Training the Mind ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

0
107

Training the Mind ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

The quintessence of the path is to have the wisdom that realizes egolessness. Until we have this wisdom, we have not understood the essence of the Buddha’s teaching.

In order to achieve this wisdom, first we have to make our mind malleable, workable—in the sense of being in control of our own mind. As Shantideva said, if you want to walk comfortably, there are two possible solutions. Either you can try to cover the whole ground with leather—but that would be very difficult—or you can achieve the same effect by simply wearing a pair of shoes. In the same way, it would be difficult to train and tame every single emotion that we have, or to change the world according to our desires. In fact the basis of all experience is the mind, and that’s why Buddhists stress the importance of training the mind in order to make it workable and flexible.

Yet a flexible mind is not enough. We have to understand the nature of the mind. This is very difficult to do, precisely because it involves the wisdom of realizing egolessness. We have been in samsara from beginningless time. Our habitual patterns are very strong. We are completely deluded. For this reason, it is very, very difficult for this wisdom to appear.

So what is to be done? There is only one way to obtain this wisdom—by accumulating merit. How should we accumulate this merit? According to the general vehicle of Buddhism, the method of accumulating merit is by having renunciation mind, by contemplating impermanence, by refraining from all the causes and conditions that will strengthen the ego, by engaging in all the causes and conditions that will strengthen our wisdom, by refraining from harming other beings, and so on. In the mahayana school, the merit is accumulated by having compassion for sentient beings.

To cut a long story short, if you want enlightenment you need wisdom. If you want wisdom, you must have merit. And to have merit, according to mahayana, you must have compassion and bodhichitta, the wish to establish beings in the state of freedom.

 

Melatih Batin ~ Dzongsar Khyentse Rinpoche

Intisari dari jalur adalah memiliki kebijaksanaan yang merealisasi tanpa-diri. Jika kita belum memiliki kebijaksanaan ini, kita belum memahami esensi ajaran Sang Buddha.

Untuk mencapai kebijaksanaan ini, pertama-tama kita harus membuat batin kita menjadi lembut, bisa bekerja – dalam arti mengendalikan batin kita sendiri. Seperti yang dikatakan Shantideva, jika Anda ingin berjalan dengan nyaman, ada dua solusi yang memungkinkan. Anda bisa mencoba menutupi seluruh tanah dengan kulit – tapi itu akan sangat sulit dilakukan – atau Anda bisa mendapatkan hasil yang sama dengan hanya mengenakan sepasang sepatu. Dengan cara yang sama, akan sulit untuk melatih dan menjinakkan setiap emosi yang kita miliki, atau mengubah dunia sesuai dengan keinginan kita. Sebenarnya dasar dari semua pengalaman adalah batin, dan itulah sebabnya umat Buddha menekankan pentingnya melatih batin agar bisa bekerja dengan baik dan fleksibel.

Namun batin yang fleksibel tidak cukup. Kita harus memahami hakikat batin. Hal ini sangat sulit dilakukan, karena melibatkan kebijaksanaan yang merealisasikan tanpa-diri. Kita telah berada di samsara sejak masa tanpa awal. Pola kebiasaan kita sangat kuat. Kita benar-benar terperdaya. Untuk alasan ini, sangat sulit bagi kebijaksanaan tersebut untuk muncul.

Jadi apa yang harus dilakukan? Hanya ada satu cara untuk mendapatkan kebijaksanaan ini – yaitu dengan mengumpulkan jasa kebajikan. Bagaimana seharusnya kita mengumpulkan jasa kebajikan? Menurut kendaraan umum Buddhisme, metode mengakumulasi jasa kebajikan adalah dengan memiliki batin pelepasan, dengan merenungkan ketidakkekalan, dengan menghindari segala sebab dan kondisi yang akan memperkuat ego, dengan melibatkan semua sebab dan kondisi yang akan memperkuat kebijaksanaan kita. Dengan menghindari untuk tidak menyakiti makhluk lain, dan seterusnya. Di Mahayana, jasa kebajikan itu diakumulasikan dengan mempunyai welas asih terhadap makhluk hidup.

Singkat kata, jika Anda menginginkan pencerahan Anda membutuhkan kebijaksanaan. Jika Anda menginginkan kebijaksanaan, Anda harus punya jasa kebajikan. Dan untuk mendapatkan jasa kebajikan, menurut mahayana, Anda harus memiliki welas asih dan bodhichitta, keinginan untuk membawa semua makhluk mencapai pencerahan.