Sanubari Teduh – Belenggu Enam Alam Kehidupan dan Empat Jenis Kelahiran

0
149
Master Chen Yen

Sanubari Teduh – Belenggu Enam Alam Kehidupan dan Empat Jenis Kelahiran

Master Chen Yen

Saudara se-Dharma sekalian,  saya sering berkata bahwa hidup tidaklah kekal. Akan tetapi noda batin terus muncul. Karena itu Buddha berkata bahwa noda batin bagaikan musuh, noda batin bagaikan pencuri, bagaikan arus yang deras, bagaikan belenggu yang terus menerus menjerat kita. Jika noda dan kegelapan batin  tidak dikikis dengan sungguh-sungguh, kita tidak akan bebas dari penderitaan. Seperti yang dikatakan sebelumnya, noda batin bagaikan belenggu yang mengunci semua makhluk di dalam penjara samsara hingga tak dapat membebaskan diri. Memang demikianlah noda batin itu. Ia muncul karena adanya kegelapan batin. Betapa banyak noda batin  yang sulit kita lenyapkan. Hal ini sungguh membawa penderitaan.

Noda dan kegelapan batin mengakibatkan semua makhluk terbelenggu di 6 alam kehidupan tanpa bisa terbebaskan. Apakah noda batin itu terbentuk atau tidak, ia akan terus membelenggu kita. Itulah sebabnya, kita tidak dapat membebaskan diri dari enam alam kehidupan. Jadi, semua makhluk terombang-ambing di enam alam kehidupan dan terus mengalami empat jenis kelahiran. Jadi akibat noda dan kegelapan batin, kita terjerat  dalam enam alam kehidupan, dengan siklus yang tiada habisnya.  Kita terlahir melalui empat jenis kelahiran. Empat jenis kelahiran meliputi kelahiran lewat telur, rahim, kelembaban, dan kelahiran spontan. Inilah yang disebut empat jenis kelahiran. Semua makhluk tidak terlepas dari empat jenis kelahiran, sedangkan noda batinlah yang menjadi penyebab munculnya semua ini. Sesuai karma, kita terlahir di 6 alam kehidupan melalui 4 jenis kelahiran dan mengalami siklus yang tiada akhir. Karma dan kegelapan batinlah penyebabnya.

Karena itu, kita tidak dapat terbebaskan dan terus mengalami penderitaan tanpa henti  akibat karma buruk yang tak terhingga. Akibat karma buruk yang tak terhingga menerima buah penderitaan yang tiada henti. Kini kami mengetahui semua ini disebabkan oleh noda batin.

Saudara sekalian, kegelapan batin membawa begitu banyak penderitaan yang tiada akhir, kita pun tidak dapat terbebas darinya. Jadi dalam menapaki jalan Buddha, bukankah kita harus berupaya lebih keras untuk melenyapkan noda dan kegelapan batin kita ?

Yang terpenting dalam berlatih di jalan Buddha adalah menyucikan pikiran dan mengikis noda batin kita. Dalam usia kehidupan yang terbatas ini, penderitaan sungguh tak terkira. Jika membiarkan noda dan kegelapan batin terus membelenggu, kita akan sulit terbebas dari enam kelahiran kembali.

Singkatnya, munculnya kegelapan batin mengakibatkan kita terus terlahir kembali. Kehidupan dan segala sesuatu di alam semesta tidak ada yang kekal. Hanya kegelapan batinlah yang terus membelenggu kita dari kehidupan ke kehidupan. Satu-satunya kesempatan untuk membebaskan diri adalah mendengar ajaran Buddha di kala terlahir sebagai manusia dan berlatih dengan sungguh-sungguh. Selain itu tidak ada cara lain. Karena itu kita harus belajar Dharma dengan mempraktikkannya dalam keseharian. Ketekunan dalam berlatih di jalan Buddha, bukan semata-mata membaca Sutra. Bukan. Kita harus memahami apa yang Buddha ajarkan dan mempraktikkannya dalam keseharian saat berhadapan dengan orang dan masalah. Dengan mempraktikkan Jalan Bodhisattva, kita baru dapat benar-benar melenyapkan noda dan kegelapan batin. Untuk itu dalam kehidupan sehari-hari kita harus selalu bersungguh-sungguh hati.

Demikianlah diintisarikan dari Sanubari Teduh – Belenggu Enam Alam Kehidupan dan Empat Jenis Kelahiran (085) https://youtu.be/rMXmWNo57gk

Sanubari Teduh : Disiarkan di Stasiun Televisi Cinta Kasih DAAITV INDONESIA : Setiap Minggu 05.30 WIB ; Tayang ulang: Sabtu 05.30 WIB
Channel  Jakarta 59 UHF, Medan 49 UHF
TV Online : https://www.mivo.com/#/live/daaitv

GATHA PELIMPAHAN JASA
Semoga mengikis habis Tiga Rintangan
Semoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran
Semoga seluruh rintangan lenyap adanya
Dari kehidupan ke kehidupan senantiasa berjalan di Jalan Bodhisattva