Sadness ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

0
105

Sadness ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

The most crucial prerequisite for the practise of dharma is complete isolation because when we are alone, we are subject to fewer distractions, creating the perfect conditions for sadness to grow in our minds.

For those who know how to use it, sadness is a fertile ground from which all kinds of beneficial thoughts can spring with very little effort.

Jigme Lingpa described sadness as one of the most invaluable kinds of noble wealth, and in the sutras Buddha hailed sadness as the trailblazer for all subsequent good qualities.

With sadness comes trust and devotion, which, once developed, mean the practises of shamatha and vipashyana require very little effort. Shamatha practise ensures that mind becomes malleable and workable, and a flexible mind makes vipashyana relatively easy to accomplish.

 

from the book Not for Happiness: A Guide to the So-Called Preliminary Practices

 

Kesedihan ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Prasyarat yang paling penting untuk praktek dharma adalah sepenuhnya terisolasi karena ketika kita sendirian, gangguan yang kita alami itu sedikit, dan itu menciptakan kondisi yang sempurna bagi kesedihan untuk tumbuh dalam pikiran kita.

Bagi mereka yang tahu bagaimana menggunakannya, kesedihan adalah tanah yang subur dimana semua jenis pemikiran yang bermanfaat bisa berkembang dengan usaha yang sangat minim.

Jigme Lingpa menggambarkan kesedihan sebagai salah satu jenis kekayaan mulia yang tak ternilai harganya, dan di sutra Buddha memuji kesedihan sebagai pelopor dari munculnya semua kualitas baik lainnya.

Dari kesedihan muncul kepercayaan dan devosi, yang jika berkembang, maka praktek shamatha dan vipashyana cuma memerlukan sedikit usaha. Praktek Shamatha memastikan bahwa batin menjadi mudah dibentuk dan bisa digunakan, dan batin yang fleksibel membuat vipashyana relatif mudah berhasil.

Dari buku Not for Happiness: A Guide to the So-Called Preliminary Practices