The Self ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

0
131

The Self ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

From time immemorial we have been addicted to the self. It is how we identify ourselves. It is what we love most dearly. It is also what we hate most fiercely at times. Its existence is also the thing that we work hardest to try to validate. Almost everything that we do or think or have, including our spiritual path, is a means to confirm its existence. It is the self that fears failure and longs for success, fears hell and longs for heaven. The self loathes suffering and loves the causes of suffering. It stupidly wages war in the name of peace. It wishes for enlightenment but detests the path to enlightenment. It wishes to work as a socialist but lives as a capitalist. When the self feels lonely, it desires friendship. Its possessiveness of those it loves manifests in passion that can lead to aggression. Its supposed enemies – such as spiritual paths designed to conquer the ego – are often corrupted and recruited as the self’s ally. Its skills in playing the game of deception is nearly perfect. It weaves a cocoon around itself like a silkworm; but unlike a silkworm, it doesn’t know how to find the way out.

from the book What Makes You Not a Buddhist

Diri ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Sejak dahulu kala kita sudah kecanduan akan ”diri”. Itulah cara kita mengidentifikasi diri kita sendiri. Itulah yang paling kita cintai. Ini jugalah yang paling kita benci saat ini. Eksistensi “diri” juga merupakan hal yang paling sulit yang coba kita validasi. Hampir semua hal yang kita lakukan atau pikirkan atau miliki, termasuk jalur spiritual kita, adalah sarana untuk mengkonfirmasi eksistensi “diri”. Inilah “diri” yang takut gagal dan merindukan kesuksesan, takut akan neraka dan merindukan surga. “Diri” ini tidak suka menderita dan suka penyebab penderitaan. Perang yang terjadi yang mengatas namakan perdamaian sangatlah bodoh. “Diri” ini menginginkan pencerahan namun membenci jalur menuju pencerahan. Ia ingin bekerja sebagai seorang sosialis tapi hidup sebagai seorang kapitalis. Saat “diri” merasa kesepian, ia menginginkan persahabatan. Sifat posesif “Diri” ini terhadap orang-orang yang dicintai bisa bermanifestasi menjadi sifat yang agresif. Jalur spiritual yang telah dirancang untuk menaklukkan ego / musuh ini seringkali jadi rusak dan malahan direkrut untuk menjadi sekutu dalam memperkuat “diri” tersebut. Kemahirannya dalam memainkan permainan tipu daya hampir mendekati sempurna. Ini seperti ulat sutra yang menenun kepompong; Tapi tidak seperti ulat sutra, ia tidak tahu bagaimana caranya menemukan jalan keluarnya.

Dari buku What Makes You Not a Buddhist