereta Sravaka, Kereta Pratyekabuddha atau Kereta Buddha. Sekarang kalian Ku-beri jaminan yang terbukti tak akan keliru. Hanya saja agar rajin dan sungguh-sungguh.”
Dengan cara bijaksana yang demikian Sang Tathagata menarik perhatian segenap mahluk; dan selanjutnya berkatalah Beliau:
“Ketahuilah; ketiga kendaraan itu dipuji-puji oleh para bijaksana; dengan kendaraan-kendaraan itu kalian akan bebas dan merdeka, tanpa memerlukan tumpuan lain. Mengendarai tiga kereta itu serta bersarana ke lima kemampuan sempurna, kelima kekuatan, ketujuh tanggapan, kedelapan jalan, pemusatan, pembebasan, serta samadhi; kalian lambat laun akan berbahagia dan memperoleh ketenteraman dan kegembiraan yang tak terbatas.
Sariputra, bila ada mahluk-mahluk hidup memiliki jiwa kebijaksanaan yang mendalam, mengikuti Buddha Yang Dipuja Dunia, mendengarkan Dharma, menerimanya sebagai kepercayaan dan rajin memperoleh kemajuan; berkeinginan cepat-cepat terlepas dari Triloka dan mencari Nirvana bagi dirinya sendiri; mereka itu akan mempergunakan kendaraan yang disebut kereta Sravaka; seperti hanya anak-anak yang keluar dari rumah terbakar menghendaki kereta domba.
Bila ada mahluk-mahluk hidup yang mengikuti Sang Buddha, Yang Dipuja Dunia, mendengarkan Dharma, menerimanya sebagai kepercayaan dan rajin menggalang kemajuan; berkeinginan mendapatkan kebijaksanaan seorang diri, menikmati keseimbangan kebaikan-kebaikan pribadi serta mahir dalam perkara sebab musabab hukum; mereka itu akan mempergunakan kendaraan yang disebut kereta Pratyekabuddha, seperti halnya anak-anak yang keluar dari rumah terbakar menghendaki kereta rusa.
Bila ada mahluk-mahluk hidup yang mengikuti Sang Buddha Yang Dipuja Dunia, mendengarkan Dharma, menerimanya sebagai kepercayaan dan rajin melaksanakannya, maju penuh semangat; mencari kebijaksanaan yang paripurna; yaitu kebijaksanaan Buddha yang murni, kebijaksanaan tanpa guru; serta pengetahuan, kekuatan dan ketidak-takutan Sang Tathagata; yang menaruh welas asih kepada mahluk-mahluk tak terhitung jumlahnya serta meringankan mereka; bermanfaat bagi dewa dan manusia; menyelamatkan segenap mahluk; mereka itu menggunakan kendaraan yang disebut Mahayana. Karena para Bodhisatva memilih kendaraan ini, mereka disebut Mahasatva. Mereka adalah seperti anak-anak yang keluar dari rumah terbakar menghendaki kereta lembu.
Sariputra, sebagaimana ayah yang melihat anak-anaknya keluar dengan selamat dari rumah terbakar dan sampai pada tempat yang bebas dari ketakutan, dan dengan kekayaannya yang melimpah-limpah, memberikan anaknya masing-masing sebuah kereta besar; begitu pula Sang Tathagata. Sebagai ayah dari segenap mahluk hidup yang melihat mahluk-mahluk tak terhitung ribuan keti jumlahnya, dengan ajaran Buddha telah terlepas dari derita Triloka; dari jalan yang menakutkan dan berbahaya; kemudian mendapatkan kesenangan Nirvana; Sang Tathagata berpikir begini :
“Ku-miliki secara tak terbatas dan kekal kebijaksanaan, kekuatan, ketidak-takutan dan harta karun para Buddha. Segenap mahluk hidup ini adalah anak-anak-Ku, kepada siapa Ku-berikan kendaraan besar ( Mahayana ) yang sama; sehingga tak ada seorang yang akan memperoleh Nirvana pribadi, melainkan semua akan mendapatkan Nirvana bersama-sama Tathagata.
Semua mahluk hidup yang terlepas dari Triloka diberikan benda mainan dari para Buddha yaitu : pemusatan, kebebasan dan lain-lainnya; semua sama dalam bentuk dan macamnya; yang mendapat pujian para bijaksana; yang menghasilkan kesenangan murni dan agung.
Sariputra, sebagai pula ayah itu mula-mula menarik perhatian dengan tiga kendaraan dan kemudian hanya memberikan sebuah kereta yang besar, dihias meriah dengan barang-barang yang mewah; orang tua itu telah melakukan kebenaran; begitu pula pada Sang Tathagata telah melakukan kebenaran. Mula-mula Ia menarik perhatian semua mahluk dengan tiga macam kendaraan dan kemudian bagi keselamatan mereka hanya memberikan kendaraan besar saja. Bagaimana ? karena Sang Tathagata memiliki kebijaksanaan tanpa batas, kekuatan, tiada rasa takut dan memiliki pula harta karun Dharma; mampu memberikan segenap mahluk hidup Dharma Mahayana; namun tidak semua mampu untuk menerimanya.
Sariputra, oleh sebab itu ketahuilah bahwa para Buddha dengan kekuatan kebijaksanaannya; dengan satu kendaraan Buddha membeda-bedakan dan menyampingkan yang tiga.”
Sang Buddha, kembali menyatakan AjaranNya dalam bentuk stansa :
39. “Bayangkan, ada seorang ayah mempunyai sebuah rumah tua, tidak kokoh; serambi-serambinya usang, tiang-tiangnya rapuh pada dasarnya.’
40. Jendela-jendela dan langkah-langkahnya sebagian rusak, dinding serta pelapis dan perekatnya sudah hancur, tutupnya terpecah-pecah sedang atapnya dimana-mana berlubang.
41. Penghuninya tak kurang dari lima ratus orang banyak kamar kecil penuh dengan tinja yang menjijikkan.
42. Penyangga atap seluruhnya terlepas, dinding-dinding sebagian melengkung; didiami oleh ribuan rajawali; demikian pula merpati, burung hantu dan burung-burung lainnya.
43. Pada tiap ujung terdapat ular-ular berbahaya, kebanyakan berbisa dan mengerikan; kalajengking dan bermacam-macam tikus; rumah ini ada pula tempat tinggal mahluk-mahluk keji yang tak dapat dilukiskan.
44. Selanjutnya disana-sini dijumpai mahluk-mahluk halus. Rumah itu kotor dari tinja dan air kencing; penuh dengan cacing-cacing, serangga dan lalat; menggema suara anjing dan serigala meraung-raung.
45. Dalam rumah itu terdapat ajak yang biasa menelan bangkai manusia; anjing dan serigala mencari mayat.
46. Binatang-binatang yang kurus kering karena selalu lapar kian kemari mencari mangsa sambil berkelahi, memenuhi ruangang-ruangan dengan suara mengerang. Demikianlah rumah yang mengerikan itu.
47. Ada pula hantu-hantu jahat yang menjamah badan manusia; ditempat-tempat lain ada lipan, ular-ular yang menakutkan dan berbahaya.
48. Binatang-binatang itu merangkak-rangkak disemua suduh dimana mereka membuat sarang bagi keturunan mereka yang banyak juga ditelan oleh hantu-hantu.
49. Hantu-hantu yang kenyang dengan daging mahluk-mahluk lain sehingga badannya menjadi gemuk, saling berkelahi mati-matian.
50. Dalam ruang-ruang yang rawan terdapat hantu-hantu jahat yang menakutkan, diantaranya ada yang besarnya setengah depa, satu atau dua depa; semuanya cekatan dalam geraknya
51. Mereka biasa menangkap anjing pada kakinya, melemparkannya terbalik di tanah, mencubit lehernya dan membiarkannya kesakitan.
52. Ada pula hantu yang menjerit-jerit, telanjang, hitam, pucat, besar dan tinggi; yang karena kelaparan mencari makan disana-sini sambil mengeluarkan suara sesal.
53. Ada yang mulutnya seperti jarum, lainnya bermulut seperti mulut lembu; besarnya seperti manusia atau anjing, rambutnya kusut; mereka mengeluarkan ratapan-ratapan sambil mencari makan.
54. Hantu dan jin-jin ini, seperti pula rajawali, selalu mengintip dari jendela dan lubang-lubang kesemua jurusan sewaktu mencari makan.
55. Demikianlah keadaan rumah yang suram itu; luas dan tinggi, tetapi sangat lapuk; penuh dengan lubang-lubang, ruai dan suram; bayangkan itu milik seseorang.
56. Sewaktu ia sedang di luar, rumahnya terjilat api dan cepat-cepat diliputi nyala-nyala ditiap sisi.
57. Tiang dan rusuk segera berkobar, penyangga dan sekat menyala gemercak; sangat menyeramkan sedang hantu-hantu menjerit-jerit.
58. Rajawali beratus-ratus terusir; jin-jin mundur dengan muka lesu; ratusan binatang galak yang telah hangus berlarian sambil berteriak-teriak.
59. Kuntilanak-kuntilanak bergerak, terbakar oleh api; sambi menyala mereka tarik menarik masing-masing dengan gigi dan darah mereka memercik kemana-mana.
60. Serigala-serigala mati juga, bangkai mereka dimakan teman-temannya. Tinja terbakar pula menyiarkan bau busuk yang menjijikkan.
61. Lipan-lipan yang berusaha terbang, ditelan oleh jin-jin. Begitu pula hantu-hantu dengan rambut terbakar mondar-mandir tercekam oleh lapar dan panas.
62. Dalam keadaan demikianlah rumah dahsyat itu, dimana beribu-ribu nyala keluar dari tiap sisinya. Sedang pemiliknya melihat dari luar.
63. Didengar olehnya suara anak-anaknya sendiri yang pikirannya terpusat pada permainan, sedang asyik, bersenang-senang seperti orang dungu dalam kebodohannya.
64. Mendengar suara mereka, sang ayah segera masuk untuk menyelamatkan mereka yang tidak mengerti, agar tidak musnah terbakar.
65. Ia terangkan keadaan rumahnya; katanya : “Wahai anak-anak muda tersayang; inilah rumah celaka, sangat membahayakan; mahluk-mahluk jahat ada didalamnya dan tambah lagi api ini merupakan rangkaian jahanam.
66. Ada didalam ular, hantu jahat, jin dan kuntilanak dalam jumlah banyak; serigala, kelompok-kelompok anjing dan ajak; demikian pula rajawali mencari mangsa.
67. Mahluk-mahluk demikian hidup dalam rumah ini; terlepas daripada adanya api; cukup menakutkan dan menyeramkan; dan sekarang api menjilat-jilat dari segenap jurusan.
68. Namun anak-anak yang dungu itu, meskipun diperingatkan, tidak memperhatikan kata-kata sang ayah karena terpikat oleh permainan; mengert maksudnya pun tidak.
69. Orang itu lalu berpikir : “Kini aku dalam keadaan cemas menghadapi anak-anakku. Apa guna punya anak, bila aku kehilangan mereka ? tapi, mereka tak akan musnah terbakar.
70. Sekonyong-konyong sebuah akal melintas dalam pikiran : “Anak-anak muda yang tak sadar ini gemar akan barang-barang permainan dan sekarang mereka tak ada untuk bermain-main. Bodoh sekali mereka itu.
71. Katanya : “Dengarkanlah anak-anak; ayah ada kereta bermacam-macam, ditarik oleh domba, rusa dan lembu, bagus sekali, indah, besar, dan dilengkapi seluruhnya.
72. Barang-barang itu ada diluar; larilah kalian keluar dan pergunakan barang-barang itu sekehendak kalian; memang untuk kalianlah kusuruh buat kereta-kereta itu. Larilah kalian keluar dan bergembiralah mendapatkan barang-barang itu ! ”
73. Segenap anak-anaknya, mendengar tentang kereta-kereta itu, seketika berusaha berlari keluar cepat-cepat dan mencapai udara terbuka, terhindar daripada luka-luka.
74. Melihat bahwa anak-anaknya telah keluar, orang itu menuju lapangan ditengah-tengah desa dan dari singgasana tempat ia duduk, ia berkata : “Syukurlah, sekarang aku merasa tenteram.
75. Anak-anakku yang kukasihi ini telah kuselamatkan dengan susah payah; kedua puluh anak-anakku tersayang adalah dalam rumah yang berbahaya, mencelakakan dan mengerikan, penuh binatang-binatang buas.
76. Meskipun rumah terbakar dan diliputi nyala api, mereka bersenang-senang dengan permainan; namun kini mereka semua telah kuselamatkan. Karenanya aku merasa sangat bahagia.”
77. Anak-anak yang melihat ayah mereka berbahagia, menghampirinya dan berkata: “Ayah sayang, berikanlah kami apa yang ayah tadi janjikan : kereta-kereta indah tiga macam itu.
78. Tepatilah apa yang telah dijanjikan dalam rumah tadi sewaktu ayah berkata : “Akan kuberikan kalian tiga macam kendaraan.” Berikanlah barang-barang itu, sekarang tepat waktunya.”
79. Orang yang kita bayangkan tadi mempunyai harta benda banyak emas, perak, permata dan mutiara; dimiliki lempengan-lempengan logam mulia; budak-budaknya banyak; perabot rumah dan kendaraan berjenis-jenis.
80. Kereta-kereta dibuat dari bahan mahal, dihela oleh lembu; sangat mewah dengan bangku-bangku dan sebaris genta yang menggelenting; dihias dengan payung dan panji-panji serta dibubuhi hiasan batu permata dan mutiara.
81. Kereta-kereta itu dihias dengan emas, karangan bunga buatan digantungkan sana-sini; seluruhnya diselubungi kain dan muslin putih.
82. Lebih lanjut kereta-kerete itu dilengkapi dengan kasuran istimewa dari sutera halus sebagai bantalannya; dialasi permadani khusus yang bergambarkan burung-burung bangau dan undan ; seharga ribuan keti.
83. Kereta-kereta dihela oleh lembu-lembu putih yang terpelihara, kuat, berbadan tegap, bagus sekali; orang banyak merawatnya.
84. Kereta-kereta sempurna demikian itulah yang diberikan orang tersebut kepada segenap anak-anaknya; mereka sangat gembira dan tertarik; segera bermain-main dengan kereta masing-masing kesegenap jurusan.
85. Dengan cara yang sama, Wahai Sariputra !, Aku Yang Maha Tahu, adalah ayah dan pelindung bagi segenap hidup dan semua mahluk yang seperti anak-anak tercekam oleh kesenangan-kesenangan Triloka adalah anak-anak-Ku.
86. Triloka itu berbahaya seperti rumah tadi, diliputi oleh sejumlah kejahatan-kejahatan, seluruhnya terbakar pada tiap sisinya oleh bermacam-macam lahir, umur tua, sakit.
87. Tetapi, Aku yang telah terlepas dari Triloka dan tenteram, berdiam dalam pengasingan mutlak ditengah-tengah hutan. Triloka ini adalah rumah-Ku dan mereka yang ada didalamnya menderita kepanasan dan terbakar, adalah anak-anak-Ku.
88. Dan Aku jelaskan kejahatan-kejahatannya karena Aku berketepatan hati menyelamatkan mereka; tetapi mereka tidak mau mendengarkan Aku, karena mereka semua tidak mengerti, sedang hati mereka melekat kepada kesenangan-kesenangan nafsu.’
89. Karenanya Aku pergunakan akal yang mungkin dan mengatakan kepada mereka tentang tiga macam kendaraan; demikian menunjukkan sarana untuk menghindari bermacam-macam kejahatan dari Triloka yang Ku-ketahui.
90. Anak-anak-Ku yang patuh padaKu; yang menguasai ke-enam kekuatan gaib (Abhigna) dan ke-tiga ilmu; para Pratyekabuddha maupun para Bodhisatva, tak mungkin tergelincir.
91. Dan kepada mereka yang lain, yang juga anak-anak-Ku kepada mereka dengan kiasan yang tepat ini, Ku tunjukkan kendaraan Buddha yang tunggal. Terimalah, kau kalian akan menjadi Jina.
92. Adalah sangat mulia dan indah; yang paling terpuja didunia, yaitu pengetahuan Para Buddha; yang paling tinggi diantara manusia; sesuatu yang mulia dan terpuja.
93. Kekuatan-kekuatan, samadhi, tingkat-tingkat kebebasan dan renungan diri yang telah dilakukan oleh ratusan keti orang, adalah kendaraan terpuji dimana putra-putra Buddha mendapat kebahagiaan tanpa henti.
94. Bermain-main dengan kendaraan itu dilakukan siang malam, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bermusim-musim, bertahun-tahun, berkalpa-kalpa, ya selama ribuan keti kalpa.
95. Inilah kendaraan yang indah daripada permata, dipergunakan oleh perbagai Bodhisatva dan Siswa yang mendengarkan Sugata untuk berjalan dan menginjak pintu gerbang Penerangan.
96. Ketahuilah Tishya (Sariputra) bahwa tak ada kendaraan kedua dimana saja terdapat didunia ini, kejurusan manapun kau mencari; terlepas daripada tujuan tertinggi diantara umat manusia.
97. Kalian adalah anak-anak-Ku, Aku adalah ayah kalian yang menghindarkan kalian dari sakit, dari Triloka, dari takut dan bahaya; sewaktu kalian terbakar selama banyak kalpa.
98. Ku-ajarkan ketenteraman terberkahi (Nirvana), meskipun kalian belum mencapai ketenteraman mutakhir; setidak-tidaknya kalian terlepas dari kerusakan pergolakan duniawi, bila kalian bertindak mencari kendaraan para Buddha.
99. Tiap Bodhisatva yang ada disini mengikuti aturan Buddha-Ku. Demikianlah kecakapan Jina membina Bodhisatva banyak.
100. Sewaktu mahluk-mahluk didunia ini menikmati kesenangan-kesenangan rendah dan hina, Sang Raja Dunia yang selalu bicara benar, menyatakan derita sebagai kesunyataan.
101. Kepada mereka yang tak sadarkan pikirannya terlalu sederhana untuk menemukan akar daripada derita itu Ku-buka jalannya : “Terbukanya kesadaran penuh; keinginan kuat adalah asal mula derita.”
102. Usahakanlah selalu, tak terlekat, untuk menindas keinginan. Inilah Kesunyataan-Ku yang ketiga : Penindasan Keinginan. Inilah cara pelepasan yang tak dapat gagal.
103. Dan daripada apa mereka bebas, Sariputra ? Mereka bebas dari kekhayalan. Namun mereka belum bebas sepenuhnya; Sang Raja menyatakan mereka belum mencapai ketenteraman mutakhir di dunia ini.
104. Mengapa Ku-nyatakan seseorang telah terlepas sebelum mencapai Penerangan Sejati yang paling unggul ? karena demikianlah kehendak-Ku. Akulah penguasa Dharma yang dilahirkan di dunia ini untuk memimpin ke arah kebahagiaan.
105. Inilah, Sariputra, kata penutup Dharma-Ku yang sekarang; untuk yang terakhir Ku-nyatakan demi kebahagiaan dunia; meliputi juga dewa-dewanya. Siarkanlah perkara ini kesegenap penjuru.
106. Bilamana seseorang berkata kepadamu : “Ku-terima dengan gembira” dan menerima sutra ini dengan menghormatinya sungguh-sungguh, boleh kau anggap orang itu tak mungkin akan gagal.
107. Untuk percaya kepada Sutra ini, seseorang harus menjumpai para Tathagata yang lain, menghormat pada mereka dan mendengar Dharma seperti ini.
108. Untuk percaya kepada kata-Ku yang unggul, seseorang harus melihat Aku. Kau dan pesamuan bhiksu-bhiksu telah melihat semua Bodhisatva ini.
109. Sutra ini tepat untuk memecahkan persoalan kebodohan dan tak Ku-nyatakan sebelum Aku menembus pengetahuan sempurna. Sungguh; itu tak dalam kemampuan para siswa, begitu pula para Pratyekabuddha tak termasuk kedalamnya.”
110. Tetapi kau, Sariputra, ada kemauan baik, demikian pula para siswa disini. Mereka akan berjalan menurut kepercayaan-Ku, meskipun masing-masing tak dapat memiliki pengetahuannya secara pribadi.
111. Namun, janganlah membicarakan persoalan ini kepada orang-orang yang sombong, yang congkak, maupun kepada para yogi yang tak menguasai diri; para dungu yang selalu mendambakan nafsu-nafsu kesenangan; dalam kebutaannya mereka dapat menghina Dharma yang sudah dinyatakan.
112. Dengarkanlah akibat ngeri bila seseorang menghina kecakapan-Ku dan ajaran-ajaran Buddha yang telah ditetapkan di dunia, bila seseorang dengan berkepala batu menghina kendaraan.
113. Dengarkanlah nasib mereka yang telah menghina Sutra seperti ini, baik selama hidup-Ku maupun setelah Ku mencapai Nirvana; ataupun mereka yang telah menghina para bhiksu.
114. Setelah musnah dari lingkungan manusia, mereka akan berdiam dalam neraka yang paling dalam (Avici) selama satu kalpa penuh dan kemudian mereka akan jatuh semakin dalam; orang-orang bodoh itu akan melewati kelahiran berulang-ulang selama banyak kalpa.’
115. Dan setelah mereka musnah dari lingkungan penghuni neraka, mereka selanjutnya akan turun dalam keadaan garang, sebagai anjing atau serigala dan menjadi sasaran permainan bagi orang lain.
116. Dalam keadaan demikian mereka menjadi berwarna hitam berbisul-bisul, diliputi penyakit, gatal-gatal, lebih lanjut tak berambut dan lemah; mereka semua yang menentang Penerangan-Ku yang unggul ini.’
117. Mereka selalu dipandang hina dilingkungan binatang; dilempar-lempari gumpalan tanah atau kena senjata, mereka menjerit-jerit; dimana-mana diperlakukan dengan tongkat dan badannya menjadi kurus karena lapar dan haus.
118. Kadang-kadang mereka menjelma menjadi onta atau keledai pengangkut beban, selalu dipukul dengan cambuk dan tongkat; mereka selalu memikirkan makan; demikianlah orang-orang bodoh yang menghina ajaran Buddha.
119. Pada waktu lain mereka menjadi serigala buruk, setelah buta dan timpang; mahluk-mahluk tak berdaya ini diganggu oleh anak-anak kampung yang melemparinya dengan gumpalan tanah atau barang lain.
120. Lagi, keluar dari tempat tersebut, orang-orang bodoh itu menjadi binatang-binatang yang badannya sebesar lima ratus yojana, berputar-putar kian kemari, tak bertenaga dan malas.
121. Mereka tidak berkaki dan merayap diatas perut; diganggu oleh berkoti-koti binatang lain adalah hukuman mereka yang menghina Sutra seperti ini.
122. Dan bilamana mereka mendapat tubuh manusia, mereka dilahirkan pincang, cacat, bongkok, bermata satu, buta, dungu dan hina; mereka tak ada kepercayaan terhadap Sutra-Ku.
123. Tak ada orang yang mendekat; bau busuk selalu keluar dari mulutnya; mahluk-mahluk halus yang jahat memasuki badan siapa yang tak percaya kepada Penerangan Sejati ini.
124. Miskin, harus melakukan pekerjaan kasar, selalu menjadi budak orang lain, lemah dan menjadi korban bermacam-macam penyakit; mereka di dunia tanpa ada yang melindungi.
125. Orang yang kebetulan menjadi majikannya, tak bersedi memberi upah banyak, dan apa yang diberikan cepat-cepat habis. Itulah hasilnya orang berdosa.
126. Obat-obatan baik yang disediakan oleh mereka yang mampu, dalam keadaan demikian bahkan akan menambah sakitnya dan penderitaannya tak habis-habis.
127. Ada yang melakukan pencurian, keributan, serangan atau tindak kejahatan; sedang yang lain menjadi perampok; hal-hal yang demikian menimpa setiap orang yang berdosa.
128. Tak pernah mereka melihat Raja Dunia, Raja diraja yang memerintah bumi, karena mereka ditakdirkan hidup pada waktu yang salah; mereka yang menghina ajaran Buddha dari-Ku.
129. Orang bodoh itupun tak mendengarkan ajaran; ia tuli dan tak berperasaan; ia tak akan mendapatkan ketenteraman karena menghina Penerangan ini.
130. Selama ratusan ribu koti kalpa, sama dengan jumlah pasir di sungai Gangga, ia akan tetap dungu dan lemah pikirannya, karena menghina Sutra ini.
131. Neraka adalah tempat kediamannya, tempat sial lingkungannya; ia selalu hidup diantara keledai, babi, serigala dan anjing.
132. Dan bila menjelma dalam badan manusia, ia akan buta, tuli, dungu, budak dari orang lain dan selalu miskin.
133. Penyakit-penyakit, ribuan luka dibadan, kudis, gatal-gatal, kurap, kusta, bisul dan bau busuk meliputi badannya.
134. Pandangannya gelap untuk dapat memperbedakan mana yang nyata. Kemarahan menguasai dirinya dan nafsunya sangat dahsyat; ia selalu menikmati rahim binatang.
135. Bila Ku-teruskan, Sariputra, selama se-kalpa penuh menyebut kebusukan orang yang menghina Sutra-Ku, tak akan habis-habis.
136. Dan karena Aku menyadarinya, Ku-perintahkan kau Sariputra, jangan kau uraikan Sutra seperti ini kepada orang-orang bodoh.
137. Tetapi mereka yang berakal sehat, terlatih, penuh perhatian, pandai dan terpelajar; yang mencari Penerangan mulia dan tertinggi; kepada mereka uraikanlah arti yang sesungguhnya.
138. Mereka yang telah melihat ribuan Buddha, telah menanam akar kebaikan tak terhitung banyaknya, dari menempuh niat yang teguh; kepada mereka uraikanlah arti yang sesungguhnya.
139. Mereka yang penuh semangat, telah lama memperkembangkan kemurahan hati, telah mengorbankan raga dan jiwanya; kepada mereka kau boleh menerangkan Sutra ini.
140. Mereka yang menunjukkan saling rasa cinta dan hormat; tidak berhubungan dengan orang-orang bodoh dan puas hidup dalam gua-gua dipegunungan; kepada mereka uraikan Sutra yang suci ini.
141. Bila kau jumpai putra-putra Buddha yang berhubungan dengan teman-teman bajik, menjauhi teman-teman jahat; jelaskan Sutra ini kepada mereka.
142. Putra-putra Buddha itu yang tak mengingkari sumpahnya kebaikan, adalah bagaikan batu mulia dan permata dan mengkhususkan diri untuk mempelajari Sutra-sutra besar.