Saddharma Pundarika Sutra (Terjemahan Indonesia) Bab IV

0
156
Lotus Sutra

Saddharma Pundarika Sutra (Terjemahan Indonesia) Bab IVLotus Sutra
BAB IV – SASARAN YANG TEPAT
Sumber: “The Lotus Sutra” By Soothill And Kern
Diterjemahkan oleh Giriputra Soemarsono dan Drs.Oka Diputhera
Terbitan: Departemen Agama Republik Indonesia

Pada saat itu Subhuti, Maha Katyayana, Maha Kasyapa dan Maha Maudgalyayana yang telah dilahirkan dengan kebijaksanaan, menjadi kagum serta dihinggapi perasaan gembira setelah mendengar dari Sang Buddha tentang hukum yang belum pernah diajarkan sebelumnya oleh Sang Buddha dan tentang Penerangan Agung dari Sariputra. Kemudian mereka bangkit dari tempat duduknya dan sambil mengatur pakaian, mereka menutup bahu kanan serta meletakkan lutut mereka diatas tanah mengkatupkan tangannya, membungkukkan badan dengan takzim dan memandang ke arah wajah Sang Buddha, mereka menyapa Sang Buddha dan berkata :
“Kami para ketua dari Viharawan-viharawan yang sudah tua dan sudah lanjut usia, beranggapan bahwa kami telah mencapai Nirvana sehingga tidak ada lagi yang bisa kami lakukan, oleh karenanya kami tidak mendesak untuk mencari Penerangan Agung. Sang Buddha telah lama mengkhotbahkan hukum dan selama itu pula kami duduk ditempat merasa badan kami lesu dan hanya berpikir tentang kehampaan, tentang Arupa dan yang tanpa arah. Tetapi sesuai dengan hukum-hukum Bodhisatva, contoh-contoh kegaiban, membersihkan kawasan kebuddhaan dan menyempurnakan semua mahluk, kami tidak dapat membayangkan sedikitpun adanya rasa bangga. Betapapun juga perasaan kami meluap-luap dengan penuh kegembiraan setelah mendengar sabda Sang Buddha bahwa para sravaka (siswa) telah mencapai Penerangan Agung. Betapa gembiranya hati kami dihadapan Sang Buddha karena memperoleh apa yang belum pernah kami alami. Secara tak terduga kami sekonyong-konyong mendengar hukum yang gaib ini. Kita merasa bangga mendapatkan mantra yang bermutu ini, tanpa mencarinya.
Yang Maha Agung Sang Buddha : ” Perkenanakanlah kami sekarang berbicara dalam perumpamaan untuk menjelaskan maksud ini.”
“Seperti seorang laki-laki yang pada masa mudanya meninggalkan ayahnya pergi. Lama ia tinggal di negeri-negeri lain selama 10,20, atau 50 tahun. Semakin ia menjadi tua, semakin banyak pula kebutuhannya. Ia mengembara ke segala penjuru untuk mencari sandang dan pangan sampai akhirnya ia mendekati tanah kelahirannya tanpa diduga-duga. Dari semula ayahnya mencari anak ini tetapi sia-sia belaka, sementara itu ia tinggal di suatu kota tertentu. Rumahnya menjadi sangat kaya raya, barang-barang dan harta bendanya sudah tak terhitung lagi, emas, perak, lapiz lazuli, kerang, ember, kristal dan permata-permata lain sehingga lumbung dan harta bendanya melimpah-limpah. Ia banyak mempunyai orang muda dan budak, pembantu dan pelayan serta memiliki banyak gajah, kuda, kereta, lembu dan domba yang tak terhingga jumlahnya. Penghasilan dan modal-modalnya tersebar di negeri-negeri lain, pedagang dan langganan-langganannya pun luar biasa banyaknya.
“Pada saat ini, si anak malang mengembara dari desa ke desa dan menjelajahi banyak negeri dan kota hingga akhirnya sampailah ia di kota dimana ayahnya tinggal. Sang ayah selalu memikirkan anaknya dan meskipun ia telah terpisah darinya selama 50 tahun, belum pernah ia membicarakan hal ini dengan orang lain. Ia selalu merenung sendiri tentang hal ini dan selalu menyimpan penyesalannya ini dalam hatinya. Dalam renungannya ia berpikir: “Saya sudah tua dan sudah lanjut usia, dan saya memiliki banyak kekayaan emas, perak, permata, lumbung serta harta benda yang melimpah-limpah, tetapi saya tidak berputera. Suatu hari nanti, akhir hayat saya akan tiba dan kekayaanku akan berceceran dan hilang karena tiada seorangpun yang mewarisinya.” Demikianlah keadaan orang tua itu, dan bilamana ia teringat akan puteranya, pikiran ini datang lagi :
“Seandainya aku bisa mendapatkan anakku kembali dan memberikan kekayaanku kepadanya, betapa puas dan gembiranya hatiku tanpa adanya kekhawatiran lagi.”
“Yang Maha Agung ! Sementara itu si anak malang bekerja di sana sini dan tanpa diduganya, sampailah ia di kediaman ayahnya. Sambil berdiri diambang pintu, ia melihat dari kejauhan ayahnya duduk disebuah kursi berbentuk singa dan kakinya diatas penunjang kaki yang bertatahkan manikam serta tubuhnya berhiaskan untaian mutiara yang berharga ratusan ribu, dipuja dan dikelilingi oleh para Brahmana, Kesatrya dan penduduk. Para pelayan dan bujang muda yang berselempang putih melayaninya dikanan kiri. Ia bertutupkan sehelai tirai yang indah yang digantungi rangkaian-rangkaian bunga. Bebauan yang harum semerbak diatas bumi, segala macam bunga-bunga yang mashur tersebar disekeliling dan benda-benda yang berharga diatur berderetan, beberapa diantaranya diterima dan yang lain ditolaknya. Demikianlah kemuliaan dan keagungan martabatnya.
Melihat ayahnya memiliki kekuasaan yang sedemikian besarnya, si anak malang itu tercekam oleh perasaan takut dan menyesal bahwa ia telah datang ke tempat ini, sehingga diam-diam ia berpikir :
“Tentunya ia seorang raja atau seorang keturunan raja dan ini bukanlah tempat bagi saya untuk bekerja. Lebih baik saya pergi kedusun-dusun yang kecil dimana ada tempat bagiku untuk bekerja dan dimana sandang dan pangan lebih mudah diperoleh. Jika saya berlama-lama disini, mungkin saya akan mengalami aniaya dan dipaksa bekerja.”
Setelah berpikir demikian, ia segera pergi. Tetapi pada saat itu, orang tua yang duduk di kursi singanya telah mengenali anaknya pada pandangan pertama dan dengan kegembiraan yang luar biasa dalam hati, ia berpikir :
“Sekarang aku telah menemukan seseorang kepada siapa harta kekayaanku akan kuwariskan. Selalu aku pikirkan anakku ini tanpa dapat menemuinya, tetapi tiba-tiba ia telah datang sendiri dan rasa rinduku terobati. Meskipun telah lanjut usianya, aku tetap merindukannya.” Dengan segera ia mengutus pembantu-pembantunya untuk mengejarnya dan membawanya kembali. Kemudian utusan-utusan itu bergegas menangkapnya. Si anak malang itu menjadi terkejut dan ketakutan dan dengan keras ia berteriak membantah : ” Saya tidak menganggu kalian, mengapa saya harus ditangkap ?” Tetapi utusan-utusan itu bertindak lebih cepat lagi untuk menangkapnya dan memaksanya balik kembali. Kemudian anak malang itu berpikir dalam hatinya bahwa meskipun ia tidak bersalah namun ia akan dipenjarakan juga, hal ini pasti berarti kematiannya sehingga bertambah ngerilah hatinya dan akhirnya pingsanlah ia dan rubuh ketanah.
Ayahnya yang melihat dari kejauhan kemudian memerintahkan utusannya sambil berkata: “Tidak ada gunanya orang ini, jangan membawanya dengan paksa. Teteskan air dingin pada wajahnya agar ia sadar kembali dan jangan bicara apapun lagi padanya.” Betapapun juga sang ayah mengetahui watak anaknya yang rendah diri dan menyadari kedudukannya sendiri yang seperti raja itu, telah menyebabkan kedukaan pada anaknya.
Meskipun demikian, ia semakin percaya bahwa anak ini adalah anaknya, tetapi dengan kebijaksanaan ia tidak mengatakan apapun pada orang lain bahwa anak ini adalah anaknya sejati. Salah seorang utusan itu berkata pada anak yang malang itu : “Sekarang engkau saya bebaskan. Pergilah kemana engkau suka.” Anak yang malang itu menjadi gembira karena memperoleh apa yang tidak diharapkannya. Ia bangkit dari tanah dan pergi ke sebuah pedusunan yang miskin untuk mencari sandang dan pangan.
Kemudian orang tua yang ingin menarik hati anaknya itu, mulai mengatur suatu rencana. Dengan diam-diam, ia mengirimkan 2 orang yang kelihatannya sedih dan tidak berwibawa sambil berkata : ” Kalian pergi dan kunjungilah tempat itu kemudian katakan dengan halus pada orang yang malang itu : ada tempat bagimu untuk bekerja disini dan engkau akan diberi upah lipat dua”, jika orang itu menyetujui, bawalah ia kembali dan berilah ia pekerjaan. Dan jika ia bertanya tentang pekerjaan apa yang akan dikerjakannya, kemudian kalian boleh berkata kepadanya : “Kami memberimu pekerjaan untuk membersihkan tumpukan kotoran dan kita berdua juga akan senang bekerja bersamamu.”
Kemudian kedua orang utusan itu berangkat mencari anak yang malang, dan setelah menemukannya, mereka mengatakan tentang asal usul diatas kepadanya. Kemudian setelah menerima uang muka, si anak malang itu bergabung bersama mereka membersihkan kotoran-kotoran. Ayahnya yang sedang memperhatikan anaknya itu, dicekam rasa haru dan kasihan kepadanya.
Pada suatu hari ia melihat dari kejauhan lewat jendela, perawakan anaknya yang ceking, kurus dan muram dikotori dan dinodai oleh tumpukan kotoran dan debu, kemudian ia menanggalkan untaian permatanya, pakaiannya yang lembut dan perhiasan-perhiasannya serta mengenakan kembali pakaian yang kasar, compang-camping serta kotor, lalu ia melumuri tubuhnya dengan debu dan mengambil sebuah panci debu ditangan kanannya serta dengan lagak yang tegas ia berkata : “Lanjutkan pekerjaan kalian, jangan bermalas-malasan.” Dengan rencana yang demikian itu, ia mendekati anaknya dan berkata : “Wahai orangku, tinggallah dan bekerjalah disini, janganlah pergi kemana-mana lagi, akan aku naikkan upahmu dan apapun yang engkau perlukan, seperti mangkok, alat-alat masak, beras, gandum, garam dan cuka, janganlah ragu-ragu; kecuali itu kalau engkau membutuhkan, akan kuberimu seorang pelayan yang sudah tua.”
“Tenangkanlah hatimu, anggaplah saya seperti ayahmu sendiri dan janganlah takut lagi. Betapapun juga saya sudah tua dan lanjut usia sedang engkau masih muda belia dan perkasa. Selama engkau bekerja, belum pernah engkau menipu, malas, marah ataupun menggerutu. Tidak pernah aku lihat engkau mempunyai sifat-sifat buruk semacam ini seperti pekerja-pekerja yang lain. Mulai saat ini dan seterusnya engkau akan aku anggap sebagai anakku sendiri yang kulupakan.”
Kemudian orang tua itu memberinya nama baru dan memanggilnya seperti anaknya. Meskipun anak yang malang itu bersuka cita atas kejadian ini, tetapi masih juga ia berpikir tentang dirinya sebagai seorang buruh yang rendah, oleh karenanya ia melanjutkan pekerjaannya membersihkan kotoran selama 20 tahun dan sesudah waktu itu, timbullah rasa saling mempercayai diantara mereka sehingga ia dapat keluar masuk dengan leluasa, meskipun tempat kediamannya masih tetap di tempat semula.
“Kemudian orang tua itu jatuh sakit, dan menyadari bahwa sebentar lagi ajalnya akan tiba. Maka berkatalah ia kepada anak yang malang itu : “Sekarang aku memiliki emas, perak, dan benda-benda berharga yang bertumpuk-tumpuk dan lumbung serta harta kekayaan yang melimpah ruah. Aku ingin engkau mengetahui sampai hal yang sekecil-kecilnya ini dan jumlah dari harta yang masih harus diterima dan yang diberikan. Begitulah pikiranku. Setujukah engkau dengan keinginanku ini ? karena sekarang aku dan engkau adalah sejiwa. Perhatikanlah terus menerus sehingga tidak ada waktu yang terbuang.”
Kemudian si anak malang itu menyetujui petunjuk dan perintahnya dan menjadi terbiasa dengan semua barang-barang itu emas, perak, benda-benda berharga dan begitu juga dengan lumbung dan kekayaan, tetapi tanpa adanya gagasan untuk mengharapkan menerima harta itu sedikitpun, sedangkan tempat tinggalnya masih tetap ditempat semula dan perasaan rendah dirinyapun masih tetap belum bisa ditinggalkannya.
“Sesudah beberapa waktu berselang, kembali ayahnya mengetahui bahwa pemikiran anaknya lambat laun sudah berkembang dan kemauannya pun tumbuh dengan baik dan dia mengetahui juga bahwa anaknya telah memandang rendah keadaan pemikirannya yang terdahulu. Karena mengetahui bahwa akhir hayatnya sudah dekat, ia memerintahkan anaknya datang dan pada saat yang sama ia mengumpulkan sanak keluarganya, para raja, para menteri, para kesatrya dan rakyat. Ketika mereka semua sudah berkumpul, kemudian ia menyapa mereka dan berkata : “Ketahuilah tuan-tuan sekalian bahwa inilah puteraku yang telah kulupakan.” Sudah lebih 50 tahun lamanya sejak ia meninggalkan saya disuatu kota dan pergi untuk menanggung sepi dan derita. Namanya semula adalah si Anu dan nama saya sendiri ialah si Anu. Pada waktu itu, saya mencarinya dikota itu dengan penuh kesedihan dan saya menemuinya ditempat lain tanpa terduga dan saya mendapatkannya kembali. Ia betul-betul anakku dan saya betul-betul ayahnya. Sekarang seluruh harta kekayaan yang saya miliki, semuanya menjadi hak putera saya dan semua pengeluaran-pengeluaran dan penerimaan yang terdahulu seluruhnya sudah diketahui oleh anak ini.
Yang Maha Agung ! ketika anak yang malang itu mendengar kata-kata ayahnya ini, betapa besar kegembiraannya mendengar berita yang tidak diharapkannya itu dan karenanya berpikir : “Tanpa saya bersusah payah mencarinya, harta benda ini telah datang sendiri kepadaku.”
Yang Maha Agung ! orang tua yang sangat kaya raya itu ialah Tathagata dan kita semua ialah sebagai putera-putera Buddha. Sang Tathagata selalu mengatakan bahwa kita adalah anak-anakNya.

Yang Maha Agung ! karena adanya tiga (3) penderitaan ditengah-tengah kelahiran dan kematian, maka kita telah menanggung segala macam penderitaan, diperdayakan, diabaikan dan diremehkan kasih kita.
Hari Sang Buddha telah membuat kita untuk merenungkan dan membersihkan kotoran dari segala pembicaraan-pembicaraan yang mengasyikkan tentang hukum-hukum yang tak berharga. Dalam hal ini kita harus tekun membuat kemajuan dan kita telah memperoleh pembayaran upah sehari bagi usaha kita untuk mencapai Nirvana. Karena memperoleh ini, kita benar-benar menjadi gembira dan puas, dengan berkata pada diri kita sendiri : “Untuk ketekunan dan kemajuan, yang telah kita terima adalah begitu besarnya.” Tetapi Sang Buddha mengetahui sebelumnya bahwa batin kita masih terikat dengan keinginan-keinginan yang rendah dan menyukai hal-hal yang hina, maka Dia membiarkan kita melakukan cara kita sendiri dan Diapun tidak membeda-bedakan kita.
Dia bersabda : ” Kalian akan menguasai kekayaan dari pengetahuan ilmu Sang Tathagata.” Sang Buddha dengan kekuasaannya yang bijaksana, telah bersabda tentang kearifan Tathagata, dan meskipun kita hanya mengikuti Sang Buddha dan menerima upah sehari dari Nirvana, kite telah menganggapnya sebagai suatu keuntungan yang besar dan kita tidak pernah mencurahkan diri kita untuk mencari Kendaraan Agung. Kita juga telah menyatakan dan menerangkan tentang kebijaksanaan dari Sang Tathagata kepada Bodhisatva, tetapi tentang Kendaraan Agung ini, kita tidak pernah menginginkannya, karena betapapun juga, Sang Buddha mengetahui bahwa batin kita masih menyukai hal-hal yang hina dan dengan kebijaksanaanNya. Dia mengajak kita menurut kesanggupan kita, tetapi kita tidak menyadari bahwa kita adalah benar-benar putera-putera Buddha.
Sekarang kita telah menyadari bahwa Yang Maha Agung tidak sakit hati terhadap kebijaksanaan Sang Buddha. Karena dari dahulu kala, kita semua adalah putera-putera Buddha, hanya kita menyukai hal-hal yang hina. Kalau saja kita mempunyai jiwa yang menyukai keagungan, maka Sang Buddha akan berkhotbah kepada kita tentang Hukum Kendaraan Agung.
Didalam sutra ini, sekarang dia hanya berkhotbah tentang Satu Kendaraan dan meskipun dahulu ketika di hadapan Bodhisatva, Dia hanya berkhotbah dengan memandang rendah, tentang para sravaka yang menyukai hal-hal yang hias, tetapi nyatanya Dia telah memerintahkan mereka dalam Kendaraan Agung. Oleh karenanya kita berkata bahwa meskipun kita tidak mempunyai gagasan untuk mengharapkan hal itu, tetapi sekarang harta kekayaan yang besar dari Raja Hukum telah datang sendiri pada kita. Dan seperti itulah putera-putera Buddha akan memperoleh, dan kita semua telah mendapatkannya.
Kemudian Maha Kasyapa yang ingin menyampaikan lagi maksud-maksud ini, menyatakan dalam syair :
“Kita pada hari ini
telah mendengar sabda Sang Buddha
dan sangat berdebar-debar dengan kegembiraan
telah memperoleh ajaran-ajaran yang belum pernah ada
Sang Buddha mengatakan bahwa kita para sravaka
Akan menjadi Buddha
Kumpulan hartanya yang tiada tara
Kita telah terima tanpa mencarinya
Seperti halnya seorang pemuda
Belum dewasa dan pelalai
Yang meninggalkan ayahnya dan pergi
Ke tanah lain yang jauh
Mengembara kian kemari dibanyak negeri
Selama 50 tahun
Ayahnya dengan penuh kekhawatiran
Mencarinya ke segala penjuru
Jemu dengan pencariannya
Ia tinggal disuatu kota
Hari ini kita mendengar sabda Sang Buddha
Dengan penuh gairah dan kegembiraan
Telah memperoleh ajaran dari Sang Buddha
Yang sebelumnya belum pernah dibabarkan
Sang Buddha telah menyatakan
Bahwa kita para sravaka akan menjadi Buddha
Kumpulan harta yang tiada ternilai banyaknya
Telah kita terima tanpa kita mencarinya
Seperti halnya seorang anak muda
Yang belum dewasa dan pelupa
Yang pergi meninggalkan ayahandanya
Ketanah rantau yang jauh nun disana
Berkelana kian kemari dibanyak negeri
Selama lima puluh tahun lamanya
Ayahnya dengan penuh kekhawatiran
Telah mencarinya ke segala penjuru
Tanpa mengenal jemu dan putus asa
Akhirnya ayahandanya tinggal di sebuah kota
Membangun sebuah rumah yang besar mewah
Harta kekayaannya berlimpah-limpah
Emas, perak, batu-batu mulia dan mutiara
Segala ratna mutu manikam tiada ternilai
Binatang-binatang ternaknya banyak sekali
Gajah, kuda, lembu dan domba tiada terhitung
Memiliki banyak tandu, usungan dan kereta
Abdinya baik yang tua maupun yang muda
Rakyat semuanya menghormatinya
Modalnya tersebar sampai ke negeri lain
Pendapatannya mengalir terus menerus
Dari para pedagang yang menjadi langganannya
Yang terdapat dimana-mana disegala penjuru
Ribuan keti rakyat menyanjung memuliakannya
Bagaikan seorang raja ia dipuja dan dicintai
Para menteri dan para bangsawan menghormatinya
Tamunya dari segala negeri datang berkunjung
Demikian besar kekayaannya dan kekuasaannya
Namun usianya kian hari bertambah lanjut
Rasa duka terus bersemi dalam hatinya
Karena rindu kepada putranya yang hilang
Siang malam ia termenung mengenang putranya
Sementara itu kematian kian mendekat
Anaknya yang bodoh belum juga kembali
Dari kepergiannya sudah 50 tahun lebih
Apa yang akan kulakukan terhadap hartaku
Yang bertumpuk dalam gudang-gudangku ?
Yang jumlahnya tiada ternilai ?
Sementara itu si anak yang malang
Mengembara mencari pangan dan sandang
Dari kota ke kota dari satu negeri ke negeri lainnya
Kadang-kadang mendapatkan rejeki dan tidak
Keadaannya sangat lemah, kurus dan lapar
Badannya gatal penuh kudisan disana sini
Akhirnya si anak hilang lewat di kota
Tempat istana ayahnya yang berdiri megah
Si anak malang pergi kesana kemari
Mencari kerja namun tak berhasil
Si anak yang malang tegak berdiri
Di pintu gerbang rumah ayahandanya
Waktu itu ayahandanya sedang duduk
Dibalik pintu gerbang bertirai manikam
Duduk diatas singgasana singa
Dikelilingi oleh para pembantu utamanya
Yang senantiasa menjaganya sepanjang hari
Beberapa orang sedang sibuk menghitung
Emas, perak dan segala benda berharga
Yang lain menghitung keluar masuknya barang
Menulis dan mencatat surat-surat pinjaman
Si anak yang malang ketika melihat ayahnya
Ia merenung dan bertanya didalam hatinya
“Tentu ia seorang raja atau keturunan raja
mengapa aku sampai datang kemari ?”
kemudian ia berpikir dan berkata dalam hati
“Jika aku terlambat pergi dari tempat ini
aku pasti akan disuruh kerja paksa.”
Setelah ia berpikir demikian ia lalu pergi
Ke perkampungan orang-orang miskin
Kesanalah ia pergi dan mencari kerja
Pada saat itu ayah si anak malang
Menyaksikan anaknya dari kejauhan
Dengan diam-diam ia mengenalnya
Segera ia mengutus seorang pembantunya
Untuk pergi menemui anaknya yang malang
Untuk dibujuk supaya dapat dibawa kembali
Namun si anak malang berteriak ketakutan
Kemudian ia jatuh pingsan, rubuh ke tanah
Dalam igauannya si anak yang malang berkata
“Orang-orang itu telah menangkap diriku
pasti mereka akan segera membunuhku.”
Ayah dari anak yang malang itu mengetahui
Putranya begitu bodoh dan rendah diri
Tidak mau percaya bahwa orant tua itu ayahnya
Dengan menggunakan akal yang bijaksana
Kembali ia mengutus pembantu-pembantunya
Untuk menemui anaknya yang malang papa
Dikirimnya pembantunya yang cacat
Matanya tinggal satu, badannya pendek
Yang nampaknya sama sekali tak berwibawa
Dipesannya kepada orang yang diutusnya
Supaya ia mengajak si anak malang bekerja
Menjadi tukang membersihkan kotoran dan sampah
Akan diberi upah dua kali lipat banyaknya
Si anak malang mendengar ini hatinya gembira
Demikianlah si anak yang malang telah bekerja
Membersihkan rumah ayahandanya dibagian luar
Membersihkan kotoran dan sampah yang ada disana
Ayahnya lewat disampingnya
“Sungguh bodoh anakku,” pikirnya dalam hati
ia sudah terbiasa dengan yang sederhana
Kemudian orang tua si anak malang
Mengganti pakaian kebesarannya yang mewah
Mengenakan pakaian compang camping
Diambilnya panci yang kotor lalu pergi
Menemui anaknya yang sangat dicintainya
Dengan cara ini ia berhasil mendekati anaknya
Disuruhnya anaknya supaya rajin bekerja
“Aku telah memutuskan untuk menaikkan gajimu.”
Akan kuberikan minyak untuk kakimu
Akan kuberikan sandang pangan yang cukup
Demikian pula tikar yang tebal dan hangat
Kemudian tiba-tiba orang tua itu menghardik
“Sekarang lanjutkan pekerjaanmu.”
Setelah menghardik orang tua itu berkata lembut
“Kau kuanggap sebagai anakku sendiri.”
Dengan kebijaksanaannya ayah si anak malang
Akhirnya memperbolehkan si anak yang malang
Keluar masuk mengurus rumah tangganya
Hal ini telah berjalan selama 20 tahun
Si anak yang malang mendapat kepercayaan
Mengurus emas, perak, mutiara dan kristal
Mengatur keluar masuknya barang-barang
Sehingga akhirnya ia menjadi pandai
Tetapi si anak yang malang tetap memikirkan
Tentang dirinya yang miskin dan hina
Ia tetap bertempat tinggal di pondok
Meskipun tiap hari ia mengurus harta benda
Yang berharga yang tak ternilai harganya
Ia tetap berpikir : “Harta ini bukan milikku.”
Pikiran anaknya terbaca oleh ayahandanya
Yang nampaknya kian lama kian berkembang
Sekarang ingin ia menyerahkan kekayaannya
Kepada anaknya yang sangat dicintainya
Orang tua itu mengumpulkan sanak keluarganya
Para pangeran dan para menteri, para kesatria
Juga dihadiri oleh banyak rakyatnya
Dalam pertemuan besar orang tua itu berkata :
“Ini adalah puteraku yang telah pergi
meninggalkan diriku 50 tahun lamanya
Sejak aku melihat puteraku telah kembali
Dua puluh tahun telah berselang
Yang telah dahulu menghilang di sebuah kota
Dalam pengembaraanku untuk mencarinya
Akhirnya aku tiba dikota ini
Sekarang semuanya sudah kumiliki
Harta kekayaan dan rakyat kuberikan
Dan anakku bebas menggunakannya sekehendaknya
Si anak yang malang ingat pada kemiskinannya
Sehingga ia kembali merasa rendah diri
Namun akhirnya ia merasa gembira
Memperoleh harta kekayaan yang demikian besarnya
Yang selam ini belum pernah diharap-harapkannya
Demikian pula halnya dengan Sang Buddha
Yang mengetahui bahwa kita masih terikat
Dengan segala hal-hal yang hina dina
Sebelumnya Sang Buddha tidak berkata ”
“Kalian akan menjadi putra Buddha.”
Tetapi Sang Buddha telah menyatakan
Bahwa kita telah mencapai kesucian dan kesempurnaan
Sebagai sravaka didalam Hinayana
Sang Buddha telah memerintahkan kepada kita
Mengkhotbahkan tentang Jalan Yang paling suci
Siapa melaksanakannya akan jadi pengikut Buddha
Demi Bodhisatva yang agung
Kita terima perintah Sang Buddha
Dengan berbagai alasan dan peribadatan
Dan dengan tidak begitu banyaknya pernyataan
Setelah mengkhotbahkan Jalan Yang Agung ini
Ketika putra-putra Buddha mendengar hukum ini
Siang dan malam merenungkannya dengan tekun
Dan dengan penuh semangat mengamalkannya
Kemudian Sang Buddha menyatakan kepada mereka
Bahwa mereka dalam generasi mendatang
Akan menjadi pengikut Sang Buddha
Hukum kepercayaan dari seluruh penganut Buddha
Hanya diuraikan kepada para Bodhisatva dengan penuh kenyataan
Bukan dijelaskan kepada kita
Kebenaran inilah yang telah dikhotbahkan
Persis seperti anak yang malang itu
Yang telah datang mendekati ayahandanya
Meskipun ia mengurus seluruh harta kekayaannya itu
Namun tiada keinginan untuk memilikinya
Demikian pula halnya dengan kita ini
Meskipun kita mengetahui harta kekayaan
Yang berupa Hukum yang diberikan Sang Buddha
Namun tidak keinginan untuk memilikinya
Seperti halnya dengan si anak yang malang
Dengan jalan mengekang hawa nafsu
Kita merasa telah mencapai kepuasan
Masalah ini hendaknya kita selesaikan
Sehingga tiada sisa lagi untuk dikerjakan
Jika kita telah mendengar
Tentang pensucian tanah-tanah Buddha
Dan penyempurnaan mahluk-mahluk hidup
Kita tidak akan merasa bahagia
Mengapa ?
Karena kita menyukai segala-galanya
Menyukai kehampaan, menyukai kelahiran
Tanpa kematian tiada yang besar
Tiada yang kecil tanpa salah dan cela
Merenungkan semuanya ini
Tiada terasa ada kebahagiaan
Meskipun hal inilah berjalan lama
Tiada merasa iri hati atau terikat
Terhadap kebijaksanaan Sang Buddha
Atau punya hasrat keinginan untukNya
Tetapi dengan memandang Hukum ini
Kita merasa telah mencapai kesempurnaan.
Kita dalam waktu yang lama
Melaksanakan hukum kehampaan ini
Memperoleh kebebasan dari Tribuana
Menderita segala macam kesengsaraan
Tinggal di tubuh yang sempurna
Di Nirvana dimana bentuknya masih ada
Karena diperintah oleh Sang Buddha
Kita merenung dan tanpa ragu lagi
Mencapai jalan itu
Karena itu kita seharusnya
Membalas kasihNya Sang Buddha
Meskipun kita demi putra-putra Buddha
Telah berkhotbah tentang Hukum Bodhisatva
Bahwa mereka harus mencari jalan Buddha
Tetapi kita dalam hubungan dengan hukum ini
Tidak pernah punya hasrat dan keinginan
Dan Guru kita melihat, membiarkan kita sendiri
Karena Dia telah menyelami pikiran kita
Sehingga pada mulanya Ia tidak membakar
Semangat kita supaya berkobar-kobar
Dengan bersabda tentang pahala yang besar
Begitu pula halnya dengan si orang tua
Yang menyadari sifat rendah diri anaknya
Dengan segala kebijaksanaannya
Ia membenarkan perasaan hati nuraninya
Untuk kemudian menyerahkan harta kekayaannya
Demikian pula halnya dengan Sang Buddha
Dalam menunjukkan keanehan-keanehannya
Mengetahui mereka masih menyukai hal-hal hina
Dan dengan kebijaksanaannya
Menujukkan perasaan mereka
Ia memerintahkan mereka dengan kebijaksanaan
Dengan menyatakan bahwa hari ini kita memperoleh
Sesuatu yang sebelumnya belum pernah kita miliki
Yang tidak pernah kita cari
Sekarang kita telah memperolehnya
Yang sebelumnya belum pernah kita duga
Seperti halnya si anak yang malang
Yang memperoleh harta kekayaan begitu banyaknya
O, Yang Maha Agung
Sekarang kita telah mendapatkan jalan
Bahkan kita telah menerima hasil pahala
Didalam Hukum yang Sempurna ini
Kita mendapatkan pandangan yang terang
Kita sudah begitu lama memelihara
Perintah suci dari Sang Buddha
Hari ini untuk pertama kalinya
Kita memperoleh buah dan pahalanya
Didalam hukum dari Raja Hukum Kesunyataan
Karena telah lama menjalankan perbuatan mulia
Sekarang kita telah mencapai kesempurnaan
Memetik buah hasil yang tiada bandingannya
Sekarang kita benar-benar sebagai pendengar
Yaitu ajaran-ajaran itu yang didengar mahluk-mahluk
Ajaran dari Jalan Sang Buddha
Kita sekarang benar-benar seorang Arahat
Yang ada diseluruh dunia yang oleh dewa-dewa
Orang-orang dan Brahma dianggap sebagai sesembahan agung
Sang Buddha dengan kasihNya yang agung
Dengan segala keanehannya mengasihi kita
Perintahnya telah menguntungkan kita
Lewat koti kalpa yang tak terhitung
Siapa yang akan mampu membalasnya
Bersujud dengan berlutut
Menyembah dengan menundukkan kepala
Atau memikulnya diatas pundaknya
Lewat kalpa bak pasir disungai Gangga
Atas pemujaannya dengan sepenuh hati
Atau dengan makanan yang lezat
Atau dengan pakaian yang mahal harganya
Dan segala bentuk dari balai-balai
Atau dengan berbagai macam hiburan
Dengan kepala lembu dari kayu cendana
Dan dengan segala macam permata
Membangun stupa dan sanggar pemujaan
Atau menilami bumi dengan kain indah
Dengan semuanya ini kita menghormatinya
Melalui kalpa ibarat pasir di Sungai Gangga
Masih tiada seorangpun dapat membalasnya
Buddha mempunyai kemujijadan yang gaib
Yang muncul bersama-sama demikian besarnya
Yang tiada batasnya, tak dapat disadari
Kekuasaannya yang sangat agung
Mereka sangat sempurna tiada cela
Sang Raja Hukum yang mampu memikirkan
Segala bentuk pikiran yang rendah
Bagi orang yang masih awam
Yang masih terikat dengan keduniawian
Harus menunggu dengan sabar
Dikhotbahkannya khotbah yang sesuai
Dengan kemampuan penganut Buddha
Untuk mencapai kekuasaan yang agung
Mengetahui seluruh mahluk hidup
Dengan beraneka ragam keinginannya
Kesenangan dan kekuasaannya
Ini sesuai dengan kemampuan mereka
Dengan mengambil banyak perumpamaan
Mereka mengkhotbahkan Hukum ini
Sesuai dengan kemampuan mahluk-mahluk hidup
Yang dahulu kala telah menanam
Akar dari perbuatan-perbuatan baik
Penganut-penganut Buddha mengetahui
Yang dewasa dan yang belum dewasa
Dan memeliharanya satu demi satu
Membedakannya dan memahaminya
Dalam satu Yana yang sesuai
Mereka berkhotbah tentang pohon itu.