Tiga Puluh Tujuh Amalan Bodhisattva – 37 Practice of Bodhisatva

0
810
Tiga Puluh Tujuh Amalan Bodhisattwa - 37 Practice of Bodhisatva
Tiga Puluh Tujuh Amalan Bodhisattwa - 37 Practice of Bodhisatva

Tiga Puluh Tujuh Amalan Bodhisattva Oleh Ngülchu Thogme Zangpo

Namo Lokeshvaraya!
Kepada Guru Agung dan Pelindung, Avalokiteswara, yang meskipun telah melihat semua fenomena tidaklah datang maupun pergi, namun tetap berjuang sepenuhnya demi kesejahteraan para migrator (makhluk yang masih di dalam samasara), aku selalu bersujud dengan tubuh, ucapan, dan pikiran yang penuh rasa hormat.
Para Buddha yang sempurna, sumber dari segala manfaat dan kebahagiaan, muncul setelah menggenapkan Dharma yang suci. Karena pencapaian itu tergantung pada mengetahui amalan-amalan Dharma, maka aku akan menjelaskan amalan-amalan Bodhisattva berikut ini.

1) Ketika kapal besar berisi kebebasan dan berkah (tubuh yang berharga dengan 18 kondisi kelahiran istimewa) yang sangat sulit diperoleh telah didapatkan sekarang, maka mendengarkan, merenungkan, dan memeditasikan tanpa henti siang dan malam guna membebaskan diri sendiri dan semua makhluk dari lautan samsara adalah amalan Bodhisattva.

2) Pikiran yang melekat pada teman dan sanak saudara mengalir bagai air. Pikiran yang penuh kebencian terhadap musuh membakar bagai api. Pikiran Ketidaktahuan yang melupakan apa yang harus diterima dan ditolak sangatlah kabur. Meninggalkan kampung halaman sendiri adalah amalan Bodhisattva.

3) Kala tempat-tempat yang berbahaya ditinggalkan, kekotoran batin pun berangsur-angsur memudar. Tanpa gangguan, meningkatlah upaya kebajikan secara alami. Batin menjadi jernih, muncullah keyakinan yang teguh pada Dharma. Maka dari itu, bersunyi-sunyi adalah amalan Bodhisattva.

4) Teman yang telah lama bersama akhirnya akan saling berpisah juga. Harta benda yang telah susah payah diperoleh akan ditinggal. Kesadaran, sang tamu, akan mencampakkan pemondokan tubuh. Oleh karena itu, melepas dan membebaskan diri dari perhatian terhadap kehidupan duniawi adalah amalan Bodhisattva.

5) Manakala bergaul dengan teman-teman yang buruk, tiga racun meningkat, aktivitas mendengar, merenung, dan meditasi menurun, dan cinta kasih dan welas asih padam. Maka dari itu, meninggalkan teman-teman yang buruk adalah amalan Bodhisattva.

6) Ketika sahabat-sahabat spiritual yang agung diandalkan, lenyaplah seluruh kesalahan dan berbagai kualitas diri meningkat bagai bulan yang semakin bulat. Oleh karena itu, mengasihi sahabat-sahabat spiritual sejati bahkan melebihi tubuh sendiri adalah amalan Bodhisattva.

7) Bagaimana dewa yang sendirinya masih terbelenggu di dalam penjara samsara dapat melindungi yang lain? Maka dari itu, saat mencari perlindungan, berlindung pada Triratna yang tidak menipu adalah amalan Bodhisattva.

8) Bhagawa bersabda bahwa semua penderitaan yang tak tertahankan di tiga alam rendah adalah buah dari perbuatan yang salah. Oleh karena itu, tidak pernah akan melakukan perbuatan jahat sekalipun nyawa adalah taruhannya adalah amalan Bodhisattva.

9) Kesenangan di tiga alam bagaikan setetes embun di ujung rumput yang sesaat saja terancam lenyap. Maka dari itu, memperjuangkan keadaan batin tertinggi, pembebasan yang tidak pernah berubah, adalah amalan Bodhisattva.

10) Ketika ibunda-ibunda yang telah mengasihi kita sejak dari masa tak berawal sedang menderita, apa gunanya kebahagiaan pribadi kita? Oleh karena itu, menumbuh-kembangkan bodhicitta untuk membebaskan makhluk yang tiada batas jumlahnya adalah amalan Bodhisattva.

11) Semua penderitaan tanpa kecuali bersumber dari menginginkan kebahagiaan sendiri. Para Buddha yang sempurna muncul dari pikiran yang mengutamakan kesejahteraan makhluk lain. Oleh karena itu, menukar sepenuhnya kebahagiaan kita dengan derita makhluk lain adalah amalan Bodhisattva.

12) Sekalipun orang lain, karena dipengaruhi nafsu besar, mencuri seluruh harta kekayaan kita atau menghasut orang lain untuk melakukannya, melimpahkan ke mereka tubuh kita, harta benda, dan kebajikan yang telah kita kumpulkan selama tiga masa adalah amalan Bodhisattva.

13) Sekalipun orang lain memenggal kepala kita padahal kita sama sekali tidak bersalah, mengalihkan seluruh perbuatan jahat mereka ke diri kita sendiri dengan kekuatan welas asih adalah amalan Bodhisattva.

14) Sekalipun seseorang mengumandangkan ke semiliar dunia segala bentuk hujatan ke kita, membicarakan balik berbagai kualitas baik orang tersebut dengan pikiran cinta kasih adalah amalan Bodhisattva.

15) Sekalipun seseorang menyingkap berbagai kesalahan kita dan menjelek-jelekkan kita di tengah pertemuan umum, dengan penuh kerendahan hati memberi hormat kepada orang itu dan memandangnya sebagai sahabat spiritual adalah amalan Bodhisattva.

16) Sekalipun orang yang telah kita rawat, kita lindungi, dan kita kasihi seperti anak sendiri, memusuhi kita, lebih mengasihi orang itu seperti yang dilakukan seorang ibu kepada anaknya sedang sakit adalah amalan Bodhisattva.

17) Sekalipun, di bawah pengaruh kesombongan, orang yang sejajar dengan atau kurang dari kita memperlakukan kita dengan hina, dengan penuh rasa hormat menempatkan dia seperti guru ke atas kepala kita adalah amalan Bodhisattva.

18) Meskipun kita hidup dalam kekurangan, terus menerus dihina orang, mengidap penyakit yang tidak dapat disembuhkan, dan digentayangi setan jahat, tapi tidak putus asa dan tetap mengambil alih seluruh kesalahan dan penderitaan makhluk hidup adalah amalan Bodhisattva.

19) Sekalipun kita terkenal dan dihormati banyak orang atau memperoleh kekayaan yang setara dengan kekayaan dewa rezeki, menyadari bahwa kekayaan duniawi tidak berinti dan tidak menjadi sombong adalah amalan Bodhisattva.

20) Jika musuh-musuh luar dihancurkan tapi kita tidak menundukkan musuh di dalam yaitu kebencian kita sendiri, maka jumlah musuh luar hanya akan bertambah. Oleh karena itu, menjinakkan pikiran kita sendiri dengan bala tentara cinta kasih dan welas asih adalah amalan Bodhisattva.

21) Seberapa pun banyaknya kesenangan indera dinikmati, bagaikan minum air asin, kemelekatan akan tetap meningkat. Meninggalkan seketika apa yang menyebabkan kemelekatan adalah amalan Bodhisattva.

22) Semua penampakan adalah pikiran kita sendiri. Hakikat pikiran adalah bebas dari elaborasi konseptual sejak dari masa tak berawal. Mengetahui hal ini dan tidak melibatkan pikiran ke dalam dualitas subyek-obyek adalah amalan Bodhisattva.

23) Manakala bertemu obyek-obyek yang menyenangkan indera, meskipun mereka tampak indah bagai pelangi di musim panas, tidak menganggapnya nyata serta meninggalkan kemelekatan dan kerinduan adalah amalan Bodhisattva.

24) Seluruh jenis penderitaan bagaikan kematian seorang anak dalam mimpi. Menganggap kenampakan yang ilusif sebagai benar-benar ada—sungguh melelahkan! Manakala bertemu dengan kondisi yang tidak baik, melihatnya sebagai delusi adalah amalan Bodhisattva.

25) Jika perlu tubuh pun akan diberikan saat bercita-cita untuk pencerahan, apalagi obyek luar? Oleh karena itu, mengamalkan kemurahan hati tanpa mengharapkan imbalan atau karma baik adalah amalan Bodhisattva. (Dana Paramita)

26) Jika, karena kurang menjaga sila, kita gagal mencapai tujuan sendiri, kehendak untuk mencapai tujuan orang lain hanyalah lelucon belaka. Maka dari itu, menjaga sila tanpa disertai cita-cita untuk eksistensi duniawi adalah amalan Bodhisattva. (Sila Paramita)

27) Bagi para Bodhisattva yang menginginkan harta kebajikan, semua yang menyakiti bagaikan harta karun yang berharga. Oleh karena itu, mengolah kesabaran tanpa disertai permusuhan adalah amalan Bodhisattva. (Ksanti Paramita)

28) Bahkan para shrawaka dan pacekabuddha, yang tujuannya hanya kesejahteraan mereka sendiri, berjuang bagaikan sedang memadamkan api di atas kepala mereka. Melihat hal ini, dengan penuh semangat berjuang pantang mundur—sumber kualitas-kualitas baik—demi semua makhluk adalah amalan Bodhisattva. (Virya Paramita)

29) Setelah mengerti bahwa kekotoran batin dihancurkan oleh melihat secara mendalam (vipashyana) yang ditunjang oleh berdiam dalam ketenangan (shamatha), maka, mengolah konsentrasi meditatif yang secara sempurna melampaui Empat Arupa Dhyana adalah amalan Bodhisattva. (Dhyana Paramita)

30) Tanpa kebijaksanaan, mustahil akan mencapai pencerahan sempurna hanya melalui kelima paramita ini saja. Dengan demikian, mengolah upaya kausalya disertai kebijaksanaan yang tidak membeda-bedakan subyek, obyek, dan interaksi keduanya adalah amalan Bodhisattva. (Prajna Paramita)

31) Jika, hanya tampilannya saja seorang praktisi, kita tidak menyelidiki kesalahan sendiri, bisa saja kita melakukan tindakan yang tidak sesuai Dharma. Maka dari itu, selalu mencermati kesalahan sendiri dan meninggalkannya adalah amalan Bodhisattva.

32) Jika, di bawah pengaruh emosi-emosi yang mengganggu, kita tunjukkan kesalahan Bodhisattva lain, kita akan mengalami kemunduran. Oleh karena itu, tidak membicarakan kesalahan-kesalahan dari mereka yang telah masuk ke Kendaraan Besar (Mahayana) adalah amalan Bodhisattva.

33) Karena pengaruh keuntungan dan penghormatan menyebabkan pertikaian dan menurunnya aktivitas mendengar, merenung, dan meditasi, maka melepaskan kemelekatan terhadap rumah tangga sahabat, hubungan, dan para penyokong adalah amalan Bodhisattva.

34) Karena kata-kata kasar mengganggu pikiran orang lain dan menyebabkan mundurnya laku Bodhisattva, maka meninggalkan kata-kata kasar yang tidak menyenangkan orang lain adalah amalan Bodhisattva.

35) Ketika terbiasa dengan emosi-emosi yang mengganggu, akan sulit mengatasi mereka dengan obat-obat penawarnya. Mempersenjatai diri kita dengan obat perhatian murni dan keawasan, guna menghancurkan kekotoran batin seperti nafsu begitu mereka pertama kali muncul adalah amalan Bodhisattva.

36) Singkatnya, apapun yang sedang kita lakukan, tanyalah, “Apa keadaan batinku.” Merampungkan tujuan orang lain dengan terus menerus mempertahankan kesadaran dan keawasan adalah amalan Bodhisattva.

37) Melenyapkan penderitaan makhluk yang tak terhitung jumlahnya, melalui kebijaksanaan yang sepenuhnya bebas dari pembedaan dualistik dan melimpahkan kebajikan yang diperoleh dari melakukan upaya untuk pencerahan adalah amalan Bodhisattva.

Mengikuti ujaran para Suciwan tentang makna berbagai sutra, tantra, beserta ulasan-ulasannya, saya telah menuliskan Tiga Puluh Tujuh Amalan Bodhisattva untuk mereka yang ingin berlatih di Jalur Bodhisattva.

Dikarenakan kurangnya kecerdasan dan pembelajaran saya, maka tulisan ini bukanlah puisi yang akan menyenangkan para sarjana, namun karena saya mengandalkan berbagai sutra dan ujaran para Suciwan, saya pikir amalan-amalan Bodhisattva ini tidak keliru.

Namun karena sulit bagi orang yang kecerdasannya kurang seperti saya ini untuk memahami kedalaman perbuatan-perbuatan para Bodhisattva, saya memohon para Suciwan untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saya seperti kontradiksi dan penalaran yang tidak logis.

Melalui kebajikan yang muncul dari penulisan ini, semoga semua migrator, melalui bodhicitta konvensional dan bodhicitta ultimit, menjadi seperti sang Pelindung, Chenrezig yang tidak menetap di ekstrim eksistensi ataupun ekstrim kedamaian.

Tulisan ini ditulis untuk manfaat dirinya dan orang lain oleh Biksu Thogme, seorang eksponen sutra dan logika, di goa Ngulchu Rinchen.
Atas permintaan Garchen Triptrül Rinpoche, terjemahan ini diselesaikan pada tahun 1999 oleh Ari-ma, muridnya. Revisi-revisi tambahan dilakukannya pada musim panas tahun 2002. Hak cipta terjemahan Inggris Ari Kiev 2002.

Teks ini untuk reproduksi dan distribusi gratis. Dihakciptakan semata-mata untuk otentikasi.

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Karma Tamcho, diedit oleh Konchok Tashi.

Jika ingin membaca Commentary-nya, silakan klik Commentary of 37 practice of Bodhisatva